Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
63. Perasaan oma


__ADS_3

Abrisam semakin tegang dengan ucapan omanya.


'Gawat, Oma semakin curiga dengan aku. Orang sudah tua, bukannya berkurang, malah semakin bertambah daya ingatnya.' batinnya.


"Aneh gimana maksud Oma?"


Bukannya menjawab, Oma terlihat serius menatapnya. Semakin kesini, hati Oma semakin merasa tak tenang. Ia sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu, namun belum ada informasi yang di dapat.


"Sam, Oma berharap kamu tidak mengecewakan atau menyakiti hati Oma."


Hati Abrisam merasa tercubit dengan ucapan wanita sepuh yang ada di hadapannya saat itu. Sejak dulu Abrisam sangat menyayangi Oma dan opa nya. Karena mereka berdua yang memeliharanya selama ini. Mencurahkan segala kasih sayang dan kemewahan.


Namun, ketika Abrisam menemukan fakta bahwa kedua orang tuanya masih hidup, ia mulai menaruh rasa curiga pada Oma dan opa nya.


Apa yang tengah terjadi di antara mereka? Dan ia belum bisa menemukan jawabannya.


Hingga kecurigaan di hati Abrisam, juga menimbulkan kecurigaan di hati omanya. Namun, ia harus tetap berbuat baik padanya.


Abrisam beranjak dari duduknya, lalu menghampiri dan berdiri di samping omanya. Ia mengalungkan tangannya ke leher omanya.


"Oma, kenapa Oma bicara seperti itu? Mana mungkin Sam tega menyakiti hati orang yang sudah merawat sejak kami masih kecil. Oma sudah seperti orang tua bagi kami." ucapnya lembut lalu mengecup pipi omanya.


Ada perasaan yang mengharu biru di hati omanya. Sejak dulu perlakuan Abrisam memang baik padanya. Tapi meskipun begitu, Oma Sekar akhir akhir ini tetap tak bisa menghilangkan perasaan gelisah nya.


Setelah keduanya bercakap-cakap sebentar, Oma sekar memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menemui Abigail. Ia berpesan pada Abrisam agar terus bisa mengembangkan bisnisnya dengan baik.


Abrisam menganggukkan kepalanya, berusaha untuk menjalankan amanah dari omanya sebisa mungkin. Ia mengantarkan Oma sampai ambang pintu, lalu mencium punggung tangannya, sebelum wanita itu pergi.


'Oma, kasih sayang Oma pada kami begitu besar. Namun, kasih sayang dari kedua orang tua kami juga sama besarnya. Sam semakin bingung dengan apa yang terjadi di antara kalian. Semoga suatu saat kita bisa berkumpul dengan penuh kebahagiaan.' batin Abrisam sambil menatap kepergian omanya.


______


Sementara itu, setelah dari kantor Abrisam, Oma Sekar benar benar ke rumah sakit. Dengan di antar oleh sopir pribadinya, ia berangkat ke sana.


Sepanjang perjalanan, ia terus menatap ke arah luar dengan hati yang hampa.

__ADS_1


Entah kenapa, akhir akhir ini ia juga memiliki rasa tak mau berpisah yang dalam pada kedua cucunya. Sehingga sering kali mengunjungi keduanya yang tengah bekerja.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekian menit, mobil tiba di pelataran rumah sakit. Ia mengedarkan pandangannya melihat hiruk-pikuk luar.


Rumah sakit yang dulunya kecil, sekarang sangat luas dan megah. Lengkap dengan segala fasilitas nya. Serta menjadi rujukan berbagai rumah sakit daerah.


Dengan langkah anggun, Oma Sekar berjalan menuju ruang kerja Abigail. Seluruh karyawan membungkukkan badannya sebagai tanda hormat, ketika berpapasan dengannya.


Ceklek....


Pintu di buka Oma Sekar. Abigail sedikit kaget melihat omanya yang berdiri di ambang pintu. Ia langsung berdiri dari kursinya dan melangkah, menyambut hangat kedatangan omanya.


"Oma, tumben sekali Oma kesini?"


"Hem, mentang-mentang kembar, pertanyaan yang kalian ajukan pada Oma sama." jawab Sekar dengan raut wajah datar, lalu melangkahkan kakinya hendak duduk di kursi yang di pakai Abigail tadi. Sedangkan Abigail sedikit mengernyitkan dahi dengan ucapan Omanya.


Abigail segera menawarkan makanan, minuman atau sesuatu yang di butuhkan omanya, namun ia hanya menggeleng lemah.


"Kalau di tawarin apa saja Oma ngga mau, lalu Oma mau apa dong." Abigail terkikik untuk mencairkan suasana.


Abigail mengernyitkan dahi heran. Tidak seperti biasanya, omanya berkata seperti itu.


Abigail menghampiri oma, dan duduk bersimpuh di hadapannya sambil memegang tangan nya.


"Kenapa Oma bisa berbicara seperti itu? Abi juga sama, hanya memiliki Oma dan Sam saja di dunia ini. Mana mungkin tega menyakiti hati oma. Oma kan sudah seperti orang tua kandung Abi." kata Abigail sambil menatap wajah omanya.


'Apa kalian akan tetap menyayangi Oma, jika suatu saat kalian bertemu dengan orang tua kandung kalian cucu cucu ku? Ah, begitu panjang jarak yang terbentang dan memisahkan kalian. Mana mungkin mereka bisa bertemu. Andaikan bertemu, mereka juga ngga bakalan tahu.' batin Oma berusaha tenang.


"Kamu janji dengan Oma kan Bi?"


"Tentu saja oma."


Abigail menyunggingkan senyum hangat lalu memeluk omanya. Sebenarnya ia juga sangat menyayangi Oma, karena dialah yang mengasuhnya sejak kecil.


Namun hatinya sedikit goyah melihat fakta yang ada, bahwa kedua orang tuanya masih hidup. Dan sebentar lagi ia akan bertemu dengan mereka.

__ADS_1


'Masalah apa yang membuat mereka menjadi berpisah seperti ini? Padahal aku sangat ingin memiliki keluarga yang lengkap seperti lainnya.' batinnya.


"Oh iya, Oma pasti belum makan. Mumpung ini jam makan siang, bagaimana kalau kita makan bersama?"


Oma mengangguk menyetujui tawaran cucunya. Abigail segera menghubungi petugas bagian dapur, untuk mengantarkan makanan untuk Oma dan dirinya, lewat sambungan intercom.


Sambil menunggu makanan datang, Abigail merapikan berkas berkas di mejanya.


Dulu ketika ia menjabat sebagai dokter umum, tugasnya memang tidak begitu berat. Namun, karena Oma terus mendesaknya, akhirnya Abigail mau menerima jabatan sebagai direktur.


Entah apapun jabatan yang di sandangnya, rumah sakit itu tetaplah menjadi miliknya. Karena opanya telah mewariskan padanya.


Sama seperti Abrisam yang juga menerima warisan dari omanya, yaitu perusahaan.


Terdengar suara pintu di ketuk, Abigail segera mempersilahkan masuk. Seorang karyawan mengantar makanan, dan atas titah Abigail, ia meletakkan di atas meja tamu.


Setelah makanan terhidang, Abigail segera mengajak omanya makan bersama. Ia menggandeng dengan lembut tangan omanya.


"Mari makan Oma." Abigail menyuap makanan ke mulutnya. Dan omanya terus memperhatikan nya.


"Kok, Oma ngga makan? Apa perlu Abi suapi? Sebagaimana dulu Oma menyuapi Abi sewaktu kecil?"


Tanpa menunggu jawaban dari omanya, Abigail segera menyendok nasi yang sudah bercampur dengan lauk, lalu mendekatkan ke mulut omanya.


"Ayo Oma, buka mulutnya?"


Oma Sekar lalu membuka mulutnya dan melahap makanan itu. Matanya berkaca-kaca, karena merasa terharu dengan perbuatan cucunya. Sehingga ia semakin takut kehilangan mereka berdua.


Oma mengambil sendok, lalu bergantian menyuapi Abigail.


"Oma sangat sayang dengan kalian."


"Aku juga sangat sayang kok sama Oma." sekali lagi Abigail memeluk omanya dengan lembut.


Uang bisa di cari. Ilmu bisa di gali. Namun kesempatan untuk membahagiakan orang tua, atau orang yang mengasuh kita, tak kan pernah bisa terulang kembali.

__ADS_1


Meskipun Abigail tahu Omanya tengah menyembunyikan sebuah rahasia besar, ia tetap mengasihi omanya. Ia ingin berbakti pada omanya.


__ADS_2