Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
123. Pernikahan Lidya


__ADS_3

Malam harinya, bu Susi dan Rosa saling beradu pendapat. Pasalnya keduanya sama-sama ingin tidur dengan Zaidan.


Bu Susi ingin memberikan waktu bagi Rosa untuk melayani suaminya tanpa adanya hambatan. Sedangkan Rosa sengaja ingin mengajak Zaidan tidur bersama, agar bisa menunda waktu untuk melayani suaminya. Terus terang ia merasa belum siap.


"Ros ingat, kalian berdua sudah halal. Jika kamu melayani suamimu dengan baik, akan mendapat pahala. Ayo buruan masuk kamar, pasti dia sudah menunggu mu."


Rosa pasrah, akhirnya menuruti perintah ibunya. Setelah membersihkan diri, ia masuk kamar. Terlihat Abrisam yang sudah berbaring di tempat tidur sambil memainkan handphonenya.


"Lho, Zaidan mana sayang?" tanya Abrisam sambil meletakkan handphonenya. Ia menepuk tempat tidur, untuk meminta Rosa duduk didekatnya.


"Itu, ibu mau tidur bareng Zaidan."


Mendengar penjelasan Rosa, membuat Abrisam langsung tersenyum sumringah. Ia mendekap istrinya erat.


"Berarti ini kesempatan bagus untuk kita segera membuatkan Zaidan adik dong sayang."


Pipi Rosa semakin bersemu merah, karena mendengar ucapan suaminya yang terlihat sudah tidak bisa menahan gejolak di dada.


"Berdo'a dulu mas." ucap Rosa, ketika Abrisam memajukan bibirnya di dekatnya.


"Eh, iya. Maaf lupa, terlalu bersemangat sih." Ia meringis menyadari kekeliruannya.


Setelah berdo'a, Abrisam mulai menyerang Rosa dengan berbagai gaya. Sehingga terdengar suara suara aneh menghiasi kamar yang kecil itu. Bahkan sebelum subuh, Abrisam kembali menyerang istrinya.


"Terima kasih sayang, sudah membuat ku merasakan menjadi lelaki sejati." bisik Abrisam dengan lembut. Ia membelai kepala istrinya yang tengah menatapnya sambil tersenyum.


_____


Seminggu sudah Abrisam berada di rumah Rosa. Meskipun rumah itu kecil, tapi ia tetap merasa nyaman berada di rumah itu. Ia juga mulai mengenal satu, dua tetangga Rosa. Bahkan ibu-ibu terlihat genit ketika melihat Abrisam.


"Ih, beruntung banget Rosa dapat suami tampan, kaya, masih perjaka pula."


"Iya, ngga nyangka lho, padahal dulu dia cuma itik buruk rupa. Sekarang jadi cantik, cocok lah sama suaminya yang ganteng."


"Aku juga mau dapet brondong macam dia mak."


"Anak ku ngga boleh kalah, harus bisa dapat lelaki yang jauh melebihi suami Rosa."

__ADS_1


Dan masih banyak lagi cuitan para ibu-ibu tukang ghibah, yang iri atas pencapaian Rosa.


"Sudah siap belum sayang?" tanya Abrisam pada Rosa yang tengah memakai jilbabnya.


Mereka kini tengah bersiap untuk menghadiri acara pernikahan Abigail.


"Sudah mas."


Rosa bangkit dari duduknya dan menyambar tas di meja. Keduanya segera keluar, karena ibu dan Zaidan sudah menunggu di luar.


Mobil mewah milik Abrisam telah siap terparkir di jalan depan rumah. Membuat siapa pun yang melihatnya akan terpana. Bisa di bayangkan harganya yang fantastis.


Setelah mereka masuk, mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang.


____


Di rumah Lidya.


Gadis cantik itu kini tengah di rias. Karena pada dasarnya dia sudah cantik, sehingga ketika di rias semakin bertambah cantik. Ia duduk sambil menunggu acara di mulai. Terlihat sekali ia gugup. Bahkan tangannya sampai berkeringat dingin.


"Tes...Tes....Tes."


"Sayang, banyak berdo'a. Biar hatimu tenang." bisik bu Cici pada anak gadisnya. Lidya pun mengangguk.


Kini acara sakral itu pun di mulai. Abigail duduk di depan penghulu dengan penuh percaya diri. Lalu penghulu itu mengulurkan tangannya yang segera di sambut oleh Abigail.


"Saudara Abigail Clancy, saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri ku Lidya mustika citra binti Citro Pamungkas dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan berlian senilai 200 juta rupiah di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Lidya mustika citra binti Citro Pamungkas dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan berlian senilai 200 juta rupiah di bayar tunai."


"Bagaimana saksi, sah?" teriak penghulu.


"Sah, sah, sah."


"Alhamdulillah." ucap para hadirin.


Mendengar suara sah yang menggema di seluruh sudut rumah, begitu menggetarkan hati Lidya. Bahkan ia sampai menitikkan air mata. Hal yang masih jauh dari perkiraannya, justru kini telah berada dihadapannya.

__ADS_1


Dengan di dampingi oleh kedua orang tuanya, Lidya berjalan menuju tempat akad. Abigail menarik kursi di dekatnya, ketika Lidya sudah berada di dekatnya.


Setelah keduanya menandatangani dokumen, penghulu mempersilahkan Lidya untuk mencium punggung tangan suaminya.


Ia memiringkan sedikit badannya menghadap Abigail. Lalu lelaki itu mengulurkan tangannya, yang segera di jabat oleh Lidya. Gadis itu pun mencium punggung tangan suaminya untuk yang pertama kali.


Abigail membalas dengan meletakkan tangannya di pucuk kepala Lidya sambil merapalkan doa. Dan yang terakhir, ia mencium pucuk kepala Lidya dengan segenap perasaan yang membuncah.


Setelahnya, keduanya dipersilahkan duduk di kursi pelaminan. Abigail membantu Lidya yang tampak kesulitan berjalan, karena menggunakan baju pengantin dengan adat Jawa.


Saat prosesi sungkeman, Lidya menangis, menumpahkan segala rasa yang ada dalam hatinya. Kedua orang tua dan Abigail bahkan ikut menangis.


Begitu juga ketika keduanya sungkem dengan Husein dan Farhana. Mereka pun juga terisak.


Setelah sungkem, mereka dipersilahkan kembali duduk. Abigail dengan telaten membenarkan letak kebaya yang di pakai Lidya. Lalu menghapus bekas tangisan istri kecilnya.


Rangkaian acara satu persatu kembali berjalan. Banyak yang mengira jika Lidya hamil di luar nikah, sehingga menikah di usia yang masih muda. Namun semua itu tidak terbukti kebenarannya.


Setelah selesai acara, keduanya memasuki kamar Lidya. Gadis itu berjalan lebih dulu, dan duduk di depan meja rias. Ia melepaskan segala accesoris yang menempel di kepalanya.


Abigail mendekati dan berdiri di belakangnya. Ia menatap bayangan dirinya dan istrinya lewat pantulan cermin.


"Kenapa kak Abi berdiri di situ? Kalau capek tidur saja." Lidya menatap Abigail melalui pantulan cermin juga.


"Enggak ah, kakak mau bantuin kamu melepas accesoris nya." Tangan Abigail bergerak di kepala Lidya. Dan tak perlu waktu lama, semua accesoris sudah terlepas. Kini Lidya membersihkan sisa make up.


Malam pun tiba. Mereka tengah berkumpul di meja makan. Lidya hendak menuang nasi ke piringnya.


"Lidya, kamu ambilkan suami mu makan dulu dong, baru kamu."


"Ah, biasanya mama juga enggak kayak gitu." protes Lidya.


Namun akhirnya ia mengambilkan makanan untuk Abigail terlebih dulu. Mereka makan sambil bercakap-cakap.


Setelah selesai makan malam, pasangan mempelai itu kembali memasuki kamar. Keduanya duduk di tepi ranjang. Suasana canggung meliputi keduanya.


"Lid." akhirnya Abigail buka suara terlebih dulu.

__ADS_1


"Iya kak." gadis menoleh ke arah suaminya.


"Kenapa kita duduknya jadi jauh-jauhan seperti ini? Kayak orang musuhan saja." keduanya saling mengurai senyum. Lalu Abigail duduk di samping Lidya.


__ADS_2