Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
36. Menyatakan cinta


__ADS_3

"Rico." gumam Lidya, dan Rico mendongakkan kepala melihat Lidya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Lidya, kamu semakin cantik saja." ucap Rico di iringi senyum.


"Ada perlu apa kamu kesini?" bukannya berterima kasih atas pujian yang Rico ucapkan, Lidya justru menanyakan hal lain.


Begitu banyak teman-teman sekolah Lidya yang memuji dan menyatakan perasaan padanya, tapi selalu ia abaikan. Karena sama sekali Lidya tak tertarik pada mereka. Apalagi Rico, yang belakangan ini baru ia kenal karena suatu ketidaksengajaan.


"Aku tadi habis dari rumah teman ku, mampir kesini." ucap Rico beralasan.


Sebenarnya ia dari rumah memang ingin menemui Lidya. Kecantikannya membuat Rico begitu tergila-gila padanya. Sehingga nekat melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian Lidya.


"Kamu ngga mempersilahkan aku duduk?"


"Bukankah kamu tadi sudah duduk." balas Lidya datar.


Rico meringis mendengar jawaban Lidya yang memang benar. Ia kembali duduk. Begitu juga Lidya yang kini duduk di hadapannya.


Rico seakan ingin meneteskan air liur melihat Lidya yang memakai tang top dan hot pant. Sedangkan Lidya hanya diam menunggu Rico berbicara.


"Kamu kesini cuma mau duduk saja begitu?" tanya Lidya yang membuyarkan lamunan Rico.


"Eh, eng_enggak gitu maksud ku Lid." ucap Rico sambil meringis. Akhirnya ia segera mencari topik bahasa agar Lidya senang menyambut kedatangannya.


Rico pun mulai bercerita tentang banyak hal, dan Lidya berusaha menjadi pendengar yang baik. Setelah satu jam lebih bercakap-cakap Rico pamit pulang.


"Aku pamit pulang dulu ya Lid, besok pagi aku jemput, kita berangkat sekolah sama sama."


"Hem, baiklah." ucap Lidya akhirnya, terus terang ia juga tak enak karena selama ini menolak ajakannya.


"Yess...." Seru Rico dengan wajah yang berbinar, akhirnya Lidya mau menerima tawarannya.


Dan sejak saat itu, Rico terus mengantar jemput Lidya saat berangkat dan pulang sekolah.


Di hari libur, keduanya juga pergi bermain ke tempat wisata. Tentunya Rico harus mengeluarkan bujuk rayunya terlebih dahulu agar Lidya mau.


Hubungan keduanya pun semakin dekat. Hingga suatu hari Rico menyatakan perasaannya pada Lidya.


Lidya begitu terkejut dengan ucapan Rico yang spontan itu. Sehingga ia tak jadi menyendok baksonya.

__ADS_1


"Sepertinya aku tak bisa menjawab sekarang Ric." kata Lidya mencoba mencari alasan.


"Okay, aku tunggu jawaban mu secepatnya Lidya. Aku berharap jawaban mu ngga mengecewakan ku." ucap Rico.


"Sudah malam, ayo kita pulang." ajak Lidya pada Rico. Seleranya menikmati bakso hangat di tengah rintik hujan tiba-tiba menguap begitu saja, ketika mendengar Rico menyatakan perasaannya.


"Habiskan dulu Lidya sayang, baru kita pulang." pinta Rico dengan mesra.


"Jangan panggil panggil seperti itu ah, aku ngga suka."


"Iya iya maaf." ucap Rico sambil terkekeh. Lidya kembali menyendok makanannya.


Dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terus memperhatikan.


Dialah Abigail, yang sejak tadi bersama dengan teman-teman nya berada di warung bakso itu.


Meskipun ia adalah keturunan orang kaya, berprofesi sebagai seorang dokter, tak membuatnya menjauhi makanan kelas rendah seperti bakso.


Tapi hal itu ia lakukan diam diam, agar tidak ketahuan omanya. Karena jika sampai ketahuan, omanya bisa memarahi nya. Katanya makanan seperti itu tak level untuk keluarga nya. Tapi Abigail justru menyukainya.


"Woi, tumben cuma di aduk-aduk saja, biasanya juga habis duluan."


"Eh, eng_enggak kok." balas Abigail gelagapan.


Entah kenapa melihat Lidya duduk berdua dengan seorang cowok, membuat hatinya sakit.


Apalagi samar-samar ia sempat mendengar cowok itu memanggil Lidya dengan kata sayang. Hatinya semakin tak terima.


Tapi, ia tak bisa melakukan apapun. Karena hubungan keduanya hanya sebatas guru dan murid les.


"Huh!"


Dengan bersungut-sungut kesal, Abigail menusuk bakso dengan garpunya karena melihat pemandangan yang tidak mengenakkan itu.


"Woi, kamu kenapa sih? Jadi aneh gini?" maki teman yang duduk di depan Abigail, karena bakso yang Abigail tusuk meloncat ke mangkuk nya, sehingga temannya yang hendak makan itu, terciprat kuah bakso yang panas sekaligus pedas.


Teman-temannya yang lain terkekeh melihat hal itu.


"Hust, diam." bisik Abigail pada teman-temannya.

__ADS_1


Ia takut jika sampai Lidya melihatnya ada di situ. Walaupun mereka duduknya agak berjauhan, tapi mendengar teman-temannya yang berisik, pasti Lidya akan mendengarnya.


"Kamu kenapa sih? Perasaan tadi datang masih biasa saja, kenapa setelah masuk sini, jadi luar biasa. Apa kesambet?" celetuk salah satu temannya, sehingga membuat mereka kembali tertawa. Dan itu mengundang perhatian Lidya dan Rico yang langsung menoleh ke arah meja Abigail. Spontan Abigail langsung menunduk di bawah meja.


"Bi, kamu kenapa sih? Aneh-aneh saja, pakai sembunyi di bawah kolong meja."


"Ngga panas." kata salah satu temannya sambil menempelkan tangannya di kening Abigail.


"Ah kalian apa-apaan sih." gerutu Abigail yang sejak tadi tidak suka dengan ulah teman-teman yang selalu mengintrogasi nya.


Setelah teman-temannya selesai makan bakso, mereka segera berdiri hendak membayar lalu pulang. Tapi, dengan gerak cepat Abigail menyuruh mereka kembali duduk.


"Plis dong, aku masih ingin di sini. Temani ya, ntar aku yang bayar makanan kalian." pinta Abigail. Hanya ada satu pintu keluar, tak mungkin Abigail keluar duluan, pasti Lidya akan melihatnya. Sehingga terpaksa ia menahan teman-temannya untuk tetap duduk.


Akhirnya Rico pun bangkit berdiri membayar makanannya dengan Lidya.


Setelah itu, ia kembali menghampiri Lidya yang masih duduk di kursinya. Kini keduanya pun berjalan beriringan.


Melihat Lidya sudah keluar, seketika Abigail bernafas lega. Bergegas ia bangkit berdiri dan membayar total makanan. Setelah itu, mereka pulang dengan mengendarai mobil masing-masing.


Sepanjang perjalanan pulang, Abigail terus memikirkan Lidya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia jadi sering memikirkan murid les nya itu.


Sesampainya di rumah, Abigail berjalan dengan gontai. Hingga ia tak menyadari jika Abrisam berjalan di belakangnya.


"Woi, lemes banget kenapa Bi?" Abrisam menepuk bahu saudara kembarnya itu dari belakang, hingga membuatnya tersentak kaget.


"Ah, kamu Sam, bisanya cuma ngagetin orang saja." balas Abigail sambil mengusap dadanya.


"Siapa yang ngagetin? Kita pulangnya bareng lho. Sejak tadi aku berada di belakang mobil mu. Kamu habis jajan bakso kan?"


"Hust, jangan keras-keras, nanti aku bisa di marahi oma." kata Abigail sambil menutup mulut nya dengan telunjuk tangannya, yang membuat Abrisam terkekeh.


"Lagian, aku heran sama kamu, sudah di larang, masih saja nekad." ucap Abrisam sambil geleng-geleng kepala.


"Halah, kayak kamu ngga pernah saja. Aku juga pernah lihat kamu beli ketoprak di pinggir jalan." balas Abigail sewot.


Keduanya terkekeh bersama, menyadari kekonyolannya.


"Aku ngga habis pikir dengan sikap oma. Kenapa terus melarang kita jajan di pinggir jalan, seperti anak kecil saja. Padahal makanannya lebih enak dan murah." ucap Abrisam.

__ADS_1


"Makanan siapa yang lebih enak dan murah Sam?" kata oma yang mengejutkan keduanya.


__ADS_2