
Tak berselang lama, Rosa serta ibunya sudah berada di ruang tamu.
"Ibu, titip jaga anak dan cucu ibu pada mu ya nak selama berada di negeri orang." ucap bu Susi penuh harap.
"Iya bu, Sam janji akan menjaga keduanya dengan baik." ucap Abrisam dengan penuh keyakinan.
"Terima kasih."
"Kalau begitu, saya pamit sekarang ya bu." Abrisam mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh bu Susi.
"Rosa pamit ya bu." ia pun juga mengecup punggung tangan ibunya sambil berpelukan. Bu Susi mengecup Zaidan berulang kali sebagai obat rindu karena bakal tidak bertemu beberapa hari.
Setelah berpamitan, Rosa segera menjinjing tas nya, tapi Abrisam yang melihat itu langsung membantu membawakan tas nya. Yang membuat Rosa merasa berbunga-bunga. Sedangkan ibunya yang melihat hal itu, semakin berharap bahwa kelak Abrisam benar-benar akan menjadi pasangan Rosa sehidup semati.
Abrisam membukakan pintu belakang, dan Rosa pun segera naik, di susul oleh dirinya. Semua yang berada di dalam mobil melambaikan tangan ke arah bu Susi, lalu mobil pun mulai melaju pelan.
Selama dalam perjalanan, Zaidan terus berceloteh dengan riang. Abrisam pun ikut menanggapi celotehannya. Ketiganya seperti keluarga kecil yang bahagia. Dan Abigail hanya bisa geleng-geleng kepala, karena merasa seperti tak di anggap.
Tak terasa, akhirnya mereka sampai di bandara. Abrisam dan Rosa segera turun, sedangkan Abigail harus segera ke rumah sakit.
Rosa menggendong Zaidan yang kini tertidur lelap, sedangkan Abrisam membawa 2 tas besar. Ketiganya segera berjalan menuju ke garbarata pesawat, karena pesawat sebentar lagi akan lepas landas.
"Minum dulu, kamu pasti haus." tawar Abrisam menyodorkan botol air mineral pada Rosa.
"Terima kasih." ucap Rosa sambil menerima, dan bersegera meminumnya, karena memang benar-benar kehausan.
Tak lama kemudian, pesawat pun mulai bergerak pelan, lalu melesat tinggi.
Keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing, karena bingung mau berkata apa lagi.
Walaupun Abrisam di kelilingi oleh banyak perempuan cantik nan seksi, tetapi hanya Rosa yang bisa menggetarkan hatinya, termasuk ketika duduk berduaan dalam jarak yang sedekat itu.
Sedangkan Rosa, berkali-kali harus menyingkirkan pikiran yang tiba-tiba melayang, membayangkan dirinya selalu bersama lelaki yang ada di dekatnya saat ini.
Karena lamanya perjalanan, membuat Rosa mulai terserang kantuk, sehingga dengan mudah ia terlelap. Abrisam yang masih terjaga, memandangi wajah Rosa dengan puas, selama ia tidur.
__ADS_1
'Semakin di pandang, semakin cantik.' batin Abrisam sambil tersenyum. Abrisam memberanikan diri menyentuh tangan Rosa pelan.
'Haduh, baru pegang tangannya saja sudah membuat ku panas dingin.' batinnya lagi.
Ia pun semakin berani hingga mengecup tangan Rosa yang masih ia pegang, dan di jari manis nya terselip cincin berlian indah pemberiannya.
Tiba-tiba Zaidan merengek, Rosa pun tergeragap bangun dan menyusuinya. Sementara itu ia tidak melihat Abrisam yang tadi duduk di sampingnya. Sehingga batinnya bertanya tanya, dimana ia sekarang.
Abrisam membulatkan matanya, ketika Rosa menutupi Zaidan dengan jilbabnya.
"Kenapa dengan Zaidan?" ucap Abrisam yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Rosa.
"Eh, dia baru minum asi mas." ucap Rosa sambil memperbaiki letak duduk dan jilbabnya agar lebih sempurna menutup Zaidan.
Mendengar jawaban Rosa, justru membuat otak Abrisam traveling kemana-mana. Pikiran nya kembali teringat akan buah apel milik Rosa yang besar dan padat, sehingga membuat celananya semakin sesak.
Seorang pramugari mengejutkan Abrisam ketika sudah saatnya makan siang, dan ia menyodorkan makanan pada nya. Abrisam pun segera menerima makanan untuk dirinya dan Rosa.
"Makanlah dulu."
"Gimana bisa? Aku baru menyusui anak ku." balas Rosa sambil tersenyum.
"Aku suapin kamu ya." dengan gerak refleks Abrisam langsung membuka sendok yang terbungkus tisu. Hati Rosa bergetar melihat perlakuan Abrisam padanya.
"Hak..." pinta Abrisam pada Rosa untuk membuka mulutnya, karena ia sudah menyodorkan sendok padanya.
Rosa menatap Abrisam, karena lelaki itu memperlakukannya dengan istimewa.
"Apa pacar mu ngga akan marah kalau kita berdua bersikap seperti ini?" celetuk Rosa tiba-tiba yang membuat Abrisam menghela nafas panjang. Bahkan sesendok nasi itu ia tarik kembali dan meletakkan di piring.
"Aku sama sekali belum pernah berpacaran, apalagi sampai punya pacar. Begitu juga dengan Abigail."
Rosa terkikik kecil mendengar penuturan Abrisam yang polos itu.
"Masa, ngga ada wanita yang mau jadi pacar orang setampan kamu."
__ADS_1
"Banyak yang menyukai ku, tapi cuma kamu yang berhasil membuat ku menikahi mu." balas Abrisam sambil menoleh ke arah Rosa.
Mendengar ucapan Abrisam membuat Rosa tersentuh bahagia bercampur bingung. Bahagia karena merasa teristimewa, bingung karena ia di nikahi karena ada unsur tertentu. Namun ia juga tidak enak, karena dengan menikahinya, bisa jadi menjauhkan Abrisam dari jodoh nya.
Sementara Abrisam, ia tak tahu kenapa bisa berbicara seperti itu. Ia takut jika ucapannya menyinggung Rosa.
"Eh, maaf maaf, lupakan saja ucapan ku tadi. Ayo di makan." ucap Abrisam sambil kembali mendekatkan sendok nasi pada Rosa.
Walau sedikit ragu, akhirnya Rosa membuka mulutnya. Abrisam pun menyuapinya hingga habis. Tak lupa, ia membersihkan sisa makanan yang menempel di mulut Rosa.
'Kenapa kamu seperhatian ini pada ku? Yang cuma istri siri.' batin Rosa kesal.
"Eh, apa Zaidan sudah kembali tidur? Kenapa diam saja?" ucap Abrisam mengalihkan perhatian Rosa, karena sejak tadi ia terus memandang nya.
Rosa segera menyingkap jilbabnya, dan melihat Zaidan sudah kembali tidur, dengan peluh yang membasahi wajahnya. Abrisam yang melihat, segera mengambil tisu dan mengelap wajah Zaidan pelan.
Pluk...
Asi Rosa terlepas dari mulut Zaidan, yang membuat Abrisam bergetar hatinya, karena melihatnya dari jarak yang dekat, tangannya pun juga dekat dengan benda itu.
'Astaga, apa yang aku lakukan?' batin Abrisam panik, tapi pandangannya masih mengarah pada kantung asi milik Rosa.
Rosa pun segera merapikan jilbab dan bajunya karena sedari tadi Abrisam terus memandang ke arah benda berharga nya.
'Ternyata semua laki-laki sama saja, itu terus yang di lihat.' batin Rosa kesal.
"Apa kamu ngga lapar mas? Kenapa makanannya ngga segera di makan?" ucap Rosa mengalihkan perhatian.
"Iya aku sangat lapar." bergegas Abrisam segera menghabiskan makanannya.
Setelah selesai makan, Abrisam menggendong Zaidan, karena sejak tadi, tangan si kecil terus melambai ke arahnya.
Perjalanan panjang itu akhirnya selesai juga, dengan perasaan yang bercampur aduk hinggap di hati pasangan suami-istri siri.
Bergegas mereka berjalan menuju garbarata. Dengan hati-hati Abrisam membantu Rosa turun. Karena ia takut gamis lebar Rosa terinjak, dengan gerak refleks Abrisam menyingkap bawah gamisnya.
__ADS_1
"Eh, apa yang kamu lakukan mas?" pekik Rosa terkejut.
"Aku, hanya memegang gamis mu, takut terinjak. Aku ngga mau kamu dan Zaidan terjatuh." lagi-lagi jawaban Abrisam membuat Rosa terbang melayang.