Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
58. Hanya author yang tahu


__ADS_3

Sepulang dari bandara, si kembar mengantar Rosa pulang terlebih dahulu. Selama perjalanan pulang, tampak ketiganya saling terdiam. Sehingga perjalanan terasa lebih lama dari biasanya.


Namun akhirnya, samar samar tugu selamat datang di desa Rosa mulai terlihat. Ada rasa rindu yang menyeruak di hati Rosa karena telah lama meninggalkan ibunya sendirian di rumah demi lelaki asing di hadapannya.


Namun meskipun begitu, ibunya tetap mendukungnya selama itu adalah suatu kebaikan. Rosa berjanji tak kan pernah melupakan jasa ibunya.


Ia akan mencari suami yang juga menyayangi ibu seperti ibunya sendiri. Karena jika tidak ada ibu yang menguatkan hatinya, tentu ia hanyalah tinggal nama yang tak berarti sama sekali dengan segala citra buruknya.


Berkat ibu, Rosa bisa kembali bersemangat. Menjalani hari, merawat bayi dan mencari nafkah.


Rosa juga teringat akan ucapan Abrisam sebelum pulang tadi yang rasanya seperti mimpi indah.


'Bila ia di takdirkan menjadi jodoh ku, akan kah bisa menyayangi ibu, seperti ibunya sendiri?'


"Kamu ngga mau pulang?" tanya Abrisam mengagetkan Rosa yang telah melamun. Ternyata Rosa tak menyadari jika mobil telah memasuki pelataran rumahnya.


"Eh, i_iya mas."


Rosa segera menggendong Zaidan lalu bergegas keluar setelah pintu di bukakan oleh Abrisam.


"Silahkan istri ku."


Rosa hanya tersenyum simpul menanggapi godaan Abrisam. Sampai sekarang Rosa terus menjaga hati agar tidak jatuh ke lubang yang sama 2 kali.


Sedangkan Abigail tampak tercengang dengan ucapan kembarannya itu. Karena selama ini ia memang tak pernah mengumbar kata-kata yang mesra.


"Bisa jadi kadal juga ya kamu sama cewek?" bisik Abigail ketika keduanya tengah mengeluarkan koper dari bagasi. Keduanya pun terkikik.


"Kalau kamu dengar cerita ku selama di sana, beh.. pasti ngiri."


"Ngga. Ngiri itu jalan sesat. Aku mau nganan saja, di jalan kebenaran."


Abigail segera membawa koper dan Abrisam menyusul di belakangnya sambil membawa paper bag.


"Assalamualaikum." ucap Rosa sambil mengetuk pintu. Sengaja Rosa tidak memberitahu kepulangan nya pada ibunya, untuk memberi kejutan padanya.

__ADS_1


Rosa yang merasa tak enak hati karena si kembar masih menunggu pintu di buka, menyuruh keduanya untuk pulang saja.


Namun Abrisam bersikeras menolak, karena ia ingin mengucapkan terima kasih pada Bu Susi yang telah memberi ijin padanya.


Berkat bantuan Rosa, ia akhirnya bisa bertemu dengan ibu kandungnya. Ibu yang di anggap meninggal ternyata masih hidup dan sehat.


Setelah sekian menit menunggu, akhirnya pintu terbuka.


"Assalamualaikum ibu." ulang Rosa.


"Wa'alaikumussalam." Bu Susi tampak terkejut dengan kepulangan Rosa. Segera ia memeluk Rosa yang tengah tersenyum menatapnya. Ia pun menitikkan air mata.


Setelah berpelukan sekian detik, mereka saling mengurai pelukan, lalu mengalihkan pandangannya pada si kembar.


"Bu." ucap Abrisam sambil menyalami tangan Bu Susi, lalu giliran Abigail yang bersalaman.


Abrisam mengucapkan rasa terima kasih yang begitu besar karena Bu Susi telah memberi ijin padanya mengajak Rosa ke tempat yang jauh.


Bu Susi tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa. Setelah sedikit perbincangan itu, akhir nya si kembar segera berpamitan pulang, karena hari sudah malam.


Abigail membunyikan klakson, sebelum mobil itu melaju meninggalkan pelataran rumah.


Setelah bayangan mobilnya tak terlihat, barulah keduanya masuk ke rumah.


"Seminggu ngga keliatan, ternyata keluar sama lelaki sekaligus 2. Duh, duh, maruk amat ya. Katanya sudah insaf, kok di ulangi lagi."


DEG!


Jantung Rosa seakan ingin loncat dari tempatnya, mendengar suara tetangganya yang mulai julid kepadanya.


Rosa memutar tubuhnya dan menatap dengan pandangan yang tajam ke arah wanita itu. Ia menyerahkan Zaidan pada ibunya lalu dengan langkah santai menghampiri tetangganya yang baru saja pulang dari warung dan masih berdiri di jalan.


"Kenapa memangnya bu? Seminggu ngga lihat saya, terus kangen gitu pengen menghujat saya? Silahkan itu hak ibu. Terima kasih atas transferan pahalanya. Saya sih ngga mau capek capek membuang tenaga untuk menghadapi hal receh seperti ini. Biasanya nih ya, kalau kebanyakan menghujat orang lain itu, nanti anggota keluarganya ada yang nasibnya sama dengan orang yang di hujat. Aku aamiin kan saja biar sama-sama adil. Selamat malam ibu, mimpi indah, semoga bangun tidur masih waras."


Rosa menyunggingkan senyum puas, lalu segera melenggang menghampiri ibunya yang masih termenung di depan teras.

__ADS_1


"Mari Bu, kita masuk ke dalam." ucap Rosa merangkul bahu ibunya lalu masuk ke dalam rumah.


Sementara tetangga yang baru saja menghujat nya, langsung terdiam seribu bahasa. Meskipun ucapan Rosa terkesan santai, namun setiap katanya bagaikan sembilu yang menusuk jantung. Menyakitkan sekali di hatinya, sehingga ia hanya bisa menghentakkan kakinya dan segera berlalu pergi.


Di dalam rumah, Rosa segera mandi untuk menyegarkan badan dan pikirannya. Bohong jika Rosa tidak apa-apa dengan ucapan tetangga nya tadi. Tentu ia juga merasa tersentil.


Namun ia segera menepis hal itu dalam pikirannya. Ia tak mau ruang kepalanya di penuhi oleh kata-kata sampah dari orang yang tidak suka padanya.


Ia menghirup nafas dalam-dalam, berusaha menjadikan setiap hal yang buruk menjadi cambuk motivasi nya agar bisa maju dan merubah nasib.


Setelah selesai mandi, Rosa segera menyusul ibunya yang tengah asyik bermain dengan Zaidan di ruang keluarga.


Rosa segera mengeluarkan barang-barang nya dari dalam koper. Lalu menyerahkan oleh oleh untuk ibunya.


"Seharusnya kamu ngga perlu repot-repot seperti ini Ros. Uang yang kamu punya untuk tabungan kamu di masa depan."


"Bu, apa salahnya Rosa membahagiakan ibu? Cuma ibu dan Zaidan yang Rosa punya di dunia ini. Dengan membahagiakan orang yang kita sayang, Allah pasti juga akan membahagiakan Rosa. Entah darimana jalan nya." ucap Rosa sambil tersenyum hangat.


"Terima kasih nak. Semoga Allah limpahkan kebahagiaan untuk mu."


Keduanya lalu sibuk membuka oleh oleh. Ada kurma, kacang arab, air zamzam dan gamis.


Bu Susi banyak bertanya tentang kegiatan Rosa selama di sana. Rosa pun menceritakan semuanya dengan wajah yang berbinar bahagia.


Bu Susi sangat terharu, akhirnya niat tulus Rosa untuk membantu orang lain, berhasil. Sebenarnya ia juga tak menyangka jika ada orang tua yang tega memisahkan antara ibu dan anak, seperti yang di lakukan Oma Sekar.


Namun, apapun itu masalahnya, ia mendoakan agar masalah keluarga yang terjadi di antara mereka cepat selesai. Agar bisa hidup rukun.


Hari kian merangkak malam, mereka mulai terserang kantuk. Akhirnya untuk mengobati rasa kangen, mereka menggelar kasur di depan tv, dan tidur di sana.


Tak lama kemudian, Zaidan dan Bu Susi sudah terlelap. Sedangkan Rosa, ia yang tadi sempat mengantuk, sekarang malah terjaga.


Pikirannya mulai berkelana. Memikirkan hubungan nya dengan Abrisam.


Akankah pernikahan mereka tetap bertahan? Atau kah sesuai janji, pernikahan itu akan putus setelah kepulangan dari Riyadh?

__ADS_1


Hanya author yang tahu jawabannya.🤣🤣


__ADS_2