
Flashback on
Husein adalah satu satunya anak pasangan bapak...... dan ibu Sekar. Ia adalah pemuda yang ramah, sopan dan dermawan serta segala predikat kebaikan lainnya menempel pada dirinya.
Oleh karena itu, kedua orang tuanya selalu memujinya dan membanggakannya pada siapa pun juga.
Husein berkuliah di salah satu universitas ternama di kotanya. Ia dan teman-teman aktivis kampus nya, sering mengadakan acara sosial, seperti pembagian sembako bagi warga kurang mampu di sekitar kota tempat tinggalnya, membuka sekolah gratis untuk anak anak jalanan, melakukan penggalangan dana untuk korban bencana alam dan masih banyak lagi hal lainnya.
Tentunya, ia melakukan semua hal itu secara diam-diam, karena kedua orang tuanya tidak setuju dia melakukan hal itu.
Bagi kedua orang tuanya, hidup butuh perjuangan untuk mencapai sukses. Sehingga mereka menganggap, orang yang miskin tidak mau berjuang, orang miskin adalah orang yang malas.
Suatu hari, saat ia dan teman-temannya baru saja selesai membagikan sembako pada orang kurang mampu di salah satu desa, ia melewati sebuah rumah yang jauh dari kata sederhana.
Ia berhenti sebentar dan berembug dengan teman-temannya. Menurut data yang ia bawa, penghuni rumah itu tidak tercantum dalam daftar penerima sembako, padahal menurut pengamatan nya, penghuninya layak mendapatkan bantuan.
Karena hanya 1 rumah yang belum menerima bantuan, teman-temannya duduk di pinggir jalan, sedangkan Husein berinisiatif mencari toko sembako di daerah terdekat. Ia bermaksud membelikan paket sembako untuk penghuni rumah itu.
Tak lama kemudian, ia sudah kembali menemui teman temannya sambil membawa paket sembako yang isinya lumayan banyak.
"Mentang-mentang anak orang kaya, kalau beli suka ngga kira-kira." celetuk salah satu temannya.
Husein membeli sembako dan melakukan aktifitas sosial lainnya, dengan menggunakan uang sakunya. Sedangkan uang pendapatan yang ia terima dari mengerjakan skripsi teman temannya, ia tabung.
"Kita sudah beberapa kali mengadakan baksos, tapi penghuni rumah itu tak pernah menerima, jadi aku sengaja lebihin sedikit isinya. Ayo segera ke sana, biar pulang nya ngga terlalu kemalaman." Husein melangkah melewati pelataran sempit menuju rumah itu.
Tok.. Tok....Tok
Salah satu teman Husein mengetuk pintu. Namun tak ada jawaban. Akhirnya mengulang lagi. Sampai semua mendengus kesal karena terlalu lama tidak di bukakan pintu.
__ADS_1
"Mungkin ini rumah kosong yang ditinggalkan oleh penghuninya, sejak tadi tak ada balasan sama sekali. Makanya wajar jika tidak mendapatkan bantuan."
"Iya, seharusnya tadi kita cek dulu ada orangnya ngga di dalam. Jadi percuma kan sudah terlanjur beli sembako."
Cuitan dari teman teman Husein kala itu. Husein merasa tidak enak dengan teman-temannya, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang.
Baru saja mereka berjalan selangkah, tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah, mereka saling bertukar pandang karena terkejut sekaligus merinding.
Namun keterkejutan itu tak berlangsung lama, karena akhirnya pintu itu terbuka. Seorang wanita bercadar menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Ia mengernyitkan dahi melihat pemuda dan pemudi yang mungkin seumuran nya berkunjung ke rumahnya.
"Maaf, cari siapa ya kakak semua?" suaranya terdengar begitu lembut dan enak di dengar. Membuat yang mendengar seakan terhipnotis.
Walaupun wajahnya tertutup cadar, dan hanya kelihatan sebagian saja, Husein dan teman temannya yakin jika wanita bercadar itu sangatlah cantik.
Terlihat dari manik matanya yang hitam namun meneduhkan, serta kulit wajahnya yang samar terlihat karena tidak tertutup cadar.
"Eh, tidak apa-apa kok mbak, boleh kami masuk ke dalam sambil bertemu dengan keluarga mbak..... Oh iya, nama mbak siapa?" tanya Husein.
"Saya Farhana, kalau boleh tahu, apa maksud kedatangan kakak semua kesini?"
"Kami ingin bersilaturahim sambil memberikan sedikit sembako untuk keluarga mbak Farhana." balas Husein.
Entah kenapa, dia menjadi yang paling semangat membalas ucapan Farhana.
"Maaf sebelumnya, tapi seperti inilah keadaan tempat tinggal kami. Mari silahkan masuk." balas Farhana dengan lembut sambil membuka pintu lebih lebar.
Farhana berjalan duluan dan para mahasiswa itu mengekor di belakangnya.
Para mahasiswa itu mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan yang memang tidaklah luas itu. Tidak ada perabotan berharga sama sekali. Ruang tamu dan tidur menjadi satu.
__ADS_1
Lalu pandangan mereka tertuju pada pasangan suami-istri yang berbaring di tempat tidur. Di dekatnya ada sebuah tikar pandan yang tidak terlalu lebar. Farhana mempersilahkan mereka duduk di atas tikar pandan itu. Dengan sedikit berdesakan mereka pun duduk.
"Abi, umi, ada tamu kakak kakak mahasiswa." ucap Farhana pelan.
Pasangan suami-istri itu pelan pelan membuka matanya dan mengedarkan pandangan ke arah para muda-mudi yang duduk berdesakan di atas tikar.
"Ma-af, a-pa bennar, kalian se-mua men-cari sa-ya?" ucap abinya Farhana dengan suara yang lirih dan berat.
"Iya pak, sebelumnya, maafkan jika kedatangan kami kesini sudah mengganggu waktu istirahat bapak dan ibu sekalian. Kami dari salah satu universitas di kota ini, datang kesini hanya ingin memberi paket sembako untuk keluarga bapak. Mohon di terima ya pak." ucap Husein mewakili teman temannya.
Ia bangkit berdiri dan meletakkan paket sembako itu di dekat meja, lalu ia kembali duduk dengan teman-temannya.
Dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Farhana, para mahasiswa itu melontarkan pertanyaan pertanyaan tentang kondisi kedua orang tuanya.
Mereka ikut merasa sedih dengan cerita Farhana, karena harus putus kuliah demi menjaga kedua orang tuanya yang tengah sakit keras. Abinya stroke, dan uminya menderita gagal ginjal. Namun tak punya biaya untuk berobat.
Husein terus memperhatikan ke arah Farhana ketika ia bercerita. Entah kenapa hati pemuda itu merasa tersentuh dengan sekelumit kisah kehidupan nya. Hatinya terdorong untuk bisa membantu lebih banyak lagi.
Waktu berjalan begitu cepat, mereka memutuskan untuk berpamitan pulang. Satu persatu mereka menyalami Farhana dan kedua orang tuanya. Farhana menangkupkan kedua tangannya di depan dada ketika bersalaman dengan lawan jenis termasuk Husein.
Sengaja Husein menjadi yang terakhir bersalaman. Ia meletakkan sebuah amplop coklat yang berisi uang di samping Farhana duduk.
"Semoga hal yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kamu sekeluarga." ucap Husein sambil menatap Farhana.
"Terima kasih kak." ucap Farhana sambil menundukkan pandangannya.
Lalu satu persatu dari mereka keluar rumah. Farhana mengantar mereka sampai ambang pintu. Setelah mereka sudah melewati pelataran, bergegas Farhana menutup pintu rumah.
Tanpa ia sadari ketika ia menutup pintu, Husein membalikkan badan dan menatap ke arah rumah itu cukup lama. Sejak saat itulah hati Husein di isi oleh satu nama yang terus melekat sampai sekarang.
__ADS_1