Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
47. Berjanji pada ibu


__ADS_3

Setelah membersihkan diri, Rosa hendak tidur tapi di kejutkan oleh dering telepon nya, ia mengernyitkan dahi ketika melihat nama yang tertera.


"Assalamu'alaikum." sapa Rosa.


"Wa'alaikumussalam." balas Abrisam di seberang sana.


"Ada apa mas?"


"Oh, eh, aku cuma mau tanya, apa kamu sudah membuka barang-barang tadi?"


"Belum." balas Rosa singkat.


"Apa kamu tidak senang menerimanya?"


"Tadi aku hanya belum sempat membukanya. Dan aku juga masih tak percaya itu semua untuk ku."


"Ya sudah, kalau begitu, buka sekarang. Itu semua untuk mu, aku tidak akan memintanya lagi."


Setelah panggilan telepon terputus, Rosa membuka satu persatu barang seserahan yang di berikan oleh Abrisam.


Berulang kali ia di buat menganga, karena semua barang yang di berikan padanya memiliki kualitas yang bagus. Bahkan price tag nya pun masih tertera, dan harganya tentu saja tidak main-main.


"Hah, kenapa seroyal ini dia pada ku? Padahal ini semua kan hanya nikah siri." gumam Rosa.


Sementara itu, setelah menelpon Rosa, semalam suntuk Abrisam tak bisa memejamkan matanya sama sekali. Meskipun ia sudah berpindah tempat tidur di kamar Abigail. Pikirannya hanya ada Rosa dan Zaidan.


Dan, ketika menjelang subuh barulah ia bisa tidur. Lalu suara Abigail membangunkan nya dari alam bawah sadar, bahwa pagi sudah menyapa. Dengan malas Abrisam pun bangun dan memulai aktifitas nya.


Karena jam tidur yang sangat singkat, membuatnya merasa ngantuk, sehingga tertidur di mejanya sampai ia bermimpi. Dalam mimpinya ia berada dalam sebuah kamar bersama wanita cantik bergaun merah, dan ia langsung mendekapnya erat. Mimpi yang sama ketika ia berada di pesawat bersama Rosa waktu itu.


"Pak....Pak...."


Berulang kali asisten nya membangunkan nya, hingga membuat Abrisam tersentak kaget, dari mimpi indahnya.


"Apa?" sentak Abrisam murka, dengan mata yang memerah menahan kantuk karena bangun mendadak. Membuat asisten nya semakin ketakutan.


"I_ini pak, berkas laporan yang bapak minta tadi."


"Langsung taruh di meja saya kan bisa, kenapa harus membangunkan saya?"


"Em, tidak hanya itu saja pak. Ada beberapa berkas penting yang harus bapak tanda tangani juga, ini." dengan tangan bergetar asisten nya menyerahkan beberapa map ke meja Abrisam.

__ADS_1


"Hem, kamu boleh keluar." Abrisam pun mengibaskan tangannya ke arah asisten sehingga ia langsung keluar.


"Ini hanya pernikahan siri, tapi kenapa aku tak bisa berhenti memikirkannya?" gumam nya sambil menyugar rambutnya dengan frustasi.


_____


Sementara itu di tempat lain, yakni rumah Rosa. Setelah hari pernikahan nya dengan Abrisam, ia terlihat kembali menjalani aktifitas nya seperti biasa. Menjadi seorang ibu rumah tangga yang produktif di usianya yang masih terbilang muda.


Ia membantu mengerjakan tugas rumah, mengurus Zaidan sambil tetap menjalankan usahanya yang kian menunjukkan hasil yang signifikan.


Bahkan seluruh tetangga nya kini sudah tahu bahwa, dirinya menjual kosmetik yang dapat membuat wajah jadi lebih cerah. Tentu saja mereka semua percaya pada Rosa, karena melihat sendiri perubahan pada kulit Rosa yang kian hari bertambah bersih, segar, dan terlihat semakin cantik.


Mereka yang dulu menghina Rosa kini begitu memujinya. Apalagi semenjak ia hamil dan melahirkan, buah apelnya semakin terlihat besar dan padat, meskipun sudah tertutup jilbab. Badannya menjadi semakin indah bentuknya karena setiap pagi ia melakukan olah raga walaupun hanya ringan. Benar benar semakin cantik dan menawan.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Rosa segera menyiapkan beberapa barang miliknya serta milik Zaidan yang akan di bawa besok ke Riyadh.


Setelah selesai, barulah ia duduk di tepi tempat tidurnya sambil menghela nafas panjang. Seakan masih tak percaya dengan sandiwara yang ia mainkan saat ini.


Tak berselang lama, handphonenya bergetar, sebuah nama yang baru ia pikirkan saat ini, Abrisam.


"Assalamu'alaikum." sapa Rosa ketika benda pipih itu sudah menempel di sisi telinganya.


"Ada apa mas?"


Abrisam sangat bahagia ketika Rosa memanggilnya dengan sebutan mas, merasa lebih romantis menurutnya.


"Em, aku cuma mau bilang, siapkan barang-barang mu, besok kita akan berangkat ke Riyadh."


"Iya, ini baru saja aku siapkan."


Hening sekian detik, keduanya sama sama gugup mau bertanya atau bicara apa lagi. Sampai akhirnya Rosa memberanikan diri bertanya.


"Ada yang ingin di sampaikan lagi mas?"


"Oh, eng_enggak ada." balas Abrisam yang terdengar gelagapan.


"Baiklah kalau begitu, aku kembali mengerjakan pekerjaan ku. Assalamu'alaikum." balas Rosa lalu mengakhiri panggilan telepon.


Tut...Tut...Tut


Suara nyaring panggilan terputus menyadarkan Abrisam.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi semakin gugup seperti ini? Harusnya aku bisa tanya dia sedang sibuk apa, atau tanya kabar nya dan Zaidan, karena setelah menikah aku belum mengunjunginya lagi." gerutu Abrisam kesal.


_____


Akhirnya hari Minggu yang di nantikan pun tiba.


Abrisam sudah memasukkan semua barang pentingnya dalam 1 tas besar, karena ia pikir tak akan lama berada di Riyadh. Hanya bertemu dengan mantan majikan Rosa, lalu pulang.


"Kalian mau kemana?" tanya oma ketika melihat penampilan kedua cucunya yang sudah sangat rapi dan terlihat Abrisam menjinjing 1 tas.


"Abi mau mengantarkan Sam ke bandara oma. Sam ada pekerjaan di luar, mungkin beberapa hari di sana. Sam pamit ya oma." jawab Abrisam duluan.


"Baiklah, hati-hati. Jangan lupa beri kabar pada oma." balas omanya, tanpa curiga sedikit pun.


"Siap oma." seperti biasa Abrisam memberi hormat ke omanya.


Keduanya bergiliran mengecup tangan oma Sekar lalu memeluknya sebentar.


Di dalam mobil yang mulai melaju, barulah keduanya terkikik.


"Semoga oma tidak curiga ya." kekeh Abrisam.


Tak berselang lama, akhirnya mobil sudah sampai di depan rumah Rosa. Hanya Abrisam yang turun, sedangkan Abigail tetap berada di dalam mobil.


Tok...Tok...Tok


Abrisam mengetuk pintu dengan keras, seperti sudah tak sabar.


Rosa yang berada di dalam kamar segera keluar ketika mendengar suara ketukan pintu khas penagih hutang itu.


"Silahkan masuk." ucap Rosa.


Sementara Abrisam masih terbengong menatap Rosa yang menurutnya semakin cantik, padahal baru 3 hari tidak bertemu.


"Eh, iya." balas Abrisam sambil meringis, lalu melangkahkan kakinya masuk ke ruang tamu.


"Aku keluar kan barang barang ku dulu ya." pamit Rosa yang langsung melesat pergi ke kamar. Dan tak berselang lama ia sudah keluar menggendong Zaidan sambil menjinjing 1 tas besar berisi barang miliknya dan Zaidan.


"Tunggu sebentar, aku pamit sama ibu dulu ya." lagi-lagi Rosa langsung melesat pergi ke dapur untuk berpamitan pada ibunya sebelum Abrisam memberi jawaban.


'Kenapa dia berkelebat kesana-kemari seperti hantu sih?' batin Abrisam yang heran dengan tingkah Rosa yang selalu pergi dan muncul tiba-tiba, entah itu nyata atau dalam angannya.

__ADS_1


__ADS_2