Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
120. Reaksi orang tua


__ADS_3

"Maksud Lidya tadi, mau sekolah yang benar dulu. Habis itu kuliah, terus cari kerjaan, baru memikirkan urusan menikah. Seperti itu oma, umi, abi."


"Lidya, setelah kamu lulus sekolah, kamu boleh melanjutkan kuliah. Bahkan ke luar negeri sekali pun, pasti akan diijinkan. Semua biaya kuliah mu pasti juga akan kita tanggung. Kita hanya khawatir, jika menunda waktu pernikahan mu dengan Abi. Keburu Abi jadi perjaka karatan. Karena terlalu lama menunggu mu." imbuh Sekar lagi, yang membuat semua orang tergelak. Sementara Abigail tampak bermuka masam, karena dijadikan bahan bercandaan.


Lidya mengetukkan jari di meja sambil berpikir, apa dia cinta dengan lelaki dihadapannya atau tidak.


"Sekali lagi maaf ya oma, nanti Lidya tanyakan dulu dengan papa dan mama."


"Baiklah, besok malam telepon Abi. Oma tidak mau menerima sebuah penolakan." tegas Oma, agar Lidya takut dengannya.


Mereka bercakap-cakap sampai jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Waktunya si kembar mengantar para wanita pujaan hatinya pulang.


Lidya dan Rosa mengecup punggung tangan kedua orang tua dan Oma si kembar, sebelum pulang. Lalu keduanya berjalan menuju mobil terparkir. Tak lupa Abigail membukakan pintu untuk Lidya lagi.


"Kak, Lidya ikut mobilnya kak Sam aja, kan searah. Biar hemat bensin gitu."


Lidya sengaja mencari alasan agar tidak berduaan dengan Abigail. Setelah lelaki itu menyatakan cintanya, Lidya justru tampak canggung berada di dekatnya.


"Mereka baru kasmaran lho. Kamu mau dijadikan obat nyamuk. Hanya mendengar rayuan Sam pada Rosa?" Abigail menyunggingkan senyum tipis sambil menaikkan satu alisnya. Terlihat Lidya berpikir sejenak.


"Em, ya sudah. Aku mau diantarkan kak Abi." akhirnya Lidya masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, keduanya saling terdiam. Tidak seperti biasanya yang selalu bercanda. Sampai akhirnya mobil berhenti di depan rumah Lidya.


Abigail memberanikan diri menyentuh tangan gadis itu yang berada di dekat kemudi. Membuat gadis itu tersentak kaget. Namun, Abigail menggenggam tangannya dengan erat.


"Ka_kakak, apa yang kamu lakukan?" lirih Lidya dengan suara yang bergetar. Ia tak berani menatap lelaki itu.


"Kakak hanya ingin kamu tahu, jika kakak memang benar-benar mencintaimu. Sampai kapan pun, kakak akan setia menunggu mu. Memastikan kebahagiaan mu."


Lidya tersipu malu, hatinya juga kian berdegub kencang. Namun lidahnya serasa kelu untuk sekedar menjawab. Melihat wajah Lidya yang bersemu merah membuat jiwa kelaki-lakian Abigail meningkat. Ia semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis cantik itu.


"Lidya!" seru bu Cici yang sudah berdiri di ambang pintu. Membuat Lidya menoleh, dan seketika Abigail menjauhkan wajahnya darinya.


"Kakak tadi mau ngapain?" tanya Lidya dengan polosnya.


"Ngga ngapa-ngapain kok." Abigail keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Lidya.


Keduanya berjalan mendekati bu Cici yang sudah berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Tante, Lidya sudah saya antar pulang dengan selamat. Terima kasih atas ijin yang diberikan."


"Iya nak Abi. Terima kasih juga sudah menjaga anak tante dengan baik."


"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya. Sampaikan salam saya pada om."


"Tentu, nanti tante sampaikan."


Abigail kembali membunyikan klakson saat mobil mulai melaju. Setelah bayangan mobilnya tak nampak, bu Cici dan Lidya masuk ke rumah.


Lidya segera ke kamar, lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Pandangannya menerawang jauh, membayangkan hal yang baru saja terjadi. Sampai dini hari Lidya tak bisa memejamkan matanya.


"Astaga, sudah pukul 1. Kenapa aku ngga bisa tidur juga?" gumamnya.


Ia teringat pesan Abigail untuk menambah ibadah sunah. Seperti sholat tahajud. Untuk mendapat ketenangan hati. Ia pun menjejakkan kakinya, menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelahnya ia mengerjakan sholat malam.


"Ya Allah, semua yang ada di bumi bergerak sesuai kehendak-Mu. Ku pasrahkan masalah yang tengah hamba hadapi saat ini. Jika kak Abi memang yang terbaik untukku, maka dekatkan kami dengan cara terbaik mu."


Setelah melaksanakan sholat malam, Lidya kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Dan tak lama kemudian, ia tertidur pulas.


____


"Sayang, aku masih tak percaya dengan semua ini. Karena terasa seperti mimpi." ucap Abrisam. Ia menggenggam tangan Rosa dengan erat.


"Aku juga masih tak percaya. Orang yang dulu menculik ku, kini ia juga yang mendesak kita untuk meresmikan pernikahan."


"Itu semua karena kebaikan hatimu, sehingga mampu menyingkirkan segala keburukan Oma ku. Terima kasih sayang. Berkat kamu juga, akhirnya Oma mau menerima kehadiran umi dengan baik."


"Berterima kasih lah pada Allah mas. Karena Dialah yang menggerakkan hati setiap hamba-Nya."


"Iya-iya sayang. Terima kasih pokoknya." ucap Abrisam sambil mengecup tangan Rosa. Yang membuat wanita itu tersipu malu.


Tak lama kemudian, mobil sudah sampai di depan rumah Rosa. Abrisam mengantar Rosa sampai depan pintu. Belum sempat keduanya mengetuk pintu, ternyata pintu sudah di buka.


"Selamat malam bu. Saya mengantar Rosa pulang dalam keadaan selamat. Terima kasih atas ijin yang diberikan."


"Sama-sama nak Sam."


"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya bu. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam." balas Rosa dan ibunya.


____


Keesokan harinya, setelah sarapan, Rosa duduk di depan tv seperti biasanya bersama Zaidan dan ibunya. Di saat itulah ia bercerita tentang kejadian semalam.


"Apa, kamu ngga bohong kan Ros?" bu Susi benar-benar terkejut dengan ucapan anaknya. Ia tak menyangka, orang yang dulu jahat pada anaknya, kini berubah 180 derajat.


"Tidak ada untungnya Rosa bohong Bu." tandas Rosa.


"Alhamdulillah, akhirnya kesabaran mu berbuah manis nak." ucap Bu Susi dengan wajah yang berbinar. Keduanya saling berpelukan sambil terisak.


"Semua berkat doa ibu juga. Terima kasih untuk semua yang sudah ibu berikan pada Rosa ya bu."


_____


Di rumah Lidya.


Mereka tengah berkumpul untuk menikmati sarapan pagi. Namun sejak tadi, Lidya hanya mengaduk-aduk makanannya. Kedua orang tuanya yang melihatnya sampai di buat heran.


'Apakah yang terjadi semalam? Bukan kah semalam dia baik-baik saja? Lalu kenapa sampai Lidya tidak nafsu makan seperti itu?' batin kedua orang tuanya.


"Lidya, kamu kenapa? Kok makanannya cuma di aduk-aduk saja?" tanya bu Cici.


Lidya mendongak menatap mama dan papanya bergantian.


'Katakan sekarang atau nanti ya? Kalau kak Abi mau melamar ku.' batin Lidya berpikir.


"Lid, semalam nak Abi ngajak kamu kemana?" pak Citro ganti yang bertanya, karena anaknya tidak segera menjawab.


"Eh, itu pa, makan di rumah omanya." lirih Lidya.


"Apa!" seru kedua orang tuanya bersamaan.


"Mama pikir kalian makan di pinggir jalan, atau di restoran gitu. Terus kenapa kamu tampak lesu seperti itu?"


"Em, kak Abi..... mau"


"Mau apa? Kalau ngomong yang jelas dong, jangan bertele-tele seperti itu. Bikin penasaran aja." sahut bu Cici.

__ADS_1


__ADS_2