
Pengacara mereka pulang mengendarai mobil masing-masing. Rosa bersama ibunya mengendarai motornya. Lidya bersama kedua orang tuanya naik mobil. Dan, keluarga Abi Husein menaiki taksi online menuju ke hotel. Sebelumya mereka telah bersalaman terlebih dahulu.
Tanpa mereka ketahui, sejak tadi kedua pasang mata terus memperhatikan keduanya tanpa kedip. Setelah itu, mereka melaporkan pada bosnya.
"Bagus, awasi terus kegiatan mereka." ucap suara di seberang sana.
Setelah panggilan terputus, wanita itu bermonolog seorang diri.
"Sejenak akan aku biarkan mereka terbang ke awan. Setelah itu, mereka akan ku hempaskan ke jurang yang terdalam." sengit wanita itu.
_____
Setelah sampai rumah, Rosa segera menidurkan bayinya. Lalu ia segera membungkus paket pesanan dari pelanggan , sampai sore menjelang.
Sedangkan Lidya sesampainya di rumah langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia merasakan hatinya sangat lega, karena masalahnya telah selesai. Tak lama kemudian, ia langsung tertidur pulas.
Sedangkan si kembar yang baru saja menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, kembali memulai obrolannya mengenai usaha apa yang akan keduanya jalani untuk mendapatkan uang.
"Aku akan membuka les bimbel saja." celetuk Abigail. Ia ingin mewujudkan keinginannya untuk menjadi seorang guru, walaupun hanya sekedar guru les.
"Kalau begitu, aku ingin jadi polisi saja. Mewujudkan keinginan ku yang tertunda."
"Heh, jadi polisi butuh uang yang banyak kali." Abigail menoyor kepala kembarannya.
"Memangnya buka bimbel juga ngga butuh modal?" tukas Abrisam.
Keduanya merogoh dompet dan melihat isinya, yang ternyata memang tidak ada lagi gambar presiden Soekarno. Mereka pun mendengus kesal.
"Sepertinya kita tidak akan pernah bisa mewujudkan keinginannya kita." ucap mereka bersamaan.
"Besok kita cari kerjaan saja,. sesuai dengan keahlian kita." usul Abrisam, kembarannya pun mengangguk setuju.
Malam tiba, selepas makan malam bersama, mereka bersama-sama membersihkan sisa makanan dan peralatan.
Setelah itu mereka berkumpul di depan tv sambil selonjoran.
"Rencana kalian selanjutnya apa?" Husein kembali membuka percakapan.
"Kita mau mencari pekerjaan yang sesuai dengan pengalaman kita saja bi. Karena tidak mungkin bagi kita untuk membuka usaha. Dimana perlu membutuhkan modal yang banyak." Abrisam mengatakan yang sejujurnya.
"Berapa modal yang kalian butuhkan untuk membuka usaha?"
Si kembar saling beradu pandang, sebelum akhirnya menjawab.
__ADS_1
"Kami belum memperkirakan. Yang jelas modalnya pasti banyak. Itu alasannya kita lebih baik mencari kerja dulu saja, untuk mengumpulkan modal dalam membuka usaha."
Abi Husein menggelengkan kepalanya, sambil menghembuskan nafas.
"Hitung berapa modal yang kalian butuhkan, biar Abi yang siapkan modalnya."
"Jangan bi." serentak si kembar menolak, sehingga membuat kedua orang tuanya mengernyit heran.
"Kita tidak mau merepotkan abi. Biar kita usaha sendiri. Selama ini kita hidup monoton, tanpa ada lika-liku nya. Yah, anggap saja semua ini awal dari perjuangan kami." kata Abrisam. Kedua orang tuanya manggut-manggut mendengar penjelasan anaknya.
"Betul apa yang dikatakan Sam bi, kami tidak mau merepotkan atau bergantung pada siapapun juga. Termasuk orang tua kita sendiri." imbuh Abigail.
Kedua orang tua mereka pun mengulum senyum, karena sangat bangga dengan kedua anaknya.
"Baiklah, jika itu yang menjadi keputusan kalian. Kami akan lihat, sejauh kalian berusaha." kata Husein, dan Farhana pun mengangguk setuju.
Dalam hati wanita itu, tentu saja selalu mendoakan keberhasilan kedua anaknya.
"Bolehkah kami minta sesuatu pada abi dan umi?" tanya Abrisam terlihat serius.
"Apa itu nak?"
Sejak tadi umi Farhana yang diam saja, akhirnya buka suara.
Kedua orang tua yang masih tampak muda itu saling bertukar pandang. Sejujurnya mereka juga ingin bersatu dan berkumpul dengan anak-anaknya.
Namun pekerjaan Husein di Riyadh tak bisa untuk ditinggal dalam kurun waktu yang lama. Akhirnya Husein pun memberi pengertian kepada anak-anaknya.
"Kalau begitu, kami saja yang ikut ke Riyadh. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu abi." ucap Abrisam.
"Iya, bahkan jadi cleaning servis pun kami mau." imbuh Abigail dengan penuh keyakinan.
"Lalu bagaimana dengan wanita kalian?" celetuk umi Farhana.
"Tentu saja akan kami bawa." jawab Abrisam santai.
"Eh, lalu bagaimana dengan ku?" protes Abigail, karena perasaannya saja belum ia utarakan pada Lidya.
Mendengar celotehan Lidya tentang masa depannya, membuat kesal hati Abigail.
Mereka pun sejenak tertawa dengan kepolosan Abigail.
"Makanya, kamu utarakan dengan jelas. Biar si Lidya itu paham. Lagian dia itu cantik tapi otaknya....." Abrisam sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, melihat Abigail mulai memelototinya.
__ADS_1
"Sudah, kalian jangan bertengkar terus ah. Nanti umi balik ke Riyadh lho." ucap Farhana memecah keributan yang ada.
"Jangan dong umi." seru keduanya.
"Abi, kalau kamu sudah yakin, segera katakan saja pada Lidya. Jangan mengulur waktu, nanti kamu menyesal. Abi juga tidak senang, jika kamu dan Lidya seperti kebanyakan remaja lainnya, yang menghalalkan pacaran sebelum menikah." tegas Husein.
"I_iya bi."
"Hem, lalu tadi keputusannya tadi bagaimana?" tanya Husein lagi, memastikan rencana kedua anaknya.
"Mulai besok, kita akan melamar pekerjaan. Sementara waktu kita ijin tinggal bersama kalian ya bi, umi." tegas Abrisam.
"Baiklah, jika itu mau kalian. Sepertinya besok abi juga akan menemui kolega abi disini. Siapa tahu dia bisa memberi masukan dan bantuan, agar abi juga bisa membuka cabang di sini."
"Serius bi?" ucap anak dan istrinya serempak. Terlihat jelas binar bahagia di wajah mereka.
"In shaa Allah, doakan abi juga ya."
"Tentu saja, kita akan saling mendoakan. Karena kita adalah keluarga." balas Abrisam.
Setelah melewati percakapan panjang itu, mereka memutuskan untuk segera istirahat. Karena telah melewati hari yang begitu melelahkan.
_____
Dan di keesokan harinya, setelah subuh, keduanya segera menyiapkan berkas lamaran. Lalu, setelah sarapan pagi, keduanya mencari pekerjaan.
Untuk menghemat uang saku dari kedua orang tuanya, keduanya berjalan kaki untuk mencari pekerjaan.
"Permisi sus, apakah di rumah sakit ini ada lowongan pekerjaan?" tanya Abigail, ketika menginjakkan kakinya di salah satu rumah sakit.
"Oh, maaf kak, disini belum ada lowongan pekerjaan. Mungkin bisa ke rumah sakit lain."
"Oh baiklah, terima kasih sus. Saya permisi dulu." ucap Abigail sopan.
Ia pun segera berjalan meninggalkan rumah sakit itu, dan mencari rumah sakit lainnya.
Namun sayang, hingga siang menjelang, ia belum juga mendapatkan pekerjaan. Karena tidak menyertakan surat pengalamannya.
"Bagaimana aku bisa memiliki surat pengalaman? kerjanya saja di tempat sendiri. Tapi, itu dulu. Kalau sekarang, rumah sakit itu, bukan punya ku lagi." gumam Abigail.
Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya. Siang yang terik, membuatnya kegerahan. Peluh membasahi wajah tampannya.
"Ya Allah, ternyata sulit juga ya mencari kerjaan? Semoga Kau berikan hamba kemudahan ya Allah." gumam Abigail.
__ADS_1