Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
117. Menjemput Rosa


__ADS_3

Mendengar nama Farhana, Sekar segera beranjak dari duduknya. Ia keluar diiringi oleh Husein menuju dapur.


Semua telah berkumpul mengelilingi meja makan. Melihat kedatangan Sekar, Farhana segera menggeser kursi untuknya.


Mereka pun kembali menikmati masakan buatan Farhana. Sekar tampak menikmatinya.


Setelah selesai makan, Sekar menyuruh kedua cucunya untuk menemuinya di kamarnya. Dengan perasaan yang tak menentu keduanya berjalan menuju kamar omanya.


"Tebak, kira-kira apa yang akan disampaikan oleh Oma?" bisik Abrisam pada kembarannya.


Abigail mengernyitkan dahi, sambil mencoba berpikir apa yang akan disampaikan oleh omanya. Namun kali ini ia tak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran omanya. Akhirnya ia hanya bisa mengedikkan bahu.


Abrisam mengetuk pintu, dan tak lama kemudian terdengar jawaban Oma, yang menyuruhnya untuk masuk.


Keduanya mendekati Oma yang duduk di tepi ranjang tempat tidur.


"Ada apa Oma menyuruh kami kesini?" tanya Abrisam.


Sesaat Oma menatap kedua cucunya bergantian.


"Malam Minggu, ajak kedua gadis itu malam disini. Kalau perlu jemput mereka pakai mobil kalian."


Si kembar saling beradu pandang, karena terkejut dengan perkataan omanya yang tak disangka-sangka itu.


'Apakah aku salah dengar? Oma mengajak Lidya dan Rosa makan malam bersama. Apakah oma memiliki rencana lain?' batin keduanya. Mereka pun terdiam sambil berpikir.


"Kenapa diam saja? Apa kalian tidak mendengar ucapan oma?"


"Eh, i_iya Oma. Kita dengar." walaupun ragu, mereka terpaksa menyunggingkan senyum.


"Pastikan keduanya datang."


"Baik oma."


Setelah percakapan itu, si kembar berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Keduanya bercakap-cakap mengenai perintah Oma yang tak masuk akal tadi.

__ADS_1


"Kira-kira Oma sedang merencanakan apa ya Bi. Aku bingung sendiri dengan jalan pikirannya." keluh Abrisam. Namun Abigail hanya mengedikkan bahu.


Dalam hatinya, meskipun ia tidak tahu rencana omanya, ia ingin melindungi Lidya dari hal buruk yang bisa saja dilakukan omanya.


_____


Hari yang dinantikan Oma Sekar pun tiba. Kedua cucunya telah bersiap untuk menjemput pujaan hati masing-masing. Sepanjang perjalanan, mereka sangat deg-degan. Sampai akhirnya mobil sampai di rumah yang di tuju.


Setelah memastikan penampilan rapi, dan berdehem berulang kali untuk menghilangkan kegugupan. Abrisam turun dari mobil.


Kaki jenjangnya menapaki pelataran rumah Rosa yang sengaja di tanami rumput. Hanya tiga kali ketukan, terdengar suara pintu yang tengah di buka.


Rosa membulatkan matanya melihat Abrisam yang tengah berdiri dihadapannya sambil tersenyum hangat.


"Ke_kenapa mas Sam tidak bilang kalau mau kesini?"


"Aku kesini mau mengajak mu makan malam bersama."


Kening Rosa semakin berkerut mendengar ajakan Abrisam yang tak biasa. Apalagi ia teringat jika seorang lelaki yang mengaku sopirnya pernah menjemputnya untuk hal seperti itu.


Akhirnya Rosa memutuskan untuk menerima ajakan makan malam itu. Melihat Abrisam sendiri lah yang menjemputnya. Ia pun masuk rumah, untuk mengganti pakaiannya dan berpamitan pada ibunya.


"Kamu harus tetap berhati-hati dan waspada Ros. Jika berangkat di jemput nak Sam, maka pulang pun harus dengannya juga."


"Baik bu. Rosa akan patuhi semua nasehat ibu."


Setelahnya ia ke kamar untuk bersiap-siap. Cukup lama ia menghabiskan waktunya untuk memilih baju yang cocok untuk malam itu. Lalu memoles sedikit wajahnya.


"Ibu, titip Zaidan dulu ya." Ibunya mengangguk, lalu mengantarkannya sampai pintu.


"Aku sudah siap mas." ucap Rosa mengejutkan Abrisam.


Lelaki itu menoleh ke arah Rosa, dan terlihat membulatkan matanya. Ia takjub dengan pesona Rosa yang kian sempurna.


Rosa tampak cantik memakai gamis berwarna marun yang dipadukan dengan jilbab berwarna pink.

__ADS_1


"Pamit dulu ya bu, assalamu'alaikum." ucap Rosa sambil mengecup punggung tangan ibunya. Yang membuat Abrisam tersadar dari lamunannya. Ia pun turut mencium punggung tangan ibu mertuanya.


Setelahnya keduanya berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan. Tak lupa Abrisam membukakan pintu samping kemudi, lalu baru dirinya.


Sepanjang perjalanan, Abrisam tampak mencuri pandang ke arah Rosa. Terlihat ia juga menyunggingkan senyum tipis karena merasa bahagia bisa berduaan dengan wanita yang dicintainya.


"Mas, nanti hanya makan malam biasa kan?" tanya Rosa dengan gugup.


"Eh, mungkin iya. Kenapa memangnya?"


"Tidak apa-apa. Kalau begitu kita makan di warung tenda saja. Aku lagi pengen nasi goreng."


Abrisam terkejut dan ingin tertawa mendengar ungkapan polos istrinya. Baginya itu terlalu sederhana.


"Kenapa kamu terlihat menahan tawa mas? Memang ada yang aneh dengan ucapan ku."


"Eh, ngga ada kok. Cuma aku heran saja. Biasanya cewek itu senengnya di ajak makan malam di tempat yang wah, dan makanannya menu western. Tapi kamu berbeda. Kamu terlihat apa adanya."


"Oh, makanan lokal saja sudah enak, mengenyangkan dan tentunya murah mas. Ngapain harus yang sok kebarat-baratan. Justru aku bingung mau makan." celoteh Rosa, apa adanya.


Lagi-lagi Abrisam terkekeh mendengar kepolosan istrinya. Tanpa terasa mobil memasuki rumah mewah Oma Sekar. Rosa seketika tegang. Ia tak menyangka jika Abrisam membawanya ke rumah tempat ia di sekap dulu.


"Ayo turun sayang." ajak Abrisam sambil membuka pintu mobil untuknya.


"Kenapa kesini mas?"


"Memangnya kenapa?"


"Aku pikir kita akan malam berdua, atau makan malam di hotel bersama abi dan umi."


"Di dalam juga ada abi dan umi."


Rosa masih duduk dengan raut wajah pias. Abrisam berjongkok sambil menggenggam tangannya.


"Kamu tidak perlu takut, jika terjadi sesuatu dengan istri ku. Aku akan bertanggungjawab." setelah itu, Abrisam mengecup tangan Rosa yang tampak dingin.

__ADS_1


Melihat perlakuan Abrisam yang selalu saja istimewa, membuat hati Rosa luluh. Dengan bergandengan tangan keduanya memasuki rumah mewah itu.


__ADS_2