Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
102. Diculik


__ADS_3

"Ayo Bu, segera dihabiskan makanannya. Ayah harus segera berangkat kerja. Nanti bisa terlambat." bujuk pak Rahman pada istrinya.


Beberapa hari ini, lelaki itu mempunyai pekerjaan baru. Yakni menyuapi istrinya sebelum berangkat kerja.


Di hari pertama ia masih sabar menghadapi tingkah istrinya.


Di hari kedua, ia mulai sedikit emosi. Karena istrinya tak kunjung membuka mulutnya, untuk menerima suapan darinya.


Wanita itu terus meracau menyebut nama Rico.


"Ibu, anak kita sedang sekolah. Kamu jangan memanggil namanya melulu. Nanti dia jadi ngga konsentrasi belajar." dusta pak Rahman.


"Benarkah dia sedang sekolah?" bu Rita menoleh ke arah suaminya dan menatapnya dengan serius.


"Iya, sudah jangan kamu pikirkan terus. Sekarang sebaiknya, kamu makan dulu. Bapak keburu telat berangkat kerja." pak Rahman kembali menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya. Wanita itupun kini mau membuka mulutnya.


"Nah, bagus. Ayo cepat habiskan."


Cukup lama pak Rahman menyuapi, hingga akhirnya sepiring nasi berhasil masuk ke mulut istrinya.


"Bapak berangkat kerja dulu ya. Ingat jangan kemana-mana." Bu Rita mengangguk sambil tersenyum ke arah suaminya.


Bergegas pak Rahman melajukan mobilnya, keluar dari pelataran rumah. Sementara istrinya kembali seperti tadi, meracau menyebut nama Rico dan Rico.


"Rico, anakku yang paling tampan. Sekolah yang benar ya. Habis lulus kamu harus kuliah. Cari cewek yang cantik, dan kaya. Jangan seperti Rosa. Sudah jelek, miskin pula. Ih, mana ada laki-laki yang mau sama dia." gumam Bu Rita sambil terkekeh.


"Siapapun yang berani menyakiti dan memfitnah Rico anakku. Harus berhadapan dengan ku. Tidak boleh ada yang menghinanya. Pasti mereka yang menghina sangat iri dengan ketampanan, dan kepintaran Rico dalam menggaet cewek."


Dan masih banyak lagi celotehan Bu Rita.


Sesekali ia menyebut nama Rosa, dan mengucapkan sumpah serapah padanya. Lalu tertawa seorang diri.


Sejak hakim memutuskan Rico harus menjalani hukuman 15 tahun penjara, membuat Bu Rita tidak bernafsu makan.


Ia menghabiskan waktunya untuk menangisi putra satu-satunya. Terkadang ia menyumpahi Rosa seperti saat ini.

__ADS_1


Apalagi kabar mengenai Rico dipenjitu, beredar di lingkungan desanya dengan cepat. Membuat bu Rita semakin merasakan sedih, sakit hati dan frustasi. Hingga akhirnya berujung depresi.


Sejak saat itu, pak Rahman terpaksa menguncinya di kamar, untuk membatasi ruang geraknya. Untuk menghindarkan istrinya dari para tetangga yang tengah membicarakan anaknya, yang bisa membuatnya semakin depresi.


"Hah, kenapa semua ini harus terjadi pada keluarga ku." ucap pak Rahman sambil memukul kemudi.


Ia merasa Tuhan tidak adil padanya.


Anaknya masuk penjara, sawahnya habis untuk membayar pengacara, istrinya hampir gila. Dan sekarang, ia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri.


Tidak seperti malam-malam sebelumnya, yang selalu mendapat jatah. Kini ia justru harus mendengarkan racauan istrinya tiap malam. Membuat kepala pak Rahman ingin meledak.


Padahal, itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan Rosa dulu, yang jauh lebih menyedihkan.


Beruntung sekali, dengan pertolongan Tuhan, ujian hidup yang terasa sangat berat, berhasil Rosa lalui.


_____


Sementara itu, keadaan yang mengenaskan dan juga menyedihkan, juga tengah dialami oleh Oma Sekar.


Ia memang mengerahkan anak buahnya, untuk mengawasi si kembar, anak dan menantunya, serta wanita-wanita pujaan hati si kembar.


Sementara waktu, ia memang memberi kebebasan pada targetnya. Agar mereka berpikir semudah itu bebas dari pengawasannya. Padahal, sebenarnya Oma Sekar tengah memiliki sebuah rencana yang licik.


______


Sepulang sekolah, Lidya benar-benar menjalankan niatnya. Ia menjemput Abigail di hotel. Namun, dalam perjalanan menuju kesana, tiba-tiba sebuah mobil menghadangnya. Ia langsung berhenti mendadak. Bahkan bunyi rem yang mendadak terdengar jelas.


Dua orang laki-laki bertubuh tegap dan berwajah sangar, menghampiri Lidya. Membuat gadis itu mengernyitkan dahi.


"Kenapa bapak menghentikan mobilnya di depan saya secara mendadak?"


Bahkan Lidya masih sempat melempar pertanyaan pada dua lelaki itu. Wajahnya tidak menyiratkan ketakutan sama sekali. Membuat kedua lelaki itu menyeringai.


Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh kedua lelaki itu, Lidya hendak menyalakan mesin motornya. Namun, salah satu dari lelaki itu, buru-buru mencekal tangannya. Dengan sigap ia mengangkat tubuh gadis kecil itu.

__ADS_1


"Hei, apa yang kalian lakukan?" teriak Lidya sambil memukul punggung lelaki yang menggendongnya. Namun, percuma saja hal itu ia lakukan. Karena kekuatan Lidya tidak ada apa-apanya di mata mereka.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, ketika mereka sudah masuk mobil. Di dalamnya, seorang laki-laki mengikat tubuh Lidya, dan menutup matanya.


Walaupun Lidya terus meronta, namun tak sedikitpun mereka menaruh belas kasihan padanya. Bahkan, kini justru terdengar suara gelak tawa yang memenuhi mobil itu. Membuat Lidya ketakutan. Keberaniannya yang tadi sempat ia perlihatkan, seketika menciut. l


Perlahan, ia mengurangi gerakannya, agar tidak kehabisan tenaga, sambil berpikir apa yang harus dilakukan, agar bisa bebas. Dalam hati, ia juga terus merapalkan doa, semoga ada yang menolongnya.


Mobil itu berhenti di sebuah rumah mewah. Dengan sedikit memaksa, ketiga lelaki itu menggiring Lidya untuk masuk rumah. Lidya dengan terpaksa menuruti kemauan mereka. Hingga jalannya terseok-seok.


Dua orang laki-laki memegang lengan Lidya dengan kuat. Sementara seorang laki-laki segera mencari keberadaan bos nya.


"Bos, bos." teriak lelaki itu sambil mengetuk pintu kamar bosnya.


Tak lama kemudian, pintu terbuka. Muncul seraut wajah dingin tanpa ekspresi.


"Lapor bos, satu target sudah berhasil kami lumpuhkan. Sekarang dia berada di ruang tamu." ucapnya sambil terengah-engah.


Bos mereka langsung menyunggingkan senyum sinis. Ia berjalan menuju ruang tamu, di ikuti oleh anak buahnya. Ia mengamati Lidya dari dekat, mulai ujung kepala sampai ujung kaki.


"Masukkan dia di gudang." seru bos mereka.


Lidya begitu terkejut, ketika seseorang yang di anggap bos para penjahat itu adalah seorang perempuan. Ia tak menyangka, seorang perempuan bisa berbuat seperti itu.


Dalam hati Lidya bertanya-tanya, kesalahan apa yang ia lakukan, sehingga sampai di culik.


Dengan patuh, mereka pun menyeret tubuh Lidya menuju ruang yang dimaksud. Sehingga membuat gadis itu kembali memberontak. Namun, tetap tak bisa terlepas. Dan, hal itu mengundang tawa para penculik.


Sesampainya di gudang, Lidya didudukkan di sebuah kursi, dan mereka menambah ikatannya. Setelah nya, mereka meninggalkan Lidya seorang diri di ruangan yang gelap itu.


Tak ada yang bisa ia lakukan, kecuali berdo'a. Semoga para penjahat itu mau melepaskan nya, atau ada seseorang yang menolongnya.


Pikirannya juga masih diliputi tanda tanya, tentang siapa wanita itu.


Apakah dia ibunya Rico? Satu-satunya wanita yang tidak rela anaknya masuk penjara.

__ADS_1


Ataukah wanita lain, yang memiliki masalah pribadi dengan keluarganya. Sehingga ia ikut terseret.


__ADS_2