Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
31. Di bandara


__ADS_3

"Saya sudah siap abi, umi." ucap Rosa sambil menunduk.


Husein dan Farhana sejenak memandang ke arah Rosa.


"Yakin sudah tidak ada yang tertinggal?" kata abi memastikan.


"In shaa Allah tidak bi." balas Rosa sambil menggeleng.


"Baiklah, kita berangkat sekarang." Husein bangkit berdiri di sertai istrinya.


Ketiganya menaiki mobil, dan bersama menuju bandara. Sepanjang perjalanan, mereka semua saling diam, hanyut dengan pikiran masing-masing.


Rosa terus memperhatikan jalan yang ia lewati.


Selama sebulan ia berada di Riyadh, belum pernah ia sekalipun menggunakan waktu liburnya untuk sekedar jalan-jalan melihat keadaan sekitar. Ia selalu menghabiskan waktunya untuk mengurusi Farhana. Dan sebentar lagi, ia akan meninggalkan kewajibannya itu. Ia mengurus Farhana seperti mengurus ibunya sendiri.


Tanpa terasa, mereka sudah tiba di King Khalid International airport. Bergegas mereka turun.


"Jangan lupa kabari umi ya Ros kalau sudah sampai."


"Iya umi." balas Rosa sambil tersenyum dan mengangguk.


"Jika suatu saat kamu butuh pekerjaan lagi, datanglah kemari, atau hubungi kami terlebih dulu." imbuh abi dan Rosa mengangguk lagi.


"Sering-seringlah kasih kabar pada umi, biar umi juga bisa melihat perkembangan Zaidan." untuk yang kesekian kalinya Rosa mengangguk, karena mendapat perhatian yang berlebih dari kedua majikannya.


Baru kali ini, ia mendapat perlakuan layaknya manusia pada umumnya. Bukannya bullyan atau caci maki yang selama ini ia terima. Majikannya menganggap Rosa seperti anak sendiri.


"Umi, semoga lekas di angkat penyakitnya, di beri kesembuhan dan kesehatan. Suatu saat Rosa ingin bisa berjumpa lagi dengan umi dan abi. Jadi umi harus bersemangat ya." ucap Rosa dengan tulus sambil menggenggam tangan Farhana.


"In shaa Allah, umi akan selalu bersemangat agar bisa bertemu dengan mu lagi juga anak mu. Aamiin ya rabbal aalamiin, terima kasih doanya Ros." ucap Farhana lalu memeluk erat Rosa.


Keduanya tidak ada hubungan darah sama sekali, pertemuan keduanya juga tergolong singkat. Namun mampu menciptakan rasa yang luar biasa diantara keduanya.

__ADS_1


Mereka saling mengurai setelah berpelukan sekian menit.


"Rosa pamit pulang ya umi, abi." ucap Rosa sekali lagi sambil membungkukkan badan.


Dengan langkah gontai Rosa berjalan menuju garbarata. Ia membalikkan badan sebelum menaiki pesawat. Lalu melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah majikannya. Yang juga di balas oleh lambaian tangan dan senyum hangat, meskipun senyum itu tak nampak di wajah Farhana karena tertutup cadar.


Rosa menghembuskan nafas panjang, lalu kembali membalikkan badan, dan mulai menjejakkan kakinya di garbarata. Pertanda kisahnya sebagai pembantu di negeri Arab telah usai.


Sepanjang perjalanan pulang, Rosa melihat pemandangan luar dari balik kaca jendela. Gumpalan awan yang terlihat lembut seperti tekstur arum manis. Rumah rumah yang terlihat sangat kecil seperti miniatur.


Semuanya terasa indah di pandang dan semakin membuat hati Rosa bertambah senang. Karena itu adalah pengalaman yang tak bisa ia lupakan seumur hidup. Maklum saja, karena selama ini ia hanya bisa menaiki sepeda motor.


Perjalanan panjang karena akan menghabiskan waktu sekitar 11 jam membuat ia lelah dan mulai memejamkan matanya, dan tak lama kemudian ia sudah tertidur lelap.


Saking lelapnya tidur, tentu Rosa tak sadar jika saat ini kepalanya sampai bersandar pada bahu seorang pria yang ada di sampingnya.


Lelaki itu tentu merasa keberatan harus menopang kepala Rosa, tapi ia juga sungkan untuk membangunkan Rosa yang tengah tertidur lelap. Akhirnya ia hanya bisa pasrah dan membiarkan hal itu terjadi.


Hingga pesawat itu menabrak awan yang menimbulkan getaran pada badan pesawat. Sehingga membuat Rosa jatuh kepangkuan lelaki yang ada di dekatnya, tapi ia juga tak kunjung bangun.


'Ya ampun, ini manusia sebenarnya tidur atau mati sih? Masa ada getaran sehebat tadi ngga bangun-bangun juga.' batin lelaki itu sambil menatap wajah Rosa yang tidak memakai cadar.


Ternyata pandangannya tak berhenti pada wajah saja, tapi juga pada buah dada Rosa yang terlihat menonjol walaupun sudah tertutup jilbab. Ia menatap lekat pada jilbab Rosa yang basah di bagian itu.


'Kenapa jilbabnya bisa basah? Apa itu air liurnya, sejak tadi dia kan tidur.' batinnya lagi.


Daripada pikiran nya melayang terlalu jauh, akhirnya lelaki itu pun memutuskan untuk tidur. Keduanya hanyut dalam mimpi masing-masing.


Dalam mimpi Rosa, ia berada di sebuah taman yang indah bersama Zaidan dan seorang lelaki yang sangat tampan. Lelaki itu berlari kecil sambil menggendong Zaidan di bahunya. Keduanya saling tertawa lepas. Bahkan dalam mimpinya Zaidan memanggil lelaki itu dengan sebutan papa.


Sedangkan dalam mimpi lelaki itu, ia tengah berada di kamar bersama seorang wanita cantik yang mengenakan lingerie. Sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang menawan. Tak sabar rasanya, ia mendekati wanita itu dan memeluknya dengan erat.


"Tolong... Tolong!"

__ADS_1


Lelaki itu spontan membuka matanya ketika mendengar suara jeritan minta tolong.


"Ha!" lelaki itu melongo tak percaya dengan apa yang ia lakukan.


"Tolong lepaskan saya." ucap Rosa yang masih berada dalam pelukan erat lelaki di hadapannya. Jarak wajah keduanya sangat dekat, deru nafas mereka saling berbisik halus bersahutan.


"Tolong lepaskan saya." ucap Rosa sekali lagi.


Spontan lelaki itu melepaskan Rosa, sehingga membuatnya kembali jatuh ke dalam pangkuan lelaki itu. Dan membuat laras panjang milik lelaki itu kembali tegang. Rosa merasa aneh, ketika merasakan ketegangan itu di dekat telinganya.


'Ya ampun ini apa? kok tegang dan sepertinya keras.' batin Rosa.


"Wow romantis sekali."


"Iya, mungkin masih pengantin baru, jadi masih malu-malu."


Dan masih banyak lagi omongan para penumpang pesawat yang sejak tadi mengerubungi mereka, namun mereka tidak menyadari hal itu.


Setelah banyak suara yang berbisik barulah mereka sadar, dan kembali duduk sambil merapikan diri. Tak ada yang bersuara di antaranya keduanya karena sama sama canggung.


Tapi hati kecil mereka memaksa harus meminta maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan itu. Hingga akhirnya...


"Maaf." ucap keduanya bersamaan. Sehingga membuat keduanya menahan senyum.


Rosa segera membuang pandangannya ke lur jendela, sedangkan lelaki itu tampak garuk-garuk kepala, menyadari kekonyolan yang kembali muncul.


Tidak ada perbincangan di antara keduanya, hingga pesawat akhirnya sudah landing di bandara.


Bergegas keduanya bersiap turun. Mereka segera mencari taxi, karena memang sama-sama tidak ada yang menjemput.


Dan tanpa di sadari, keduanya menyetop taksi yang sama. Untuk yang kesekian kalinya, mereka menahan senyum menyadari kekonyolan yang ada.


"Silahkan mas duluan." ucap Rosa.

__ADS_1


"Ngga, ladies first." sanggah lelaki itu.


Tak menyia-nyiakan kesempatan, Rosa langsung masuk ke dalam taksi itu lalu setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada lelaki tampan itu.


__ADS_2