
Sttt......
"Tuh liat, hamil besar ngga punya suami. Sekarang malah pulang sore, penampilan nya juga beda banget. Dapat uang dari mana coba?" celetuk ibu ibu tukang ghibah yang berada di sebrang jalan rumah Rosa.
DEG!
Hati Rosa kembali luka, mendengar perkataan tetangga nya yang sedang menggunjingkan diri nya. Tentu saja Rosa bisa mendengar nya, karena jalan depan rumah nya bukanlah jalan yang besar. Rumah antar warga pun juga sangat berdekatan.
'Aku tak pernah menggunjingkan mereka, tapi kenapa mereka selalu menggunjingkan aku? Apa salah ku? Memang nya aku suka di beri cobaan seperti ini? Coba kalau anak-anak mereka yang mengalami nasib seperti ku, pasti juga tak berani keluar rumah.' batin Rosa yang masih mematung melihat ibu ibu yang masih saja terus menggunjingkan diri nya di seberang jalan.
"Hei Ros, sudah pulang kamu nduk?" suara bu Susi mengejutkan Rosa.
"Alhamdulillah sudah bu." Rosa segera mendekat ke arah ibunya dan mencium punggung tangan ibu nya dengan takzim.
"Maafkan Rosa ya bu, pulang nya terlalu sore. Lidya mengajak ku ke salon langganan nya dan membuat ku jadi seperti ini. Habis itu kita jajan bareng. Dan semua totalnya, ia yang membayar." cerocos Rosa pada ibunya.
"Alhamdulillah, semoga segala kebaikan Lidya dan keluarga nya di balas dengan kebaikan yang semakin berlimpah. Karena sudah membuat anak ibu semakin bahagia."
"Aamiin ya rabbal aalamiin. Jika nanti aku kaya, aku pun juga ingin membalas kebaikan mereka bu. Doakan Rosa ya bu, semoga Rosa juga bisa sukses." Rosa menggenggam tangan ibunya. ibunya pun semakin mengeratkan genggaman tangan nya.
"In shaa Allah, ibu yakin kamu pasti bisa sukses. Kesuksesan bukan milik orang yang berijazah tinggi. Tapi kesuksesan adalah milik orang-orang yang mau bekerja keras." tegas ibunya.
"Ya sudah, kamu mandi sana. Biar badan kembali segar. Habis itu, cerita ke ibu, di salon kamu ngapain aja? kok bisa semakin cantik seperti ini."
"Siap bu." Rosa tersenyum dan segera masuk ke kamarnya untuk mengambil baju ganti.
Setelah mandi, ia segera menyusul ibunya yang tengah menikmati siaran tv. Keduanya pun saling bertukar cerita dan bersenda gurau bersama.
"Bu, tadi aku dengar tetangga yang ada di depan sana sedang membicarakan Rosa sewaktu Rosa baru saja sampai rumah." celetuk Rosa ketika keduanya sedang diam.
__ADS_1
"Biarkan saja, justru kamu bersyukur. Dosa mu berpindah pada mereka yang sudah membicarakan mu." ucap ibunya bijak.
"Iya bu, Rosa juga tidak terlalu menanggapi. Kata Lidya, sekarang itu Rosa harus bisa jadi mawar yang berdarah. Siapa saja yang sudah menghina harus bersiap-siap mendapatkan balasan dari Rosa."
"Hah, Lidya bilang seperti itu sama kamu?" ibunya terperanjat kaget.
"Lalu apa yang kamu mau lakukan untuk membalas mereka yang sudah menghina mu nduk?" imbuh ibunya dengan serius menatap Rosa.
"Itulah bu yang Rosa baru pikir kan. Jika membalas keburukan dengan keburukan, nanti Rosa dosa juga. Jadi, mungkin Rosa akan membalas nya dengan prestasi yang Rosa miliki. Rosa ingin jadi orang kaya yang cantik dan sukses. Biar mereka siapa tahu Rosa sebenarnya, dan berhenti menghina Rosa." ucap Rosa, pandangan nya mengarah ke luar di mana ibu ibu itu masih berkumpul, padahal hari sudah menjelang Maghrib.
"Nah, kalau itu ibu baru setuju. Teruslah berusaha sampai bisa sukses. Walaupun sekarang kamu baru jadi karyawan toko kelontong, siapa tahu beberapa tahun ke depan kamu bisa memiliki usaha toko kelontong sendiri."
"Aamiin ya rabbal aalamiin. Terima kasih doa tulus nya bu." Rosa memeluk erat ibunya.
_____
"Mbak Anita, mengagetkan ku saja toh." ucap Rosa sambil mengelus dadanya.
"Aku perhatikan, sekarang kamu semakin cantik saja. Jerawat mu yang sebesar tomat juga hilang. Rambut mu juga halus dan lurus.Perawatan di mana?"
"Aku baru sekali mbak perawatan di salon langganan nya mbak Lidya, kalau ngga salah nama salon nya Beauty Angel." Tutur Rosa apa adanya.
"Apa! Salon beauty Angel?" pekik Anita karena terkejut, dan Rosa kembali mengangguk.
"Itu kan salon terkenal Ros. Memang nya uang gaji mu cukup?" seloroh Anita tak percaya.
Rosa tak mungkin bilang jika perawatan pertama nya di bayar oleh Lidya. Dan ia juga tak mungkin bilang jika mendapat diskon dari kak Angel, karena kak Angel hanya memberi diskon pada langganan tertentu saja, seperti Lidya.
"Heh, kok diam saja sih di tanya? Jangan jangan kamu dapat uang dari om om ya." tebak Anita.
__ADS_1
"Astaghfirullah, kok mbak Anita bicara seperti itu sih?" gumam Rosa sambil mengelus dadanya. Karena merasa sakit hati dengan fitnahan Anita.
Ia segera teringat kata-kata Lidya, bahwa diri nya yang sekarang adalah mawar berdarah. Siapa yang menyakiti nya harus mendapat balasan.
"Aku bukan simpanan om om mbak Anita. Biasanya pikiran yang buruk akan mengendalikan hati kita untuk berperilaku yang buruk juga. Jadi, sebaiknya mbak Anita berhenti berpikiran yang buruk tentang ku, jika tidak mau bernasib seperti ku." tegas Rosa yang membuat Anita membelalakkan matanya karena tak percaya Rosa bisa berbicara seperti itu.
Rosa pun segera pergi meninggalkan Anita yang masih diam mematung, sementara ia segera melayani pembeli. Ia tak mau mengecewakan bu Cici karena harus meladeni ucapan Anita yang selalu saja membuat hati jengkel itu.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kini usia kandungan nya sudah menginjak usia 9 bulan. Perut nya semakin besar. Tapi Rosa terlihat masih lincah bergerak. Mungkin itu adalah salah satu pertolongan Allah untuk Rosa. Sehingga ia bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
"Aku kira dulu kamu masih kecil ternyata, kecil kecil sudah bisa bikin anak kecil ya." gurau Anita tapi Rosa merasa tersentil hatinya. Ia hanya menanggapi gurauan temannya itu dengan senyuman.
"Namanya takdir mbak, ya harus di jalani. Yang mandul saja, kelimpungan pengen cepet-cepet punya anak." ucap Rosa apa adanya. Tapi justru membuat Anita naik pitam karena merasa Rosa sedang menyinggung dirinya.
Anita sudah 5 tahun menikah tapi belum di karuniai seorang anak. Dan saat ini, dirinya memang sedang berusaha berobat kesana kemari agar cepat hamil. Menurut diagnosa dokter, yang mandul adalah Anita. Sedangkan suami nya normal dan kondisi kesehatan nya bagus.
"Kamu menuduh ku?" ucap Anita lantang mengarah pada wajah Rosa.
"Astaghfirullah mbak, bisa ngga sih, ngga usah teriak teriak seperti itu? Bisa tuli telinga ku. Kalau mbak Anita ngga mandul, ya biasa saja kali sikap nya. Ngga usah seperti itu." balas Rosa tak mau kalah.
Rosa segera pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, agar hatinya kembali tenang.
"Maafkan mama ya nak, pasti kamu kaget dengar mama teriak teriak seperti tadi." gumam Rosa sambil mengelus perut nya yang buncit. Setelah itu ia segera keluar dari kamar mandi untuk kembali bekerja.
Bugh...
Arghhh.....
Rosa berteriak kesakitan karena terpeleset saat keluar kamar mandi.
__ADS_1