Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
74. Pertemuan Lidya dengan orang tua si kembar


__ADS_3

Tanpa terasa, waktu sudah sore, Rosa seketika teringat Zaidan yang belum ia susui cukup lama. Bergegas ia pamit pada umi Farhana dan Abi Husein.


Lidya pun ikut pamit. Keduanya bersalaman lalu bangkit berdiri. Sedangkan Abigail dan Abrisam masih duduk dengan santai.


"Lhoh, bukannya tadi kalian berangkat bersama. Kok pulangnya ngga bareng?" celoteh umi Farhana.


"Eh, iya umi, kalau begitu kami pamit dulu. Assalamu'alaikum." Abrisam pun menyalami kedua orangtuanya. Hal yang sama dilakukan Abigail.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati nak. Sering-seringlah kesini, mumpung umi dan Abi masih disini."


"Baik umi."


Keduanya pun beriringan keluar kamar. Dan mengejar kedua wanita pujaan hati masing-masing. Beruntung sekali, mereka belum terlalu jauh.


"Lidya, kakak anterin pulang ya."


Lidya menoleh ke belakang, dan memperhatikan Abigail yang tampak ngos-ngosan.


"Nanti Lidya naik ojek saja kak."


"Ngga, kakak ngga tega sama kamu. Kamu harus patuh pada kakak."


Lidya mendengus kesal, lalu berjalan duluan, dan segera di ikuti oleh Abigail.


Sedangkan Abrisam berjalan mensejajari Rosa, sambil mengajaknya bicara. Dan keduanya berpisah ketika sampai parkiran.


"Hati-hati ya di jalan." ucap Abrisam pada Rosa. Ia pun mengangguk sambil tersenyum.


Rosa segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, karena ingin segera sampai rumah. Abrisam yang tega, akhirnya membuntutinya, untuk memastikan ia sampai rumah dengan selamat.


Dan alangkah terkejutnya Rosa, ketika mengetahui Abrisam membuntutinya sejak dari hotel tadi. Ia pun berhenti di pinggir jalan dekat gapura masuk desanya.


Melihat Rosa berhenti, Abrisam pun ikut menghentikan laju mobilnya sambil mengernyit heran. Bergegas ia keluar dari mobilnya dan menghampiri Rosa.


"Apa terjadi sesuatu Rosa?"


"Kenapa kamu membuntuti ku mas?" bukannya menjawab, Rosa justru bertanya balik pada Abrisam, yang membuat lelaki itu menyunggingkan senyum.


"Aku khawatir padamu, makanya membuntuti mu. Kalau butuh apa-apa, atau mau kemana, kamu bilang aku saja, nanti aku antarkan." tawar Abrisam.


"Ha....." Rosa membuka mulutnya tak percaya.

__ADS_1


"Mas, tolong jangan membuat ku melambung, dan segera pertegas hubungan kita. Aku tidak ingin mempermainkan agama ku terlalu jauh, aku takut dosa. Jangan sampai juga, membuat salah satu dari kita merasa tersakiti. Aku sudah menuruti apa mau mu. Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, aku pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum."


Abrisam melongo mendengar ucapan Rosa, yang kini telah berlalu meninggalkannya. Ia dengan langkah gontai kembali masuk mobil.


Sepanjang perjalanan pulang, ia terus memikirkan ucapan Rosa. Ia sadar, tak seharusnya melibatkan Rosa terlalu jauh.


_____


Sedangkan Lidya tampak duduk anteng di dalam mobil Abigail. Sesekali, lelaki itu mencuri pandang ke arah gadis cantik disampingnya.


"Kakak, kenapa kamu tidak tinggal dengan kedua orang tuamu?" celetuk Lidya memecah keheningan.


Abigail pun menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia pun juga tak tahu kenapa bisa berpisah dengan kedua orang tuanya. Ia malu mengakui pada Lidya jika keluarganya tengah bermasalah.


Lidya pun sejak tadi menatap Abigail yang tak kunjung berbicara. Hingga akhirnya ia menyadari jika terlalu ikut campur urusan dokter muda yang ada di hadapannya.


"Baiklah, Lidya tak kan lagi bertanya. Mungkin itu privasi kakak. Maafkan Lidya yang ngotot ingin tahu." setelah berkata seperti itu, Lidya mengalihkan pandangannya dengan menatap ke arah luar.


Abigail menoleh ke arah Lidya yang tampak kecewa.


"Jika kakak menceritakan suatu hal padamu, apa kamu mau berjanji untuk tidak menceritakan hal ini pada siapapun juga?"


"Iya aku berjanji kak." Lidya pun menganggukkan kepalanya, lalu menatap Abigail.


"Jika aku bisa bantu, pasti aku akan melakukan apapun untuk mengungkap semua kak." cicit Lidya setelah Abigail berhenti bercerita.


"Doakan saja, semoga kami bisa menemukan titik terangnya."


Lidya mengangguk sambil tersenyum. Tanpa terasa keduanya telah sampai di rumah Lidya.


"Terima kasih untuk semua kebaikan yang kakak berikan pada ku. Semoga segala urusannya dimudahkan Allah." ucap Lidya sebelum turun.


"Aamiin. Terima kasih doanya Lidya." Abigail tersenyum manis pada Lidya. Keduanya saling beradu pandang cukup lama.


Semakin memandang Lidya, semakin membuat hati Abigail tak karuan.


"Aku pamit dulu ya kak. Assalamu'alaikum." lagi-lagi Lidya tersenyum manis ke arahnya, lalu segera turun dari mobil.


"Wa'alaikumussalam." balas Abigail sambil memperhatikan Lidya yang berjalan memasuki rumahnya. Bahkan gadis cantik itu pun tersenyum ke arah Abigail sambil melambaikan tangannya.


Abigail melajukan mobilnya pulang dengan perasaan yang berbinar bahagia, karena perhatian yang ditunjukkan oleh Lidya.

__ADS_1


Abrisam dan Abigail bersamaan memasuki pelataran rumah megahnya.


Keadaan keduanya berbanding terbalik, Abigail keluar dari mobil dengan keadaan berbinar dan Abrisam keluar dari mobil dengan muka di tekuk.


"Kenapa muka mu seperti itu?" Abigail menepuk bahu Abrisam.


"Ntar aku ceritakan di kamar. Aku butuh teman curhat." balas Abrisam datar.


Keduanya menyapa dan memeluk omanya yang sedang duduk di ruang tamu seperti biasanya.


"Kenapa raut wajah kalian terlihat berbeda?" celetuk omanya.


Si kembar pun saling beradu pandang.


"Sam kecapekan Oma."


"Yakin?"


"Iya Oma, Sam ke kamar dulu ya."


Abrisam pun segera melangkah meninggalkan ruang tamu, beriringan dengan Abigail. Oma pun memandang tajam ke arah kedua cucunya.


"Awas kalian. Oma akan bongkar semuanya." desis Oma Sekar.


Setelah selesai mandi dan makan malam, Abrisam ikut masuk ke kamar Abigail, dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Habis makan jangan langsung tidur, nanti bisa obesitas."


"Bodo amat. Ayo sini, aku pengen segera cerita." Abrisam menepuk tempat tidur disebelahnya.


Akhirnya, Abigail mengikuti kemauan kembarannya. Abrisam pun mulai menceritakan tentang kegundahan hatinya pada kembarannya, tanpa ada yang ditutupi.


"Terus aku harus gimana Bi? Tak bisa di pungkiri, aku semakin mencintainya." ucap Abrisam setelah selesai bercerita.


"Kalau kamu benar-benar mencintainya, ya harus diperjuangkan. Atau, kalau perlu bicaralah dengan kedua orang tua kita. Siapa tahu, dengan mendapat saran dari mereka, masalahmu bisa terpecahkan."


Abrisam manggut-manggut menanggapi ucapan kembarannya. Bagaimana pun juga, kedua orang tuanya harus tahu. Ridho Allah tergantung dengan ridho orang tua. Ia berniat esok hari, akan kembali menemui orang tuanya untuk menjelaskan yang terjadi.


"Kalau kamu, apakah akan memperjuangkan gadis SMA itu?" tanyanya balik. Namun Abigail hanya mengedikkan bahunya.


Bagi Abigail, cinta sejati itu tak harus memiliki. Cinta sejati adalah membiarkan orang yang kita cintai bahagia dengan kehidupannya. Dan memastikan kebahagiannya, serta selalu melindunginya.

__ADS_1


Jika Lidya ditakdirkan menjadi jodohnya, pasti Allah punya cara tersendiri, untuk mendekatkan nya. Ia tak mempermasalahkan akan menikah di umur berapa. Asalkan bisa menikah dengan orang yang tepat. Itulah prinsip Abigail.


__ADS_2