Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
72. Jebakan


__ADS_3

"Kita jebak dia." ucap Lidya dengan penuh keyakinan.


"Menjebak?" ulang Rosa sambil mengernyitkan dahi.


Rosa semakin membelalakkan matanya ketika Lidya membisikkan sebuah rencana padanya.


"Apa! Kamu gila Lid? Aku ngga setuju. Aku takut kamu jika sesuatu yang buruk terjadi padamu." nada bicara Rosa naik satu oktaf mendengar rencana Lidya.


"Tidak ada cara lain Ros. Kita harus mendapatkan bukti itu untuk kita serahkan pada polisi." ucap Lidya dengan penuh keyakinan.


"Kita sama-sama perempuan. Kekuatan kita tak sebanding dengan kekuatan laki-laki. Apa kamu yakin semua akan berhasil?"


"Jika tidak di coba, kita tidak akan tahu hasilnya. Dan kita harus melakukannya dengan niat yang sungguh-sungguh, agar hasilnya tidak mengecewakan. Karena disini kehormatan ku yang jadi taruhannya."


Rosa menatap dengan lekat wajah Lidya. Lewat pancaran sinar mata Lidya, ia bisa melihat bahwa sahabatnya itu benar benar yakin dengan rencananya akan berhasil.


"Baiklah aku setuju." ucap Rosa dengan penuh keyakinan.


Keduanya tos bersamaan sambil tersenyum.


"Harinya kapan, akan segera aku infokan padamu."


"Okay, aku tunggu. Semoga misi kita berhasil." balas Rosa.


Setelah membahas tentang cowok kadal itu, keduanya kembali menikmati cemilan dan minuman dengan senyum puas.


Matahari kian merangkak naik, dan menyinari bumi dengan sinarnya yang sempurna. Seiring waktu keduanya yang telah cukup melepas rindu dan menyusun sebuah rencana yang cukup konyol. Namun berharap mendapatkan hasil maksimal. Lidya segera berpamitan pulang.


"Aku pamit pulang dulu ya Ros. Kita sama-sama berdo'a, semoga rencana ini bisa berhasil."


"Iya, hati-hati. Tentu, aku akan berdo'a, supaya rencana kita berhasil." ucap Rosa sambil menggenggam tangan Lidya dengan penuh keyakinan. Lidya pun membalas dengan senyuman dan mengeratkan genggaman tangannya.


______


Demi menjalankan misinya, Lidya terpaksa harus kembali berdekatan dengan Rico. Mulai dari membalas pesan dan telepon nya.


Tentu saja hal itu membuat Rico girang. Paling tidak masih ada harapan untuk mencicipi madu Lidya.


Rico memberanikan diri, mengajak Lidya untuk berkencan. Dan, saat keduanya berkencan itulah, Lidya mulai menjalankan misinya bersama Rosa.

__ADS_1


"Bu, Rosa pamit keluar sebentar ya, ada urusan penting." pamit Rosa pada ibunya.


Ia mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, lalu mengecup kening Zaidan yang baru saja tertidur.


"Kemana Ros?"


"Bertemu dengan Lidya. Assalamu'alaikum." balas Rosa singkat, lalu segera berjalan menuju motornya berada.


Sengaja Rosa berangkat lebih awal, agar tidak melewatkan segala sesuatunya.


Dan, tak berselang lama, setelah kepergian Rosa, Abrisam datang ke rumahnya. Ibunya pun memberitahu tentang kemana Rosa pergi.


"Baiklah Bu, kalau begitu, saya permisi dulu. Oh iya, ini untuk ibu sekeluarga." pamit Abrisam sambil menyerahkan paper bag pada Bu Susi.


"Terima kasih nak Sam. Semoga kebaikannya di balas Allah dengan kebaikan yang berlimpah pula."


"Aamiin. Terima kasih ibu atas do'anya. Saya pamit dulu ya Bu, assalamu'alaikum." ucap Abrisam sambil mencium punggung tangan bu Susi.


"Iya, hati-hati nak. Wa'alaikumussalam."


"Siapa Lidya? Apa temannya? Lalu, dimana keduanya berada?" gumam Abrisam sambil melajukan mobilnya.


"Lhololoh, bukannya itu...Rosa?" gumam Abrisam, lalu segera menambah laju kecepatan mobilnya, agar tidak kehilangan jejak.


_____


Sementara di tempat lain, Rico dengan senyum sumringah nya menjemput Lidya di rumahnya. Lidya terpaksa mengurai senyum palsu pada Rico ketika melihatnya.


Setelah berpamitan pada Bu Cici, Rico segera melajukan motornya meninggalkan pelataran rumah Lidya, menuju ke puncak.


Sepanjang perjalanan, Lidya dengan hati yang dongkol menyeimbangi pembicaraan Rico.


"Dasar gadis bodoh. Sudah di nasehati berulang kali. Tetap saja balikan dengan pacarnya. Apa itu tandanya dia tidak mengindahkan nasehat ku? Ataukah dia justru ingin aku nikahi? Bukankah kemarin dia bersedia untuk aku nikahi jika sampai melanggar lagi?" gumam Abigail yang kembali melihat kedekatan Lidya dan Rico. Ia pun kembali menbuntuti keduanya dari jarak aman.


Akhirnya Rosa sampai duluan di sebuah tempat wisata. Ia masih duduk di motornya tanpa membuka helmnya, lalu mengotak-atik handphone.


Sedangkan Abrisam mengernyitkan dahi sambil terus menatap Rosa dari dalam mobilnya.


"Apa yang mau dia lakukan? Kenapa terlihat mencurigakan sekali?" gumamnya.

__ADS_1


Tak berselang lama, Rico dan Lidya sudah sampai di tempat parkiran yang tak jauh dari tempat Rosa berada.


Lidya lega melihat Rosa yang sudah berada di sana. Sedangkan Rico tak tahu jika Rosa ada di situ, karena Rosa memakai jilbab dan masker.


"Hem, tak bosannya si gadis bodoh itu main ke puncak bareng cowok itu. Apa lagi yang mau mereka lakukan?" gumam Abigail ketika melihat Lidya dan Rico bergandengan tangan.


Rosa segera mengikuti Lidya dan Rico dari jarak aman.


Abrisam pun segera keluar dari mobilnya karena melihat tingkah aneh Rosa. Ia pun mengikuti Rosa dari jarak aman.


Abigail yang tak mau kehilangan jejak Lidya, segera keluar mobil dan mengawasinya dengan jarak yang aman pula. Sampai akhirnya ia melihat kembarannya.


"Sam, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Abigail sambil menepuk bahu Abrisam, yang membuatnya terkejut.


"Astaga, ku pikir setan Bi. Kamu mengagetkan ku saja." ucap Abrisam sambil mengurut dadanya. Abigail terkekeh melihat keterkejutan saudaranya.


"Kalau aku setan, berarti kamu kakaknya setan. Dan kakak setan itu jauh lebih berbahaya dari adik setan."


"Huft, sialan kamu." umpat Abrisam sambil menonjok lengan Abigail.


"Kamu belum jawab pertanyaan ku. Kenapa kamu ada di sini?" ulang Abigail.


"Sstt... jangan keras-keras. Sebaiknya kamu ikuti aku. Aku kesini karena membuntuti Rosa. Aku curiga dengannya, karena ku lihat tadi tingkahnya seperti mengendap-endap."


Setelah berkata seperti itu, Abrisam segera meninggalkan kembarannya, lalu melanjutkan langkahnya membuntuti Rosa. Abigail pun langsung mengikutinya, karena arahnya sama dengan Lidya pergi.


"Oh iya, kenapa kamu juga ada di sini?" tanya Abrisam ketika kembarannya sudah ada di dekatnya.


"Aku..... curiga dengan seseorang Sam. Makanya aku pun juga mengikutinya sampai sini."


"Oalah, berarti tujuan kita sama ya." ucap Abrisam sambil terkekeh.


"Sssttt... sebaiknya kamu diam. Agar tidak ketahuan." bisik Abigail.


Keduanya sembunyi di semak-semak pepohonan. Sama halnya dengan Rosa. Mereka mengintai Rico yang tengah merayu Lidya.


Tak berselang lama, Lidya dan Rico berjalan menuju hotel di sekitar tempat wisata itu. Mereka pun segera mengikutinya.


Rosa semakin deg-degan sambil terus mengarahkan kamera ponselnya pada Lidya dan Rosa. Abrisam semakin mengernyitkan dahi bingung dengan tingkah Rosa itu. Sedangkan Abigail sudah tidak menentu hatinya, takut jika wanita pujaannya salah langkah. Lalu terjadi apa-apa pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2