Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
59. UPS, sorry


__ADS_3

Selama perjalanan pulang, Abrisam sangat antusias bercerita. Ia menceritakan seluruh kejadian yang ia alami selama di Riyadh pada kembarannya itu.


Abigail hanya manggut-manggut menanggapi cerita Abrisam soal Rosa. Ia sudah bisa menebak, jika kembaran nya memang telah jatuh cinta pada ibu muda itu.


Walaupun memang cukup singkat dan konyol, namun itulah yang terjadi. Cinta tak memandang bulu.


'Beruntung sekali Sam. Beli 1 dapat 2. Bisa menikah sama janda cantik dan punya anak yang menggemaskan pula.' batin Abigail.


Sedangkan dirinya, mencintai seorang wanita saja, belum sempat menyatakan perasaannya sudah keduluan orang lain. Meskipun begitu banyak wanita yang menggodanya, namun hanya Lidya yang mampu mengetuk pintu hatinya.


'Apes sekali nasib ku.' batinnya lagi berkata.


"Oh iya, bukan kah kamu ke sana untuk mencari informasi tentang kedua orang tua kandung kita. Kenapa malah membicarakan wanita? Apa kamu sengaja memanas manasi ku? Karena aku belum punya pasangan?"


Abrisam terkekeh dengan ucapan kembarannya.


"Ups, sorry ya. Bukan maksud ku memanas-manasi mu. Aku cuma cerita fakta yang sebenarnya. Ternyata menikah itu memang enak. Apalagi dengan wanita yang umurnya jauh di bawah kita."


"Enak enak, memangnya senjata mu sudah berhasil memasuki gua keramat miliknya."


Abrisam seketika terdiam karena pertanyaan saudara nya.


"Ya belum sih." jawabnya dengan mendengus kesal.


Dan kali ini giliran Abigail yang mentertawakan nya.


"Itu mah sama aja. Nikah kan intinya itu. Eh tapi, sebaiknya jangan dulu. Kasian Rosa, dia kan masih berumur 17 tahun. Organ reproduksinya belum sempurna. Tahan dulu keinginan mu untuk melakukan hal itu."


Abrisam manggut-manggut mendengar penjelasan kembarannya, walau sebenarnya ia juga sudah tidak tahan. Apalagi matanya sudah berulang kali menangkap benda berharga milik wanita itu berulang kali, sehingga selalu terbayang di kepalanya.


Ia menghembuskan nafas, lalu kembali mengganti topik tentang kedua orang tuanya.


Abrisam menceritakan tentang sikap dan sifat kedua orang tuanya yang sangat baik. Berbudi pekerti luhur, taat agama dan sangat menyayangi pasangan nya.


Abrisam juga mengutarakan rasa penasarannya kenapa sampai hati Oma menyembunyikan sebuah fakta yang sebenarnya.


Sedangkan Abigail sampai meneteskan air mata ketika menyadari fakta yang sebenarnya. Orang tuanya memang benar masih hidup, belumlah meninggal seperti kata oma.

__ADS_1


Dalam hatinya yang terdalam, tentu ingin segera berjumpa dengan kedua orang tuanya. Melihat wajahnya, senyum nya, merasakan kasih sayang nya dan masih banyak lagi impian yang menari di kepala ketika suatu saat bisa bertemu dengan orang tuanya.


Sejuta tanya berkumpul memenuhi ruang pikiran nya. Kenapa Oma Sekar sampai tega membohongi kedua cucunya.


"Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Oma Sam." ucap Abigail dengan menggebu-gebu.


"Aku sepemikiran dengan mu. Tapi bagaimana caranya?"


"Apa Oma mencurigai ku karena aku lama di sana?"


"Sepertinya tidak. Tapi, aku juga tidak bisa memastikan." Abigail mengedikkan bahunya.


"Yang penting kita tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa. Sampai kita bisa menemukan fakta yang sebenarnya."


Abrisam manggut-manggut setuju dengan ucapan saudara kembarnya.


Akhirnya, mereka pun sampai di rumah megah Oma Sekar. Keduanya tak langsung turun dari mobil, melainkan pikirannya berkelana tentang masa lalu mereka.


Dulu rumah megah itu menjadi kebanggaan si kembar ketika bermain dengan teman-temannya. Karena hanya rumah mereka yang paling besar dan megah sekompleks.


Setiap makanan yang mereka konsumsi haruslah yang benar-benar steril. Keduanya juga tidak di ijinkan memakan jajanan yang sembarangan. Jika ketahuan, maka Oma akan menghukumnya.


Oma juga tidak segan-segan menghukum keduanya ketika bermain kotor kotoran, apalagi dengan warga kurang mampu.


Bagi Oma, keluarga serta keturunannya harus memilih pergaulan yang tepat, yakni sama-sama bergaul dengan orang yang selevel dengan mereka.


Dan di saat saat keduanya menerima hukuman dari omanya itulah, membuat mereka sadar. Bahwa, rumah megah dengan segala fasilitas yang sangat lengkap, tidak menjamin kebahagiaan seseorang.


Bahkan keduanya seperti hidup dalam sangkar emas. Kemewahan yang di nampakkan dari luar terlihat menarik, namun nyatanya tidak.


Keduanya kini tak lagi membanggakan rumah mewah dan segala fasilitas serta barang barang branded nya kepada orang lain. Karena mereka tahu konsekuensinya, yakni tidak memiliki teman.


Maka dari itu, keduanya diam diam menjalin hubungan pertemanan dengan orang orang di sekitarnya dengan baik. Dan justru itu membuat semangat hidup mereka kian tumbuh, dan terasa berwarna.


Tok...Tok...Tok


Tiba tiba keduanya di kejutkan oleh suara ketukan jendela mobil. Mereka menoleh ke asal suara.

__ADS_1


"Kenapa kalian tidak segera masuk rumah? Apa tidak kangen dengan Oma?"


'Oma?' batin keduanya.


Mereka segera membuka pintu mobil dan menghambur ke pelukan Oma.


"Kenapa kalian nggak segera masuk rumah? Apa yang terjadi?" ulang Oma lagi setelah mengurai pelukan. Si kembar pun saling bertukar pandang.


"Kita cuma kecapekan saja Oma, jadi ngga langsung turun."


Abrisam merangkul bahu omanya, begitu juga dengan Abigail. Ketiganya berjalan beriringan memasuki rumah.


Setelah melepas kangen sesaat, Abrisam segera berpamitan pada Oma. Tak lupa ia kembali mengecup pipi oma sebelum beranjak dari duduknya.


Dan dengan langkah ringan ia menaiki anak tangga di susul oleh Abigail.


Oma yang masih berada di bawah mengamati kedua cucunya yang berjalan beriringan di tangga.


"Permainan apa yang sedang kalian mainkan cucu cucu ku? Aku harus menyelidiki apa yang kalian lakukan." gumam Oma dengan pandangan yang tajam menatap keduanya.


Sinar matahari mulai menerobos masuk melalui jendela kamar, membuat Abrisam menggeliat manja. Ia meraba ranjang king size nya seperti mencari seseorang. Lalu mengerjapkan matanya dan mendengus kesal.


"Ah, aku kira masih di Riyadh." Gumamnya kesal lalu melemparkan bantal nya ke sembarang arah.


Bayangan tidur satu ranjang dengan Rosa masih menari indah di kepalanya. Tiba-tiba ia teringat jika belum melaksanakan sholat subuh. Bergegas ia menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat subuh.


"Ya Tuhan, maaf kan hamba Mu ini yang belum bisa konsisten melaksanakan sholat subuh." gumamnya ketika melihat jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi. Ia pun lantas melaksanakan sholat.


Oma terperanjat kaget ketika membuka pintu kamar Abrisam, dan melihatnya tengah melakukan sholat. Padahal selama ini Oma tahu jika cucunya itu tak pernah sekalipun melaksanakan sholat, sama seperti dirinya.


"Sam."


"Eh, Oma."


Abrisam cukup terkejut ketika melihat omanya sudah duduk di tepi ranjang tempat tidurnya.


"Darimana kamu belajar sholat? Selama ini opa dan Oma tak pernah mengajari mu sholat bukan?" tanya omanya langsung to the point. Ia sangat benci orang yang mengerjakan sholat. Karena hal itu mengingatkan nya pada menantu kampungannya.

__ADS_1


__ADS_2