
"Kalian sudah datang rupanya." ucap wanita sepuh yang membuat Rosa dan Lidya kembali tegang.
"Iya Oma." balas si kembar kompak.
Oma Sekar menghampiri mereka dengan wajah datar seperti biasanya. Si kembar memeluk dan mengecup pipi oma seperti biasanya. Sedangkan kedua gadis itu tampak mematung.
"Kalian tidak mau bersalaman dengan ku?"
Lidya dan Rosa saling beradu pandang, lalu memaksakan diri untuk tersenyum, sebelum akhirnya keduanya bersalaman dengan Oma Sekar.
Oma Sekar menyunggingkan sedikit senyum, merasakan tangan kedua gadis itu yang sedingin es. Ia memaklumi hal itu. Karena mungkin saja keduanya masih merasa takut sekaligus trauma.
"Kita langsung ke ruang makan. Kedua orang tua kalian sudah menunggu disana."
Oma Sekar berjalan mendahului mereka.
Di ruang makan, ternyata memang benar, Husein dan Farhana sudah berada di sana. Dan kini tengah mempersiapkan makanan. Keduanya tampak terkejut, melihat kedatangan kedua gadis itu.
Rosa dan Lidya segera bersalaman dengan keduanya. Lalu Oma Sekar menyuruh mereka untuk duduk di kursi yang telah disediakan.
Oma Sekar duduk di kursi ujung. Farhana, Rosa dan Lidya duduk berjejer. Sedangkan Husein, Abrisam dan Abigail duduk berjejer. Mereka duduk berhadapan.
"Langsung saja kita mulai makannya. Nanti keburu dingin, ngga enak." ajak Oma Sekar.
Ia mendahului menuang nasi ke piringnya. Setelahnya dilanjutkan oleh Husein ,dan anggota keluarga yang lain. Tampak Lidya dan Rosa ragu untuk mengambil makanan.
"Kalian jangan takut ambil makanan. Tidak ada racun didalamnya. Karena ini semua yang masak ibunya si kembar." ucap Sekar, yang melihat kekhawatiran di wajah kedua gadis itu.
Akhirnya, Lidya dan Rosa mengambil sedikit makanan. Mereka pun mulai menyuap makanan masing-masing.
"Ayo tambah lagi, jangan malu-malu. Anggap saja di rumah sendiri." ucap Oma Sekar pada mereka.
Sajian yang terhidang memang begitu memanjakan lidah. Namun, terasa kurang bisa menikmati, karena melihat wajah Oma Sekar yang datar.
__ADS_1
Setelah mereka menghabiskan makanannya. Oma Sekar berdehem keras. Yang membuat para wanita itu menunduk, tak berani menatapnya. Sedangkan Husein dan keduanya anaknya justru tengah menatapnya dengan serius.
"Ada sedikit yang mau Oma sampaikan." ucap Sekar mengawali pidato pada malam hari itu.
'Kenapa ngga langsung saja sih. Bikin aku deg-degan saja.' keluh Lidya dan Rosa dalam hati.
Sekar menghembuskan nafas panjang berulang kali untuk menghilangkan kegugupannya. Entah kenapa, baru kali ini ia merasa sangat gugup.
"Terima kasih Oma ucapkan pada Rosa dan Lidya, karena telah menolong Oma. Padahal Oma telah berbuat yang tak baik pada kalian. Mungkin jika kalian tidak menolong, Oma bisa mati. Dan tidak bisa melihat anak dan cucu Oma lagi.
Aku juga mengucapkan terima kasih padamu Farhana. Karena telah merawat ku selama sakit. Dan memasak makanan yang sangat lezat untukku.
Husein, mama juga berterima kasih padamu. Karena berkat kegigihan mu mempertahankan istrimu, membuat mama sadar atas kesalahan mama selama ini.
Terima kasih Oma ucapkan untuk kalian, karena selalu membalas perbuatan buruk Oma dengan kebaikan.
Apakah kalian mau memaafkan kesalahan Oma yang menggunung? Agar kelak ketika aku meninggal, bisa meninggal dengan tenang."
"Mama." lirih Husein.
Lidya dan Rosa yang melihat hal itu juga ikut menitikkan air mata.
'Astaga, mengharukan sekali mereka. Sudah mirip sinetron di televisi.' batin Lidya.
"Terima kasih, anak dan cucu-cucu ku." ucap Sekar dengan suara yang parau, karena menahan tangis.
Sekian menit mereka habiskan untuk menangis bahagia. Setelah hati kembali netral, mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Mama minta padamu Husein, untuk bekerja disini. Abrisam kamu kembali memimpin kantor. Dan Abigail kembali mengurus rumah sakit.
Sam, kamu harus resmikan pernikahan mu dengan Rosa secepatnya. Dan kamu Abi, segera lamar Lidya. Kalau perlu, sekalian tentukan hari pernikahan kalian."
Lidya dan Rosa membulatkan matanya. Takut jika salah dengar.
__ADS_1
Pasalnya, dari mana Oma Sekar tahu jika Rosa dan Abrisam telah menikah. Padahal itu adalah sesuatu yang rahasia. Sedangkan Lidya, ia tak habis pikir dengan Oma Sekar yang suka seenaknya sendiri.
'Aku kan masih sekolah, kenapa di suruh menikah? Apalagi menikah dengan lelaki yang umurnya jauh di atas ku.' gerutu Lidya dalam hati.
Abrisam tampak menyunggingkan senyum, akhirnya tak perlu menyembunyikan pernikahannya lagi. Tentu saja ia menyambut baik ucapan Omanya itu. Sedangkan Abigail, ia heran kenapa omanya bisa tahu tentang isi hatinya pada Lidya.
Dokter itu kini tengah menatap Lidya yang tampak mengerucutkan bibirnya, seolah-olah tak mau jika di lamar atau bahkan menikah.
Husein dan Farhana memandang anak-anak mereka dengan penuh kebahagiaan.
"Terima kasih atas restunya Oma. Setelah ini, Sam akan segera berbicara dengan ibunya Rosa. Beliau pasti senang mendengar hal ini. Kamu mau pernikahan kita diresmikan kan Ros."
Rosa tampak tersipu malu, sehingga ia menundukkan kepalanya.
"Diamnya seorang wanita, itu tandanya mau Sam." ucap Sekar lagi. Yang memang mewakili isi hati Rosa.
"Abi, kenapa kamu tak bertanya dengan Lidya? Mumpung kita berkumpul disini, ayo tanyakan." desak Oma Sekar, setelah hening sekian menit.
Abigail tampak gugup, hingga berdehem berulang kali. Lidya menatapnya sambil mengernyitkan dahi.
'Eh eh eh, kok kak Abi mau mau aja sih di suruh sama omanya. Pliss, jangan katakan kalau mau melamar ku. Aku masih sekolah kak.' doa Lidya dalam hati. Bahkan ia sampai memejamkan matanya. Abigail yang melihatnya sedikit terhibur hatinya.
"Lid, Lidya. Kakak, kakak, sebenarnya kakak mau mengatakan ini sejak lama. Mau kah kamu menjadi istri kakak?" ucap Abigail dengan gugup. Setelahnya ia menghembuskan nafas panjang, karena lega.
"Apa!" pekik Lidya dengan mata terbuka lebar.
"Lidya ngga salah dengar? Tapi, aku takut kak. Secara, Lidya masih sekolah, dan kakak itu umurnya terlalu jauh di atas ku. Nanti kalau malam pertama gimana, itu yang paling aku takutkan." cerocos Lidya.
Gadis itu seakan lupa bahwa ada orang dewasa lain yang mendengarkan setiap perkataannya. Sehingga mereka yang mendengar justru terkikik geli. Karena perkataannya, tidak melewati proses seleksi terlebih dulu. Bahkan Abigail sampai memejamkan matanya, menyadari kekonyolan pujaan hatinya.
Dan Lidya baru menyadari jika sudah lepas kendali, ketika mendengar suara cekikikan dari mereka. Seketika ia menutup mulutnya.
'Astaga, ini mulut kenapa asal jeplak aja sih kalau ngomong.' rutuk Lidya dalam hati.
__ADS_1
"Ehem." Lidya berdehem beberapa kali untuk menghilangkan perasaan malunya.