Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
84. Di pengadilan


__ADS_3

Sementara itu, di dalam kamar hotel. Setelah sholat tahajud, Farhana duduk di tepi ranjang. Matanya terlihat sembab, karena tak henti-hentinya ia terisak. Menahan sesak di dada. Kejadian dulu terulang lagi.


Husein mengucek matanya, dan melihat ke arah istrinya. Ia pun ikut duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya.


"Maafkan sikap mama ku yang masih sama seperti dulu ya sayang."


Farhana berusaha tersenyum. Ia tahu, suaminya sangat mencintainya.


"Aku sudah memaafkannya sebelum ia meminta maaf padaku mas."


"Serius?"


Farhana pun mengangguk.


"Lalu, kenapa kamu menangis?"


"Aku, membayangkan tidak bisa bertemu lagi dengan mereka mas."


"Jika memang belum diijinkan bertemu, kita bisa menelpon mereka kan?"


"Kamu benar mas."


"Telepon saja mereka. Sekalian membangunkan mereka untuk sholat tahajud."


Farhana tersenyum lalu, meraih handphonenya yang berada di atas meja nakas. Ia mulai menekan nomor telepon Abigail.


Sementara itu, di sudut kamar lain. Mendengar dering handphone, Oma Sekar menggeliat sambil mengucek matanya.


"Hem, siapa yang telepon malam-malam seperti ini? Mengganggu saja." gumamnya.


Ia mendekat ke arah nakas, lalu meraih handphone yang tampak menyala layar nya.


Ia semakin mengernyitkan dahi, lalu tersenyum sinis, melihat siapa yang tengah menelponnya. Tanpa ampun ia segera menekan tombol merah untuk mematikan panggilan.


Umi Farhana, mengernyitkan dahi. Bukannya di jawab, Abigail malah mematikan teleponnya. Ia pun mencoba menghubungi anaknya lagi. Begitu seterusnya sampai muncul notif pesan.


Bergegas ia membuka dan membaca isinya. Ia membekap mulutnya, setelah selesai membaca pesan itu. Matanya mulai berkaca-kaca.


Husein mengernyitkan dahi, melihat ekspresi yang ditunjukkan istrinya.


"Ada apa sayang?"


Namun Farhana, enggan menjawab. Suaranya bagai tercekat di kerongkongan.


Husein meraih handphone yang masih berada dalam genggaman istrinya, lalu membaca isinya.

__ADS_1


'Jangan hubungi Abi atau Sam lagi. Kita ngga mau berhubungan dengan abi dan umi. Karena sudah bahagia hidup bersama oma.'


Husein mengernyitkan dahi, seolah tak percaya dengan isi pesan tersebut. Ia pun merengkuh bahu istrinya, agar bersandar dipundaknya.


"Aku tak percaya jika Abi yang mengirim pesan itu sayang." ucap Husein pada istrinya yang masih terisak.


"Aku tahu betul sifatnya. Dia adalah seorang pemuda yang lemah lembut dan penuh perhatian seperti kamu uminya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres."


Farhana berusaha berpikir dengan tenang, lalu menganggukkan kepalanya. Ia memang tak mau mengotori hatinya dengan buruk sangka.


"Tidurlah dulu. Besok pagi kita coba hubungi mereka lagi."


Lagi-lagi Farhana mengangguk patuh. Sambil terus beristighfar, ia memejamkan matanya, hingga akhirnya tertidur dalam dekapan sang suami.


'Apa Abi melakukan itu atas desakan mama? Atau justru, handphone mereka di sita oleh mama? Mama benar-benar kelewatan.' bisik Husein dalam hati.


Sementara di kamar mewah lainnya, Oma Sekar tengah terkekeh, karena berhasil mengerjai Farhana.


"Rasakan pembalasan dari ku, wanita miskin. Siapa suruh untuk bermain-main dengan ku." gumamnya dengan diiringi seringai licik. Setelahnya, ia kembali menenggelamkan tubuhnya dalam selimut tebalnya.


______


Di pagi hari, setelah menunaikan sholat subuh, Lidya mengecek handphonenya. Karena kemarin kehabisan daya.


Ia mengernyitkan dahi ketika membaca pesan dari Abigail.


'Assalamu'alaikum Lidya. Maafkan kakak ya, untuk sementara waktu tidak bisa memberi mu les. Kamu belajar lebih rajin ya, berusaha lah mengingat apa yang sudah kakak jelaskan pada mu. Oh iya, semoga masalah mu dengan lelaki itu cepat selesai. Kakak akan mengirim seorang pengacara untuk memudahkan mu menghadapi persidangan nanti.'


"Hem, kak Abi perhatian banget sih sama aku." gumamnya sambil tersenyum manis. Lalu ia pun mengetik balasan untuk dokter tampan itu.


'Wa'alaikumussalam kak. Tidak apa-apa kak, semoga urusan kak Abi cepat selesai ya. In shaa Allah Lidya akan terus mengingat dan melaksanakan setiap pesan kakak. Terima kasih atas segala bantuannya. Lidya tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas kebaikan kakak selama ini. Semoga kak Abi senantiasa dalam lindungan Allah.'


Lidya berharap pesan itu segera di baca dan di balas. Ia pun memandang layar handphonenya tanpa kedip.


Sekian waktu berselang, tak ada tanda-tanda pesan itu akan di balas. Akhirnya Lidya memilih untuk membuka buku-buku pelajarannya.


Sorot mentari mulai menembus kamar Lidya. Ia bangkit berdiri, dan menyingkap tirai dan membuka jendela. Untuk sesaat ia menghirup dalam-dalam udara pagi.


Tok....Tok....Tok


"Lidya."


Terdengar suara ketukan pintu, dan namanya berulangkali di panggil.


"Iya ma, sebentar." balas Lidya sambil berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Ayo kita sarapan dulu, sebelum berangkat ke pengadilan." ajak mamanya dengan lembut.


Lidya mengangguk patuh, lalu keduanya berjalan beriringan menuju dapur. Gadis itu memang telah menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya.


Tentu saja, kedua orang tuanya sangat murka dengan kelakuan rico. Mereka tidak menyangka, Rico yang notabenenya masih sekolah, sudah bertindak kelewatan dan memiliki perilaku seperti itu.


Keduanya sangat bersyukur, anak gadis satu-satunya tidak sampai menjadi korban Rico selanjutnya.


Saat sedang makan, Lidya menceritakan tentang tawaran bantuan yang diberikan oleh Abigail.


Baru mendengar namanya saja, kedua orang tua Lidya seakan mendapat angin segar. Ditambah lagi dengan bantuan yang ditawarkan. Keduanya sangat bersyukur akan hal itu.


Setelah selesai sarapan, mereka segera bersiap-siap berangkat ke pengadilan.


______


Sementara itu, di tempat lain, yakni kediaman Rosa. Wanita itu juga tengah bersiap-siap untuk berangkat ke pengadilan.


"Rosa, kamu sudah siap nak?" tanya Bu Susi yang menghampiri Rosa di kamarnya.


Rosa sejenak menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh ke arah ibunya.


"Ini Rosa sedang siap-siap Bu. Do'akan Rosa ya, semoga sidang pertama ini, bisa berhasil. Urusannya tidak berbelit-belit."


"Aamiin ya rabbal aalamiin. Sebagai orang tua, ibu memang hanya bisa mendo'akan."


Setelah percakapan singkat itu, Rosa kembali membenarkan jilbabnya, sedangkan ibunya meraih Zaidan yang tertidur di box bayi.


Mereka segera keluar rumah, dan Rosa tak lupa mengunci pintu rumahnya. Yang bertepatan dengan taksi online yang mereka pesan datang.


Rosa sengaja memesan taksi online, untuk mengahadapi cuaca yang tidak bersahabat seperti ini. Kadang hujan turun tiba-tiba, lalu terik matahari menyengat. Yang bisa membuat sakit, jika daya tahan tubuh seseorang tidak kuat.


Taksi online yang mengantar Rosa tiba di pelataran pengadilan, dan tak berselang lama, mobil keluarga Lidya juga datang.


Mereka segera berteduh di bawah rindangnya pohon mangga.


Dari kejauhan, 2 orang pengacara memandang ke arah mereka yang sedang berbincang.


"Saudari Lidya?" tanya seorang laki-laki yang berperawakan tinggi tegap, dan terlihat berwibawa.


Semua menatap ke arah Lidya. Gadis cantik itupun segera mengangguk.


"Iya pak, saya Lidya."


"Perkenalkan saya Hendrik Setiawan, pengacara yang di kirim oleh dokter Abigail untuk membantu anda." ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya, yang segera di balas jabat tangan oleh Lidya.

__ADS_1


__ADS_2