
Sementara itu, di malam yang sama, Lidya tengah membolak-balikkan badannya karena belum bisa tidur. Bayangan kejadian di hari ini senantiasa melintas di benaknya.
Ia masih tak menyangka, bisa mencintai lelaki yang tidak bertanggungjawab seperti Rico. Dan parahnya, dia adalah lelaki yang menghamili sahabat satu-satunya. Hal itu membuat Lidya kapok dengan yang namanya pacaran.
Ia pun juga tak menyangka, akan berani melakukan adegan gila yang bisa saja membahayakan keselamatannya. Dan, untung saja, rencana konyolnya itu berhasil.
Kini, ia pun merasa lega, dan ingin kembali menata masa depannya dengan baik. Belajar sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai yang lebih baik.
Lidya memutuskan, jika tidak akan lagi mau pacaran. Jika ada lelaki yang menyukainya, maka dia harus bersedia untuk mengatakan kepada kedua orang tuanya untuk melamarnya.
Pertemuan dengan kedua orang tua Abigail, juga sangat membekas di kepala. Walaupun dari segi penampilan, Lidya dan umi Farhana terlihat jauh berbeda, namun hal itu tidak menghalangi keduanya untuk berinteraksi dengan baik. Bahkan, Lidya juga sangat nyaman saat bersamanya.
"Sepertinya aku juga harus mulai belajar mengenakan hijab, agar terlihat lebih anggun, seperti umi Farhana dan Rosa." gumam Lidya.
"Hem, kalau gitu, sebaiknya besok aku pulang sekolah, mampir ke toko untuk membeli baju gamis." setelah bermonolog seorang diri, akhirnya Lidya tertidur.
______
Di salah satu rumah di ujung sana, tengah terjadi kehebohan. Ketika tengah asyik menonton TV, tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan pintu.
Dengan tergopoh-gopoh, ibunya Rico membukakan pintu. Matanya membulat, ketika melihat 2 orang laki-laki berseragam polisi berdiri di depan pintu.
"A_ada yang bisa dibantu pak?" tanyanya ragu.
"Selamat malam, apa benar ini rumah Rico Relando yang bersekolah di SMA Binus?"
"I_iya benar?" suara ibunya Rico semakin tercekat, jantungnya berdetak lebih kencang karena mendengar ucapan polisi yang menanyakan soal anaknya.
"Kami datang kesini untuk menangkap putra ibu, dan kami membawa surat penangkapannya. Ini." kata salah satu polisi, sambil menyerahkan selembar kertas pada ibunya Rico. Wanita itupun bergetar ketika menerima uluran kertas itu.
"Jadi, dimanakah putra ibu sekarang? Agar kami bisa segera membawanya ke kantor polisi."
"Tap_tapi pak.... Anak saya tidak mungkin melakukan hal sehina ini."
"Nanti bisa dijelaskan di kantor polisi bu, sekarang kami harus menangkap saudara Rico terlebih dahulu. Jangan menghalangi tugas kami, karena jika sampai hal itu terjadi, ibu juga akan mendapat hukuman yang sama dengan pelaku." ucap polisi satunya yang membuat ibunya Rico semakin bergetar.
__ADS_1
Akhirnya, ia hanya bisa pasrah membiarkan kedua polisi itu masuk ke rumahnya, untuk menangkap anak lelaki satu-satunya.
Polisi masuk ke dalam, dan tengah melihat Rico dan bapaknya sedang menonton pertandingan sepakbola.
"Saudara Rico." kata salah satu polisi dengan suara lantang. Sehingga membuat Rico dan bapaknya menoleh bersamaan.
Keduanya terkejut ketika melihat 2 orang laki-laki berseragam coklat sudah berdiri tak jauh dari tempat mereka gegoleran.
"Anda yang bernama saudara Rico Relando?" tunjuk salah satu polisi pada Rico.
Rico pun menganggukkan kepalanya pelan. Hatinya mulai bergetar. Ia teringat kejadian tadi siang. Ia tak menyangka jika benar-benar dilaporkan ke polisi.
"Mari kita ikut kami ke kantor polisi untuk proses penyidikan."
"Tap_tapi pak, saya, tidak bersalah." Rico berusaha menyangkal, sehingga suaranya semakin terdengar bergetar.
"Semuanya bisa anda jelaskan di kantor polisi. Sekarang mari ikut kami." ucap polisi dengan tegas.
"Tidak mau. Saya tidak bersalah." bantah Rico.
Bapaknya Rico yang belum mengetahui kesalahan anaknya, hanya bisa memandang Rico dan polisi secara bergantian.
"Memangnya apa yang sudah dilakukan anak saya pak?" tanya bapaknya dengan tegas.
"Anak bapak mencoba untuk melakukan tindakan todak senonoh dengan teman perempuannya."
"Apa! Itu pasti fitnah pak. Anak saya tidak mungkin melakukan hal itu."
"Tolong kerjasamanya, jika urusan ini ingin cepat selesai, saudara Rico harus ikut kami ke kantor polisi sekarang."
Kedua polisi itu segera menghampiri dan langsung menangkap Rico. Dan tentu saja, Rico langsung memberontak.
Namun badan Rico yang kecil jelas kalah dengan kedua polisi yang berbadan besar dan tegap. Ia di giring masuk ke mobil polisi, dan kedua orang tuanya hanya bisa menatap kepergian Rico dengan nanar.
"Pak, ayo kita susul Rico. Kasian dia sendirian." rengek ibunya sambil menggoyangkan lengan suaminya.
__ADS_1
"Eh, iya bu, ayo."
Bergegas mereka mencari kunci mobil. Setelah menemukannya, segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tatapan penuh curiga dari para tetangga tak mereka hiraukan.
Sepanjang perjalanan, ibunya Rico terlihat sangat gelisah. Ia tak ingin anak laki-laki satu-satunya tersandung masalah.
Sementara itu, sesampainya di kantor polisi, Rico segera di giring menuju ruang penyidikan. Ia duduk di depan seorang polisi yang siap melempar beberapa pertanyaan padanya.
Bukan Rico namanya jika tak pandai berkilah. Setiap kali polisi dengan tampang garang itu memberinya pertanyaan, Rico selalu berbelit-belit dalam menjawab. Hal itu dilakukan agar tidak ketahuan ia bersalah. Sehingga membuat polisi itu harus menggebrak meja.
"Pak! Jangan berani-berani nya menggebrak meja di depan anak saya. Dia masih sekolah. Apa bapak mau memberi contoh yang tidak baik pada anak saya?" seru bapaknya Rico dengan lantang, yang membuat polisi yang sedang melakukan interogasi mendongakkan kepalanya.
Terlihat Rico menyunggingkan senyum sinis. Merasa ada yang membela.
Dengan banyaknya bukti yang polisi terima, sebenarnya mereka bisa menyimpulkan jika Rico memang bersalah. Namun, semua harus berjalan mengikuti prosedur yang ada.
Sementara itu, dua orang polisi segera mengamankan kedua orang tua Rico agar tidak menggangu jalannya penyidikan.
Polisi itu pun kembali memberikan pertanyaan pada Rico. Kedua orang tua Rico yang melihat anaknya di cecar dengan banyak pertanyaan yang menyudutkan, hanya bisa menahan nafas yang memburu.
Akhirnya setelah melalui penyidikan yang cukup lama, Rico dimasukkan ke dalam tahanan, sampai saat jalannya persidangan.
Kedua orang tuanya kembali marah-marah pada polisi karena hal itu.
"Bapak, ibu, dan Rico, kalau kalian semua tidak bisa kooperatif pada pihak yang berwajib, maka jangan salahkan kami dengan menambah masa hukuman." tegas polisi, yang membuat mereka seketika terdiam.
Akhirnya Rico pun segera dimasukkan ke dalam sel tahanan. Namun, sebelumnya kedua orang tuanya meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan anaknya. Polisi mengabulkan permintaan itu.
"Rico, katakan yang sejujurnya pada bapak, apa benar semua tuduhan yang mengarah padamu? Jika kamu mengatakan yang sejujurnya dengan bapak, kemungkinan bisa jadi hukuman mu diringankan. Namun, jika kamu selalu mempersulit proses, bisa jadi apa yang dikatakan polisi itu benar adanya, hukuman mu akan semakin berat." bisik bapak.
"Bapak apa-apaan sih, anak kita tidak mungkin bersalah." sanggah ibunya.
"Diam Bu, semua ini bapak lakukan juga demi Rico. Rico cepat jawab. Ya atau tidak!"
Rico pun menganggukkan kepalanya sambil menunduk.
__ADS_1
"Apa! Jadi semua itu benar?" teriak ibunya, dan seketika ia pun pingsan.