
Terdengar suara dering handphone, yang bertepatan setelah Farhana menyelesaikan sholat malamnya.
Ia mengernyitkan dahi, melihat nomor baru yang tertera. Dengan ragu, ia mengangkat telepon itu.
"Halo, halo."
Umi Farhana mengernyitkan dahi, sambil menjauhkan handphone itu dari telinganya. Ia merasa tidak kenal dengan pemilik suara itu.
'Apakah ini modus penipuan.' batin Farhana.
Ia menarik nafas panjang, lalu mengucapkan basmalah. Setelahnya, ia kembali mendekatkan handphonenya.
"Iya halo." balas Farhana singkat.
"Saya mau mengabarkan, kalau ini ndoro Sekar tengah di rawat di rumah sakit Cipto. Karena kakinya di patuk ular. 2 orang yang menolongnya juga masih disini."
Mendengar nama mertuanya di sebut, bergetar hati Farhana. Dari suaranya, ia tahu jika lelaki itu tidak berniat membohonginya.
"Terima kasih pak, kalau begitu saya segera menyusul kesana sekarang. Tahan dulu orang yang menolong. Saya ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya."
Setelah itu, panggilan pun terputus.
Farhana menggoyangkan tubuh suaminya, berusaha membangunkannya.
"Ada apa sayang? Kamu selalu saja mendahului ku dalam mengerjakan sholat malam." ucap Husein sambil menggeliat, lalu tersenyum.
"Dengarkan aku baik-baik mas." ucap Farhana dengan serius.
Husein pun terkejut dengan ucapan istrinya yang terlihat tak biasa. Apalagi di waktu malam.
"Apa ada sesuatu yang serius?" Farhana mengangguk.
"Baru saja aku mendapat kabar, katanya mama di rawat di rumah sakit. Karena terkena gigitan ular."
Husein seketika terduduk. Segala hal yang keluar dari mulut istrinya adalah suatu kebenaran.
Namun, dari mana Farhana mendapat kabar itu. Sementara nomor telepon istrinya tidak banyak orang yang tahu.
Husein berpikir, apakah yang telah dilakukan mamanya. Apakah semua ini bagian dari sandiwara, agar kedua cucunya bisa kembali dengannya.
Lalu dengan sengaja ingin menjebak. Karena handphone si kembar telah jatuh ke tangannya. Tentu saja informasi mengenai Farhana bisa didapatkannya dengan mudah.
__ADS_1
"Mas, ayo kita segera kesana." ucap Farhana yang mengejutkan Husein.
"Apa kamu tidak berpikir, bahwa mungkin saja ini adalah bagian dari rencana mama untuk mengambil kembali si kembar? Setelah kabur beberapa hari?"
"Astaghfirullah." Farhana mengurut dadanya.
"Dia itu ibu kandung mu mas. Kenapa kamu tega berpikir buruk padanya? Lebih baik, kita segera mengecek kondisinya langsung. Untuk membuktikan kebenarannya."
Husein mengikuti apa kata istrinya. Ia segera bangkit dari tidurnya untuk membersihkan diri. Sedangkan Farhana ke kamar anaknya, untuk membangunkan mereka.
Seperti halnya Husein, si kembar juga terkejut dengan perkataan ibu mereka. Setelah disakiti, masih bisanya umi mereka berpikir yang baik tentang mertuanya.
"Kalian jangan hanya diam saja. Sebaiknya segera bersiap-siap. Karena sebentar lagi kita akan berangkat ke rumah sakit." setelah berkata seperti itu, Farhana segera meninggalkan kedua anaknya.
Tak lama kemudian, semua telah siap. Kini keduanya baru saja keluar dari lift, dan dengan tergesa-gesa berjalan menuju pelataran hotel. Dimana taksi online yang mereka pesan, sudah menunggu.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, mereka tampak saling terdiam, dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Akhirnya, mobil memasuki pelataran rumah sakit, dimana Abigail dulu sering menghabiskan waktunya. Dan kini rumah sakit itu bukan miliknya lagi.
Dengan langkah yang tergesa-gesa, mereka berjalan menyusuri koridor ruangan. Dan akhirnya sampai di IGD.
Mereka sangat terkejut ketika melihat Lidya dan Rosa tengah terduduk dengan lemas, sambil bersandar di dinding.
Abrisam memeluk Rosa dengan erat, keduanya menitikkan air mata. Tak menyangka, jika akhirnya bisa bertemu lagi.
Abigail pun melakukan hal yang sama. Ia memeluk gadis pujaan hatinya dengan erat. Sehingga membuat Lidya membulatkan kedua matanya.
Dan, kedua orang tua si kembar melihat pemandangan yang mengharukan itu. Keduanya tersadar jika antara Lidya dan Abigail belum ada ikatan yang membolehkan keduanya untuk berpelukan.
"Abi, jangan kelamaan. Nanti kesetrum lho." ucap Husein pada Abigail.
Dokter muda itu menyadari kesalahannya, lalu mengurai pelukan, sambil meringis menahan malu.
"Makanya, buruan halalkan." kekeh Abrisam. Namun Abigail diam tidak menanggapi.
Sedangkan Lidya, yang masih tak paham dengan ucapan Husein, hanya menunjukkan ekspresi datar.
'Dia paham ngga ya dengan ucapan Sam? Kenapa mukanya lempeng-lempeng aja seperti itu?' batin Abigail sambil memandang wajah Lidya yang polos.
Kini Farhana yang memeluk Rosa dan Lidya bersamaan.
__ADS_1
"Kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Husein. Setelah istri dan kedua wanita itu saling mengurai pelukan.
Lidya dan Rosa saling beradu pandang. Dan, belum sempat keduanya menjawab, pintu IGD sudah terbuka. Bergegas mereka mendekat ke arah dokter yang baru saja keluar.
"Bagaimana kondisi pasien dok?" tanya mereka bersamaan.
"Beruntung ibu Sekar segera dibawa ke rumah sakit. Jadi penyebaran racun ular nya bisa segera di tangani. Beberapa pecahan kaca, yang menancap di tangannya juga sudah berhasil kami keluarkan. Semoga beliau bisa segera siuman. Sekarang beliau akan kami bawa menuju ruang perawatan."
"Alhamdulillah." ucap mereka penuh rasa syukur.
"Oh iya, kenapa dokter Abi beberapa hari tidak masuk kerja? Apa kurang enak badan?" ucap dokter itu menyadari ketidakhadiran Abigail beberapa hari, semenjak ia di kurung dan kabur.
Abigail hanya tersenyum tipis, enggan menjawab.
Beberapa perawat mendorong Sekar menuju ruang perawatan, yang khusus diperuntukkan bagi keluarga inti saja.
Mereka pun berjalan mengiringi Sekar. Lidya dan Rosa berjalan dengan langkah yang sangat pelan. Karena sudah kehabisan tenaga.
"Kenapa kalian jalannya lemas sekali? Bahkan wajah kalian juga terlihat pucat." bisik Abrisam pada Rosa.
"Kami.... belum makan selama beberapa hari mas." lirih Rosa.
"Apa!" seru Abrisam terkejut. Membuat mereka menoleh kearahnya.
Abigail yang kebetulan mendengar percakapan itu, segera menyuruh seorang perawat untuk menyiapkan makanan untuk Lidya dan Rosa.
Setelah melewati tujuh tanjakan, akhirnya mereka tiba di ruang perawatan khusus.
Saat pintu terbuka, dan perlahan menjejakkan kaki masuk, Lidya dan Rosa di buat tak berkutik. Apalagi saat keduanya mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Mulut keduanya pun sampai terbuka lebar.
'Hah, ini rumah sakit apa hotel? Kenapa tampilannya mewah sekali? Berapa tarif sewa perharinya ya kira-kira? Oh iya, sepertinya rumah tempat penyekapan ku tadi sekilas juga terlihat mewah.' batin keduanya.
"Kenapa kalian berdua masih berdiri di situ?" ucap Abrisam. Namun keduanya tetap tak mendengar ucapan lelaki itu.
"Sepertinya mereka terkejut dengan penampilan kamar ini. Cepat dekati mereka." bisik Abigail sambil menyenggol lengan kembarannya.
Abrisam mengangguk, lalu mendekati kedua wanita itu.
"Sayang, ayo kamu duduk dulu. Nanti capek lho." ucapnya sambil menepuk bahu Rosa pelan. Sehingga membuat wanita itu terkejut.
"Eh, ada apa mas?" ucap Rosa gelagapan.
__ADS_1
Abrisam tersenyum, lalu mengulang kalimatnya. Ia juga membimbing Rosa untuk duduk di sofa, dan Lidya mengiringi langkah keduanya.