Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
95. Menyatakan cinta


__ADS_3

"Aku saja yang menggendongnya mas." suara Rosa membuat Abrisam menoleh ke arahnya.


"Apa kamu sudah menghabiskan makanannya? Kalau belum, dihabiskan dulu saja. Sepertinya Zaidan akan menghabiskan seluruh asi milik mu." kekeh Abrisam di ujung kalimatnya.


Rosa mengerucutkan bibirnya, mendengar celotehan Abrisam yang asal itu, karena terdengar mesyuum ditelinga nya.


Tangan Zaidan bergerak, dan ketika Rosa mengulurkan tangannya, si kecil itu langsung menyambutnya.


Abrisam tak dapat berbuat banyak, selain menyerahkan bayi kecil itu pada pemiliknya.


"Di bawah pohon itu saja, agar Zaidan tidak kegerahan." tunjuk Abrisam, pada pohon yang tumbuh rindang di depan restauran.


Rosa pun mengangguk, lalu keduanya berjalan menuju pohon yang di maksud.


Benar saja, Zaidan tampak lahap sekali menikmati asi, ketika Rosa menyodorkannya. Wanita itu tampak membelai pucuk kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.


Ehem....


Deheman Abrisam menyadarkan Rosa, bahwa lelaki itu bersamanya sejak tadi. Dan mungkin saja, juga minta untuk diperhatikan.


Rosa pun terlihat salah tingkah, karena sejak tadi Abrisam terus memperhatikannya.


"Sebaiknya mas Sam kembali ke sana. Aku lihat tadi makanannya belum habis." ucap Rosa memecah keheningan.


"Enggak, aku mau disini saja, menemani kamu dan anakku."


Rosa mengernyitkan dahi sambil menatap Abrisam. Dan laki-laki itu terlihat santai sambil memainkan kakinya, yang terkena gigitan semut rangrang.


Abrisam baru menyadari, bahwa Rosa tengah menatapnya.


'Di saat ayah kandungnya sendiri tidak mengakui anaknya. Ternyata ada orang lain yang mau mengakui Zaidan sebagai anaknya. Tuhan, apakah dia memang benar ditakdirkan menjadi jodoh ku? Seorang lelaki dewasa yang kehadirannya mampu menggetarkan jiwa ku.'


"Kenapa diam?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


Rosa masih saja diam, sehingga membuat Abrisam berpikir mengenai apa saja yang baru ia ucapkan. Ia berpikir tidak ada yang salah dengan perkataannya.


"Bukankah anakmu juga anakku? Kita kan sudah menjadi sepasang suami-istri?" tegas Abrisam. Ia merapatkan duduknya dengan Rosa, lalu memberanikan diri menggenggam tangan wanita cantik itu.


"Rosa, sungguh aku sangat mencintaimu. Bertemu dan berkenalan dengan mu, mampu merubah seluruh kehidupan ku."

__ADS_1


Rosa menghela nafas panjang. Selalu saja perkataan laki-laki yang ada dihadapannya mampu membuatnya terbang melayang.


Namun, kenapa kata-kata itu tak kunjung terealisasi dengan sebuah pernikahan yang sah di mata negara.


"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak mencintaiku?"


Rosa tampak gugup, ketika Abrisam menodongnya dengan pertanyaan seperti itu. Segala bentuk perhatian dari lelaki itu mampu menggetarkan hatinya.


Namun ketika ditanya cinta atau tidak, terus terang ia sangat malu mengakuinya.


Abrisam tampak kecewa, ketika Rosa tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia pun menundukkan kepalanya. Menyadari, jika usahanya kurang maksimal dalam meluluhkan hati Rosa.


"Sebenarnya...... aku tidak tahu, rasa apa yang tengah berkecamuk dalam hatiku. Karena selalu saja bergetar setiap berada di dekatmu. Apalagi dengan segala bentuk perhatian yang mas berikan." ucap Rosa lirih dan cukup bergetar. Namun Abrisam bisa mendengarnya dengan jelas.


Laki-laki itu menoleh ke arah Rosa dengan jantung yang semakin berdegup kencang.


"Jangan memberi jawaban yang ambigu Rosa. Pilihannya cuma ada 2. Kamu mencintaiku atau tidak."


Abrisam kembali menggenggam tangan Rosa dengan erat. Walaupun sebenarnya lelaki itu tahu makna perkataan Rosa, namun ia ingin mendengar dengan jelas kata 'cinta' dari wanita yang ada dihadapannya saat ini.


Kini kedua insan itu tengah saling beradu pandang, dengan jantung yang semakin dag-dig-dug.


"Aku, mencintaimu mas."


Walaupun sangat lirih, Abrisam bisa mendengarnya.


"Coba ulangi lagi, sepertinya telinga ku tidak bisa mendengar dengan jelas." titah Abrisam.


Walaupun harus menahan malu, Rosa mengulang perkataannya. Dan Abrisam terus memintanya mengulang hingga berkali-kali.


Sehingga pada akhirnya Rosa berkata dengan suara terlantangnya. Yang membuat lelaki itu berjingkrak bahagia.


Dengan gerak refleks, ia mengangkat tubuh Rosa yang masih menggendong Zaidan. Sehingga membuat wanita itu memekik karena takut.


"Arghhh..... lepaskan mas. Aku takut jatuh." teriak Rosa. Satu tangannya mencengkram Zaidan kuat, agar tidak jatuh. Dan tangan satunya memukul bahu Abrisam.


Untuk sesaat semua mata mengarah pada keduanya, yang tengah melakukan hal aneh, sehingga meledak lah tawa mereka.


"Cepat turunin aku mas." teriak Rosa berulangkali.

__ADS_1


Setelah kelelahan, Abrisam menurunkan Rosa dari gendongannya.


"Huh, apa yang kamu lakukan? Bikin malu aku saja mas." gerutu Rosa.


Abrisam dan Rosa segera memperbaiki penampilannya, lalu kembali duduk.


Ehem.....


Lagi, Abrisam berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.


"Rosa, mungkin saat ini aku belum bisa meresmikan pernikahan kita secara hukum negara. Karena, keluarga ku masih dalam tahap penyelesaian masalah. Kamu doakan saja, semoga masalah kami cepat selesai."


"In shaa Allah, kami akan mendoakan, agar masalah yang sedang kalian hadapi cepat selesai. Jika butuh sesuatu, ceritakan padaku, siapa tahu aku bisa membantu."


"Terima kasih, terima kasih Rosa, atas doa dan bantuan yang kamu tawarkan."


Rosa mengulas senyum sebentar.


"Setelah ini, apa yang mas Sam akan lakukan?"


Abrisam menghembuskan nafas panjang, sambil memikirkan sebuah rencana untuk hidupnya.


"Baru kemarin aku dan Abi kabur dari rumah, lalu menginap di hotel tempat Abi dan umi. Tapi, tak mungkin kami akan menginap di sana terus. Kami juga malu pada kedua orang tua kami. Karena merepotkan mereka terus. Mungkin kami akan mencari penginapan lain, lalu mendirikan sebuah usaha untuk mencukupi kebutuhan kami. Aku dan Abi akan membahasnya lagi nanti. Karena beberapa hari yang lalu, kami terlalu fokus pada usaha pelarian kami."


"Ternyata kita sama-sama memiliki masalah besar ya, hanya berbeda jalan ceritanya saja. Jika aku berada di posisi mas Sam, pasti sudah depresi duluan."


Abrisam tertawa sebelum menjawab celotehan istri sirinya.


"Iya, aku pun sama. Jika aku berada di posisi mu, HAMIL TANPA SUAMI, pasti juga frustasi, sampai gantung diri. Alhamdulillah, akhirnya masalah mu sudah selesai ya Ros. Tinggal menunggu masalah ku selesai. Lalu kita bisa hidup bahagia. Itulah harapan terbesar ku. Semoga bisa dikabulkan Allah." ucap Abrisam sambil menatap Rosa. Wajah yang tadi terlihat bercanda, kini berubah menjadi serius.


Sekarang Rosa benar-benar yakin, bahwa laki-laki yang ada dihadapannya saat ini benar-benar mencintainya.


Namun, ujian kehidupan yang membuat keduanya harus lebih bersabar menahan diri agar bisa bersatu, suatu saat nanti.


"Sudah siang, ayo kita balik ke dalam. Nanti mereka mencari kita lagi."


Rosa mengangguk, lalu mereka berjalan beriringan ke dalam restoran.


Sepanjang perjalanan, Abrisam terus menggoda Zaidan. Ia begitu menyayangi Zaidan seperti anaknya sendiri. Rosa tersenyum lebar, merasa bahagia melihat hal itu.

__ADS_1


__ADS_2