Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
98. Abigail mencari kerja


__ADS_3

"Kak Abi."


Sebuah suara teriakan yang keras membuat Abigail menoleh ke kanan dan kiri. Ia tampak mengerjapkan matanya, karena terik matahari yang terasa menyengat.


Sampai pandangannya berhenti pada seorang gadis SMA yang berhenti tepat didepannya.


"Kak Abi mau kemana? Kok jalan kaki." ucap gadis itu sambil melepas helm dan maskernya.


"Lidya." desis Abigail.


"Ditanya bukannya di jawab, malah panggil namaku. Memangnya kak Abi tidak ingat aku?" sungut Lidya kesal.


"Eh, kakak.... cuma mau jalan-jalan saja." ucap Abigail sambil meringis.


"Di siang yang terik seperti ini, kakak jalan-jalan?" Lidya mengernyit heran.


"Lebih baik, temani Lidya jajan es. Haus banget ini." Lidya mengusap lehernya berulang kali.


"Ayo buruan naik, Lidya bonceng." imbuhnya lagi.


"Eh, tapi Lid, kakak..... lagi ngga minum es." sengaja Abigail berbohong.


Ia ingin menghemat pengeluarannya semaksimal mungkin.


"Yah... kok seperti itu sih." gumam Lidya terlihat kecewa. Membuat Abigail merasa tak enak hati.


"Ayolah kak, aku boncengin nih."


Lidya terus mendesak, hingga akhirnya Abigail menuruti keinginannya. Ia mendekat ke arah belakang motor Lidya.


"Biar kakak saja yang boncengin."


Tak banyak bicara, Lidya langsung turun dari motornya. Dengan percaya diri, Abigail sudah duduk di kemudi.


Seumur hidup, ini adalah pertama kalinya ia mengendarai sepeda motor. Sehingga ia tak begitu, tahu apa yang harus dilakukan pertama kali untuk menyalakan mesin motor.


"Kenapa lama sih kak?"


"Eh, ini, bagaimana cara melajukan motornya?" akhirnya Abigail bertanya pada Lidya.


Gadis itu terkekeh dengan pertanyaan Abigail.


"Memang kakak ngga pernah naik motor?"


"Em, sejujurnya tidak. Ini adalah pertama kalinya."


"Apa!"

__ADS_1


Lidya memekik, seolah tak percaya dengan apa yang di dengar.


"Kakak ngga bohong?"


"Kakak sungguhan Lid."


Akhirnya Lidya turun dari mobil, dan meminta Abigail turun juga. Kini gadis itu yang mengemudikan motornya, dan Abigail yang membonceng di belakang.


Abigail begitu terkejut, ketika lidya mengegas motornya, dan melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Dengan spontan ia melingkarkan tangannya ke pinggang Lidya, karena takut terjatuh.


"Lidya, pelan-pelan saja melajukan motornya. Kakak takut jatuh." teriak Abigail, namun gadis itu justru memberi reaksi tertawa.


"Tenang saja, Lidya sudah ahlinya kok."


Abigail terus memegangi pinggang Lidya, sampai motor berhenti di sebuah warung es kelapa muda.


"Kakak, sudah sampai nih. Ayo turun. Jangan sengaja mencuri kesempatan dalam kesempitan." ucap Lidya sambil melihat tangan Abigail yang masih melingkar diperutnya.


Laki-laki itu melepaskan pelukannya, lalu menghirup nafas dalam-dalam. Badannya terasa bergetar hebat saat turun dari motor. Lidya kembali tertawa melihat ekspresi Abigail yang terlihat lucu baginya.


"Kakak cari tempat duduk saja dulu, biar Lidya yang pesan."


Abigail pasrah saja dengan apa kata Lidya. Ia duduk di kursi sebelah pinggir warung, agar bisa merasakan semilir angin yang berhembus.


Lidya mendekati dan duduk di hadapan Abigail. Lalu, memperhatikan wajah lelaki yang ada dihadapannya. Yang tampak memerah. Pandangannya kini beralih pada map biru yang ada di samping Abigail.


"Kakak melamar kerja? Memang kenapa dengan pekerjaan yang dulu? Apa gajinya kurang besar? Terus kenapa tadi berjalan kaki? Mobil kakak kemana?" Lidya terus saja melempar Abigail dengan pertanyaan, sehingga membuat laki-laki itu terkekeh.


"Kok malah tertawa sih? Apa kakak butuh banyak uang?"


Tak berapa lama, pesanan mereka datang. Sepiring cilok mercon dan es kelapa sudah tersedia di hadapan masing-masing.


Keduanya segera menyeruput es kelapa muda, hingga sisa separuh. Lalu segera mencicipi cilok mercon yang tampak menggoda.


Tak lama kemudian, peluh mulai membasahi wajah keduanya, karena sensasi rasa pedas yang luar biasa.


Tak perlu waktu lama, makanan dan minuman itu berhasil masuk ke perut keduanya. Lidya mengambil tisu dari dalam tasnya, lalu mengusap wajahnya.


Barulah ia mengambil selembar tisu lagi untuk mengusap wajah lelaki yang ada dihadapannya. Membuat Abigail terpaku menatap Lidya yang romantis menurutnya.


"Jangan ge-er, Lidya ngga enak saja melihat orang lain memperhatikan wajah kak Abi yang penuh dengan keringat." celetuk Lidya, yang seolah tahu apa isi pikiran Abigail.


Lelaki itu pun hanya bisa membuang nafas kasar, karena jawaban Lidya tidak seromantis yang ia bayangkan.


"Ciye, ngambek ya." goda Lidya.


"Hem, dasar anak-anak. Bisa mode serius ngga sih? Dari tadi becanda melulu."

__ADS_1


Abigail hendak menarik hidung mancung Lidya, namun gadis itu pandai berkilah. Lalu terkekeh.


"Okay, Lidya mode serius. Sekarang katakan yang sejujurnya, kenapa kakak mau mencari kerja lagi? Jika ada masalah, tolong cerita sama Lidya, siapa tahu aku bisa bantu. Yah, walaupun paling mentok, cuma bisa bantu doa. Tapi doa juga penting kok. Dengan kita berdoa, sama saja kita tengah mengetuk pintu langit. Iya kan?" cerocos Lidya lagi.


Abigail masih saja diam, hingga Lidya terus membujuknya berulang kali. Dan akhirnya, ia menceritakan apa yang tengah ia alami.


Lidya merasakan sesak di dada, karena mendengar penderitaan yang dialami dokter tampan itu.


"Sampai rumah nanti, Lidya akan bilang sama papa. Siapa tahu, ada lowongan pekerjaan di kantornya. Nanti Lidya akan telepon umi Farhana." Lidya berkata dengan sungguh-sungguh.


"Terima kasih Lidya, sudah mau membantu kakak." balas Abigail sambil menatap pujaan hatinya.


"Lidya belum melakukan apapun, jangan berterima kasih dulu."


"Oh iya, sudah hampir sore, rencana kakak habis ini apa?"


"Mencari kerja lagi lah."


"Lidya kan sudah bilang, nanti sampai rumah Lidya akan tanyakan ke papa."


"Tapi, kakak ingin menggunakan waktu yang ada untuk mencari pekerjaan. Sembari menunggu info dari papa mu Lid."


"Okay, kalau begitu Lidya anterin."


"Eh jangan, nanti kamu dicariin sama mama."


"Lidya akan ceritakan semuanya pada mereka. Di jamin tidak bakalan marah. Karena keduanya sudah 1000 persen yakin sama kakak. Tunggu disini sebentar, Lidya bayar dulu makanannya."


Lidya segera bangkit berdiri dan berjalan menuju penjual, tanpa sempat Abigail menahannya.


Lelaki itu menatap Lidya yang tampak ceria.


"Hem, gadis keras kepala yang sulit didapatkan." gumamnya.


"Ayo kak, kita cari kerjaan." ajak Lidya dengan penuh semangat.


Abigail bangkit berdiri, dan segera mengikuti langkah Lidya menuju motornya terparkir.


"Jangan ngebut bawa motornya, kakak takut." pesan Abigail. Namun, Lidya bukannya menjawab, tapi malah melajukan motornya seperti tadi.


Setengah hari Lidya habiskan waktunya untuk menemani Abigail mencari pekerjaan, namun tak kunjung berhasil. Wajah keduanya tampak kusam dan terlihat lelah.


"Kita sudahi dulu Lid, karena hari kian gelap."


"Iya, Lidya anterin ke hotel." Lidya kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, agar segera sampai hotel. Lagi-lagi Abigail mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih atas bantuannya Lidya." ucap Abigail setelah sampai pelataran hotel.

__ADS_1


"Sama-sama kak. Sampaikan salam dari Lidya untuk umi dan abi ya. Assalamu'alaikum." ucap Lidya sambil tersenyum manis, lalu kembali melajukan motornya, meninggalkan Abigail yang terus menatapnya, hingga bayangannya tal lagi terlihat.


__ADS_2