Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
87. Menangisi laki-laki


__ADS_3

Terdengar bunyi notif pesan, Rosa menengok ke handphonenya. Terlihat nama Abrisam, ia pun segera membukanya.


Matanya terbelalak sempurna, lalu mulai berkaca-kaca, hingga akhirnya tak mampu menahan gelombang air, yang kian melesat. Ia pun menangis.


Ibunya yang masih berada disampingnya, mengernyitkan dahi melihat perubahan drastis yang terjadi pada Rosa.


"Rosa, Ros, kamu kenapa?" tanya ibunya, namun Rosa masih saja terisak.


Ibunya semakin khawatir, lalu mengambil handphone Rosa yang tergeletak. Dan mulai membaca isinya.


'Hei wanita bodoh nan kampungan. Aku benci berkenalan dengan mu. Asal kamu tahu, aku tak sudi untuk bertemu dengan kamu lagi. Jangan ganggu hidupku, jika tak ingin menyesal di kemudian hari.'


Bu Susi menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya jika Abrisam tega mengirimkan pesan itu pada anaknya.


Padahal selama ini, ia melihat Abrisam sangat baik dan menyayangi Zaidan seperti anaknya sendiri. Segala kemewahan juga ia berikan untuk Rosa sekeluarga.


'Lalu, atas dasar apa Abrisam mengirim pesan yang membuat Rosa bersedih?' batin Bu Susi.


Ia pun segera merengkuh bahu putrinya, lalu mengusapnya dengan penuh kelembutan.


Hati ibu mana yang tega, melihat anaknya mendapat umpatan kata-kata kasar seperti itu?


______


Di sudut kamar lain, setelah makan malam selesai, Lidya kembali ke kamarnya. Ia segera meraih handphonenya.


Matanya berbinar ketika melihat nama Abigail muncul dalam notif pesan. Bergegas ia membuka dan membaca isinya.


'Hai gadis SMA. Masih kecil saja belagu. Jangan sok deketin aku. Aku ngga suka bertemu dengan mu lagi. Jadi aku harap kamu menjauh dari kehidupan ku. Atau, kamu akan menyesal dikemudian hari. Camkan itu.'


Air mata Lidya tumpah seketika. Ia tak menyangka dokter tampan yang selalu mewarnai hari-harinya dengan banyak nasehat, ilmu dan canda tawa, tega berkata seperti itu padanya.


"Memang Lidya salah apa pada kakak? Kenapa kakak tiba-tiba bicara seperti itu?" gumam Lidya disertai isak tangis.


Malam kian merangkak naik, Lidya masih saja menangis. Hanya Abigail seorang yang mampu membuatnya menangis histeris seperti itu.


_____


Setelah Zaidan tertidur, Rosa duduk di tepi ranjang tempat tidurnya. Berulang kali ia membaca pesan dari Abrisam, berharap ia salah membaca. Namun, tetap saja deretan tulisan itu tidak berubah.


"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku mas? Sungguh, kamu laki-laki yang paling aku benci seumur hidupku." tangis Rosa pun kembali tumpah.


Dan, di malam yang sama itu, baik Lidya maupun Rosa menghabiskan waktunya untuk menangisi pesan dari lelaki yang selalu menaruh perhatian padanya.

__ADS_1


Hingga pagi menjelang, keduanya tak sedikit pun bisa tertidur.


Zaidan terbangun sambil terisak, Rosa pun segera memberinya asi. Seakan tahu kondisi ibunya yang sedang tidak baik-baik saja, bayi itu juga ikut terisak.


Rosa pun berinisiatif menenangkannya dengan cara menyusuinya sambil menggendong, dan berjalan mondar-mandir.


Namun tetap saja, bayi itu tidak mau berhenti menangis. Bu Susi yang kebetulan mendengar suara tangisan cucunya sejak tadi, membuka pintu kamar Rosa.


"Rosa, apa yang terjadi dengan Zaidan?" tanyanya sambil mendekat ke arah Rosa dan bayinya.


"Tidak panas." gumam Bu Susi sambil menempelkan tangannya ke kening Zaidan.


Ia pun mendongak ke arah Rosa, dan alangkah terkejutnya ia, ketika melihat mata Rosa yang bengkak.


"Rosa, apa semalaman kamu menangis?"


Bukannya menjawab Rosa justru kembali menangis. Membuat ibunya juga ikut sedih.


"Sudah Rosa, jangan menangis. Air mata mu terlalu berharga untuk laki-laki pengecut seperti mereka. Kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari dia."


Setelah berkata seperti itu, Bu Susi segera menggendong Zaidan keluar. Dan meninggalkan Rosa sendirian di kamar.


"Ibu benar, air mata ku terlalu berharga untuk laki-laki pengecut seperti mereka. Alhamdulillah, untung saja aku mampu menjaga diri. Tidak sampai menyerahkan diriku sepenuhnya padanya." gumam Rosa, lalu menyeka air matanya.


______


Gadis itu segera membuka tirai dan jendela kamarnya seperti biasanya. Setelahnya, ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur sambil membuka kembali pesan dari Abigail.


"Kenapa kakak tega berkata seperti ini pada Lidya?" gumamnya lagi sambil menangis.


Sekian menit berlalu, tiba-tiba ia merasakan pusing. Karena semalaman ia tak tidur. Akhirnya, ia memejamkan matanya hingga tertidur.


Tok...Tok....Tok


"Lidya, sudah siap belum? Waktunya sekolah."


Berulang kali Bu Cici mengetuk pintu sambil berteriak. Namun tak ada balasan sama sekali. Membuat ia mengernyit heran.


"Hem, dasar, anak manja. Jam segini belum juga bangun."


Dengan pelan, ia memutar knop pintu yang tidak di kunci. Kepalanya menyembul ke dalam, lalu memindai setiap sudut ruangan.


Matanya mengunci sosok Lidya yang masih terbaring di atas ranjang tempat tidur. Bu Cici mendekatinya, dan alangkah terkejutnya ia, melihat mata Lidya yang tampak bengkak.

__ADS_1


"Lidya, apa yang terjadi dengan mu sayang? Matamu bengkak seperti habis menangis semalaman." gumamnya sambil membelai wajah putri satu-satunya.


Bu Cici menunggu sekian menit, namun Lidya tak kunjung bangun. Akhirnya ia membiarkan anaknya untuk tidur.


Dengan langkah pelan, Bu Cici keluar dari kamar Lidya. Ia menyusul suaminya yang sudah berada di dapur.


"Kok Lidya ngga ikut ma?" tanya pak Citro sambil menyuap nasi ke mulutnya.


"Gimana mau ikut, Lidya saja masih tertidur pulas."


"Uhuk...Uhuk."


Pak Citro terbatuk-batuk ketika mendengar jawaban dari istrinya. Ia melirik arloji di pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul 7.


"Terus mama ngga bangunin dia?"


Bu Cici menggeleng sambil mengambil 1 centong nasi.


"Mama ini gimana sih? Jam segini anak belum bangun, waktunya sekolah, kok malah di diamkan saja. Mau jadi apa dia nanti?" cerocos pak Citro.


Bu Cici menghela nafas panjang.


"Papa, jangan asal marah-marah dong. Mama tidak mau membangunkan Lidya. Karena tampaknya semalaman ia menangis. Matanya terlihat sembab dan besar-besar."


Pak Citro terdiam sekian waktu, sambil mencerna apa yang diucapkan istrinya.


"Kira-kira apa yang terjadi dengannya ma?"


"Kalau mama tahu, pasti sudah bilang dari tadi kan?"


"Hem, ya sudah, papa berangkat ke kantor dulu." ucap pak Citro sambil bangkit berdiri. Bu Cici mencium punggung tangan suaminya.


Setelah membereskan makanan, Bu Cici kembali ke kamar Lidya. Melihat Lidya yang tampak tertidur pulas. Bu Cici segera melakukan aktivitas lainnya.


Matahari kian merangkak naik, suara adzan dhuhur terdengar samar-samar. Lidya menggeliat sambil membuka matanya yang terasa berat.


"Hah, suara adzan." ucapnya sangat terkejut. Bergegas ia berlari mengambil air wudhu.


Saat hendak memakai mukena, pandangannya tak sengaja menatap ke arah luar.


"Ini tadi suara adzan sholat subuh apa Dhuhur ya?" gumamnya sambil garuk-garuk kepala.


Akhirnya ia membuka handphonenya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang.

__ADS_1


"Hah, astaga, jadi ini sudah jam 12 siang? Berarti hari ini aku bolos sekolah dong?" gumamnya lagi.


"Gara-gara menangisi seorang lelaki, aku sampai bolos sekolah."


__ADS_2