
Satu persatu jama'ah keluar dari masjid, begitu pula dengan keluarga abi Husein. Ia menghampiri umi Farhana yang lagi-lagi menggendong Zaidan, karena Rosa belum selesai berdo'a.
"Sayang, aku sangat bersyukur sekali pada Allah. Setelah sekian tahun kita menanti, akhirnya kita bisa bertemu dengan anak kita. Aku juga ngga sabar ketemu dengan Abigail." ucap Farhana dengan binar bahagia.
"Aku pun sama sayang. Maafkan papa dan mama ku ya sudah memisahkan kita dengan anak-anak kita."
"Sudah berapa kali kamu bicara seperti itu sayang? Aku tak kan pernah membenci mereka. Karena mereka adalah orang tua ku juga. Mereka juga yang merawat anak-anak kita dengan baik, sehingga menjadi orang-orang yang berguna. Tak hanya itu saja, mereka juga memberi nama yang bagus pada anak kita. Lantas dengan alasan apa aku harus marah?"
"Bertahun-tahun hati mu tak pernah berubah, meskipun ada yang menyakiti mu, kamu selalu saja baik. Membuat ku tak ingin kehilangan mu sayang. Dan semakin membuat ku jatuh cinta setiap harinya." Abi Husein merengkuh Farhana. Sehingga membuat ia tersenyum di pelukannya.
"Jika keburukan di balas keburukan, niscaya tidak akan ada habisnya sayang. Kita sudah punya cucu sayang. Apakah akan terus-menerus mengumbar kata-kata mesra seperti itu?" kekeh umi Farhana di akhir kalimat nya.
"Ehem"
Deheman Abrisam mengejutkan keduanya yang tengah berpelukan mesra. Abi dan uminya seketika menoleh ke arahnya yang tengah meringis.
"Ternyata kamu hobi memberi kejutan ya Sam?"
Abrisam menaikkan satu alisnya menanggapi ucapan abinya. Mereka pun bercakap cakap sambil menunggu Rosa yang belum juga keluar.
Dan setelah sekian menit menunggu, akhirnya Rosa keluar, Abrisam langsung mencecarnya dengan pertanyaan.
"Kenapa di dalam lama sekali? Apa kamu terlalu banyak mendoakan kebaikan untuk suami mu ini? Atau kamu juga mendoakan seluruh orang di muka bumi ini? Atau justru malah mengantuk sayang?" Rosa melongo melihat Abrisam melempar pertanyaan yang bertubi-tubi seperti itu. Sehingga membuat mereka terkekeh.
"Ya Allah Sam, ternyata kamu cerewet sekali." kekeh umi Farhana sambil menggelengkan kepalanya. Biasanya yang cerewet itu wanita, tapi ini kebalikan nya.
"Apa Abigail juga seperti kamu cerewet nya?" timpal Abi Husein.
__ADS_1
"Dia justru lebih parah dari aku bi." sebuah jawaban yang kembali membuat orang tuanya terkekeh.
Abrisam juga heran pada dirinya sendiri. Tak biasanya ia secerewet itu. Tapi sekarang ia tampak lebih cerewet dari seorang ibu-ibu.
Apa memang berdekatan dengan wanita bisa ketularan energi cerewet nya? Ia pun tak tahu.
Siang semakin terik. Abi Husein memutuskan untuk makan siang terlebih dulu sebelum pulang. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju restoran terdekat.
Hanya 10 menit, mereka sudah memasuki pelataran restoran. Untuk yang kesekian kalinya Rosa benar-benar takjub dengan bangunan restoran yang tampak sangat bagus dan mewah. Itu baru luarnya, belum dalamnya.
Mereka segera berjalan masuk dan memesan ruang VIP. Karena abi Husein tak ingin wajah cantik istrinya di lihat oleh orang lain selain dirinya dan anaknya.
Beruntung masih ada 1 ruang VIP yang kosong, mereka pun segera menuju ke sana. Tapi Rosa sengaja memelankan jalannya sambil memperhatikan design interior restoran dengan seksama. Dulu ia hanya bisa menyaksikan gedung pencakar langit, restoran mewah dan mobil mobil bagus lewat TV. Tapi sekarang, ia bisa melihat semua itu dari jarak yang sangat dekat.
"Kapan kapan aku akan mengajak mu dan keluarga kecil kita, kesini lagi. Atau kita bulan madu berdua ke tempat tempat indah." ucap Abrisam penuh percaya diri sambil merangkul bahu Rosa.
Semua memegang buku menu makanan, tapi Rosa bingung dengan apa yang akan ia pesan. Apalagi ketika melihat harga yang tertera, seketika ia menelan saliva. Harga satu porsi makanan setara dengan uang dapur 1 bulan. Rasa laparnya seketika menguap.
"Rosa, kamu mau makan apa sayang?" tanya Abrisam dengan lembut.
"Em, apa saja yang penting murah." jawabnya dengan polos. Yang membuat mereka terkekeh.
Meskipun saat ini, Rosa berada dalam lingkungan orang kaya, namun tak serta merta membuatnya lalai, lalu memanfaatkan keadaan.
Ia tetaplah Rosa yang dulu, selalu hemat dalam segi keuangan. Karena ia memang berasal dari keluarga menengah ke bawah. Jauh berbeda dengan Abrisam, yang senantiasa bergelimang harta.
"Apa kamu meragukan kekayaan suami mu? Sehingga harus memesan makanan yang termurah? Hem."
__ADS_1
Rosa tak tahu harus menjawab apa perkataan suami sirinya itu. Ia pun pasrah dengan menu makanan yang di pilihkan untuknya.
Sedangkan abi dan umi, menyaksikan keduanya dengan tatapan yang heran. Rosa dengan tingkahnya yang polos khas gadis desa, sedangkan Abrisam memang khas dengan gaya orang kota yang kaya dan perlente.
Meskipun begitu, umi Farhana mampu melihat cinta yang ditunjukkan oleh anaknya pada Rosa, mantan pembantunya.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka bercakap-cakap. Sebagai sesama pebisnis, abi Husein banyak memberikan wejangan pada Abrisam terkait usaha yang saat ini di lakoninya. Tentunya agar usaha nya itu dalam posisi yang stabil atau justru bisa meningkat secara signifikan.
Setelah sekian menit berlalu, 2 orang pelayan datang membawakan menu makanan pesanan mereka. Rosa membulatkan matanya ketika melihat satu persatu makanan yang di letakkan di atas meja. Bukan hanya 4 porsi tapi sekitar 15 porsi dan 1 porsi jumbo. Yang terdiri dari menu appetizer, main course, serta dessert. Tak ketinggalan dengan minuman nya.
'Ya Allah, sepertinya gaji ibu di pabrik tak kan cukup untuk membayar makanan sebanyak ini. Sudah harganya mahal, isinya di piring juga cuma sesendok.' batin Rosa yang sangat heran.
"Ayo sayang di makan, jangan cuma di liatin saja." ucap Abrisam sambil menyodorkan sepiring appetizer.
"Apa kamu habis puasa setahun mas? Kenapa memesan makanan sebanyak ini?" lagi-lagi kepolosan Rosa mengundang tawa mereka.
"Aku sengaja memesan makanan sebanyak ini untuk kamu habiskan sayang. Kamu kan baru menyusui." ucap Abrisam sambil menaikkan satu alisnya serta menyunggingkan senyum.
Sementara Rosa justru kembali membulatkan matanya, seakan tak percaya dengan apa yang di ucapkan suaminya. Ia pun segera menyendok nasi kebuli yang di atasnya terdapat tumpukan daging yang masih mengepulkan asap dan aromanya menguar menusuk hidung.
Abrisam yang melihat hal itu mengerutkan keningnya. Pasalnya Rosa mengambil menu main course. Ia pun segera menggeser piring itu dan menggantinya dengan menu appetizer.
Rosa mengerutkan keningnya, karena Abrisam menggantikannya dengan makanan yang terlihat seperti bubur bayi.
"Sebelum kamu makan nasi, kamu harus makan ini terlebih dulu. Menu appetizer ini namanya humus, terbuat dari kacang arab. Setelah habis baru kamu boleh makan nasi." ucap Abrisam menjelaskan.
'Ya Allah Gusti, mau makan saja kenapa seribet ini?' keluh Rosa dalam hati.
__ADS_1