
Setelah selesai sarapan, si kembar kembali ke kamar. Abigail duduk di kursi yang menghadap ke jendela, sedangkan Abrisam menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
Sambil menunggu laporan yang akan di antar ke rumah, Abigail kembali menghubungi uminya.
"Assalamu'alaikum umi." salam Abigail ketika panggilan sudah terhubung.
Sementara Abrisam memperbaiki posisi tidurnya sambil melihat ke arah Abigail. Ia menyimak baik-baik, apa yang akan di ucapkan kembarannya itu pada uminya.
"Wa'alaikumussalam nak."
"Umi, jam berapa umi dan abi akan kesini?"
Farhana mengernyitkan dahi, karena mendengar pertanyaan anak bungsunya yang terlihat seperti tidak sabar menunggu kedatangannya.
"Bagaimana kalau nanti malam? Bukannya sekarang kamu dan kakak mu baru kerja." balas Farhana dengan heran.
"Kami..... di larang Oma bekerja. Sampai tidak bisa lagi bertemu dengan Abi dan umi." ucap Abigail yang tak bisa membendung rasa sedihnya.
Farhana bagai terkesiap mendengar tutur polos dari mulut Abigail. Ia sudah menduga hal itu akan terjadi.
Dengan isyarat melambaikan tangan, Farhana meminta suaminya untuk mendekat. Lalu, wanita itu membisikkan aduan anaknya.
Husein menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengambil alih percakapan itu dengan meminta handphone yang di genggam Farhana.
"Assalamu'alaikum Bi." ucap Husein pada anaknya, yang sedari tadi sudah menunggunya.
"Wa'alaikumussalam Abi. Umi sudah cerita semua kan? Lalu bagaimana tanggapan Abi?"
"Iya, umi sudah cerita semua. Kamu tenang ya Bi. In shaa Allah kami akan segera kesana. Abi tutup telepon nya ya, agar bisa segera bersiap-siap."
"Iya Bi, terima kasih. Semoga urusan keluarga kita cepat selesai. Dan tentunya kita bisa berkumpul dengan penuh kedamaian."
Husein tersenyum mendengar balasan Abigail yang selalu disertai doa tulus itu.
"Iya, aamiin ya rabbal aalamiin. Abi tutup dulu ya teleponnya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam Bi."
"Kita sholat Dhuha dulu yuk sayang." ucap Husein pada Farhana, setelah percakapan via telepon dengan anaknya selesai. Farhana mengangguk setuju sambil tersenyum.
Keduanya segera mengambil air wudhu, dan memulai ibadah itu. Mereka sama-sama melangitkan doa untuk menghadapi kemungkinan buruk yang terjadi.
Setelah selesai, bergegas keduanya menyelempangkan tas di bahu masing-masing, dan keluar menuju lobi hotel. Dimana, sebuah taksi yang mereka pesan sudah menunggu.
__ADS_1
"Bismillah." lirih mereka sebelum mobil melaju.
Husein menggenggam tangan Farhana dengan erat sepanjang perjalanan, untuk memberi dukungan kekuatan.
Sementara itu, setelah selesai menelpon, Abigail kembali menatap ke arah luar. Tak sabar menunggu momen kedua orang tuanya yang bertemu dengan Oma Sekar.
Rasa was-was semakin menyelimuti hatinya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, yang menunjukkan pukul 8. Ia bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelahnya, ia menggelar sajadah dan mulai melakukan sholat Dhuha.
Abrisam pun segera mengikuti apa yang dilakukan saudara kembarnya. Setelah berwudhu, ia menggelar sajadah di samping Abigail.
Setelah salam, keduanya berdzikir, lalu menengadahkan kedua tangannya sambil merapalkan doa'.
Keduanya meminta agar masalah keluarga yang tengah mereka hadapi cepat selesai, dan bisa berkumpul dengan orang-orang yang mereka sayangi.
Abigail tak lupa menyelipkan doa untuk Lidya. Agar gadis itu diberi kemudahan dalam belajar, dan juga dalam menghadapi kasus pelecehaan.
Sedangkan Abrisam, ia tak lupa meminta untuk selalu diberi kemantapan hati, dalam meneruskan hubungannya dengan Rosa.
Ia juga berdo'a, agar masalah yang tengah di hadapi wanita pujaan hatinya itu, bisa segera selesai, dan memenangkan sidang.
Setelah selesai berdo'a, keduanya saling duduk berhadapan.
Abigail mengedikkan bahu.
"Aku juga tak tahu. Mungkin akan terjadi perang besar yang memperebutkan kita. Atau justru kedua orang tua kita yang mengikhlaskan kita untuk tetap di asuh oleh Oma Sekar. Karena karakter umi yang lemah lembut dan mudah luluh. Benar-benar sulit di tebak Sam."
"Kamu benar Bi. Aku semakin deg-degan menunggu Abi dan umi sampai sini."
"Sama, sebaiknya kita terus beristighfar. Siapa tahu dengan istighfar yang kita lakukan, Allah menghapus dosa kita, lalu mengabulkan hajat kita."
Abrisam manggut-manggut, lalu mulutnya mulai komat-kamit beristighfar.
Tak berselang lama, terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan gerbang tinggi rumah mereka. Keduanya saling beradu pandang, lalu segera berlari menuju jendela kamar.
Dengan mata yang membulat sempurna, dan jantung yang kembali berdetak kencang.
"Abi, umi." lirih mereka. Mata mereka tampak berkaca-kaca. Keduanya terus memperhatikan kedua orang tuanya sampai tidak terlihat karena sudah sampai di pintu masuk rumah.
Si kembar segera membereskan perlengkapan ibadah masing-masing, lalu duduk di tepi ranjang tempat tidur dengan perasaan yang bercampur aduk. Keduanya tak ingin ketahuan omanya karena telah melaksanakan sholat.
Sementara itu, keadaan di bawah terlihat lebih tegang.
__ADS_1
Setelah menekan bel, tak lama kemudian pintu utama dibuka oleh seorang wanita yang lebih sepuh namun gesit, karena pekerjaannya yang memang menuntutnya seperti itu.
"Assalamu'alaikum bibi." ucap Husein menyapa asisten rumah tangga yang sudah bekerja di rumahnya sejak dulu.
Bibi tampak terkejut, hingga membulatkan matanya dan mulutnya menganga. Hingga sekian waktu ia bersikap seperti itu.
"Bibi, Bi."
Husein memanggil wanita itu sambil melambaikan tangannya di depan wajah wanita sepuh. Sehingga membuat ia tersadar dari lamunannya.
"M_mas Husein?"
"Iya bibi. Ini Husein. Bibi masih ingat dengan ku kan?" balas Husein sambil tersenyum.
"Ten_tentu, bibi masih ingat. Apa kabar den Husein dengan mbak Farhana?" ucap bibi dengan mata yang berkaca-kaca.
Seketika pikiran wanita itu melayang di kejadian berpuluh-puluh tahun silam. Ia menjadi saksi hidup kisah cinta keduanya yang mengharu biru.
Ia sangat senang ketika melihat Husein membawa wanita bercadar pulang ke rumah dan mengenalkan pada mamanya.
Walaupun tidak terlihat wajahnya, ia bisa melihat kecantikan Farhana. Baik kecantikan fisik maupun kecantikan hati.
Bibi sangat menyayangkan, karena majikannya tidak menyetujui hubungan anak laki-laki satu-satunya dengan gadis desa yang terkenal miskin.
"Mama ada di rumah bi?" ucap Husein yang membuyarkan lamunan bibi.
"Eh, A_ada den. Silahkan masuk. Bibi panggilkan sebentar ya." dengan tergopoh-gopoh, bibi menuju ke kamar Sekar.
Tok....Tok ..... Tok
Tak perlu mengetuk berulang kali, pintu terbuka. Wajah Oma Sekar yang sedingin es membuat bibi menciut nyalinya.
"Ada apa?" tanya Sekar dengan datar.
"I_itu ndoro. Ada....." dengan terbata-bata bibi berkata, yang membuat oma Sekar mengernyitkan dahi jengkel.
"Kenapa bicara mu seperti itu? Memang ada apa? Cepat katakan, karena aku tak punya banyak waktu untuk bertele-tele." tegas Sekar.
"Itu, disana, ada den Husein dan mbak Farhana ndoro." ucap bibi dengan jantung yang kian berdetak cepat. Ia takut akan terjadi prahara besar di rumah ini seperti dulu.
Oma Sekar membulatkan matanya, dan tatapannya terlihat nyalang mendengar kedua nama itu di sebut di hadapannya.
Bibi pun semakin menundukkan kepalanya, sambil kedua tangannya saling meremas karena sangat takut dengan ekspresi yang ditunjukkan Oma Sekar.
__ADS_1
'Ya Allah, lindungi hamba. Semoga tidak di gigit oleh singa betina ini.' bisik bibi dalam hati.