
Tanpa terasa sudah satu Minggu Lidya dan Rosa hilang, dan keduanya belum juga ditemukan.
Bahkan kabar itu telah menyebar ke seluruh pelosok tempat tinggal mereka. Banyak dari mereka yang sukarela membantu mencari kedua wanita itu. Namun, sepertinya takdir belum berpihak pada mereka.
Kedua orang tua mereka, serta keluarga Husein sangat bersedih akan hal itu. Namun, tidak dengan keluarga Rico. Senyum mengembang, bahkan tawa yang membahana terdengar, ketika kabar itu sampai di telinga mereka.
"Itu balasan yang pantas untuk kalian, karena telah membuat keluarga ku hancur." ucap pak Rahman dengan lantang. Lalu ia tertawa terbahak-bahak.
______
Selama seminggu itu pula, Rosa dan Lidya masih berada di tempat yang sama, dan dalam kondisi yang sama.
Bahkan, selama seminggu itu mereka tidak diberi makan dan minum sama sekali. Membuat tubuh keduanya terasa lemas.
Meskipun begitu, keduanya terus memanjatkan doa. Keduanya yakin, doa' orang yang teraniaya akan segera dikabulkan Allah.
Pada malam hari, Oma Sekar yang terlelap tidur, tiba-tiba merasakan tenggorokannya kering. Ia meraba meja nakas, namun ternyata asisten rumah tangganya lupa belum menyiapkan segelas air putih untuknya.
"Hem, dasar bodoh. Kenapa bisa sampai lupa menyiapkan air putih untuk ku." gerutunya.
Sambil membenarkan piyama, dan memakai sandalnya, Oma Sekar berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
Setelah mengambil segelas air putih ia kembali ke kamar. Namun, ketika melewati gudang, hatinya tergelitik untuk melihat apa yang tengah terjadi di dalam. Ia pun membelokkan kakinya menuju gudang.
Ia sangat pelan, ketika memutar kunci, lalu membuka knop pintunya. Ia pun juga menghidupkan lampu pelan-pelan, agar keduanya tidak mengetahui kedatangannya.
Namun naas sekali nasibnya, baru melangkah sekali, ia menginjak sesuatu yang membuatnya menjerit kesakitan. Bahkan, gelas yang ia bawa sampai jatuh ke lantai. Sehingga menimbulkan suara yang gaduh.
"Arghhh... tolong aku." teriaknya, sambil mengerang kesakitan.
"Ibu, apa yang terjadi?" ucap Lidya dan Rosa bersamaan.
Keduanya berusaha menoleh ke kanan-kiri, namun tetap saja yang mereka lihat hanyalah kegelapan.
Sementara itu, Oma Sekar kembali berteriak. Namun tetap saja, tak ada yang datang, untuk segera menolongnya.
"Ayo kita tolong ibu itu Ros."
__ADS_1
"Ayo kita tolong ibu itu Lid." ucap Lidya dan Rosa bersamaan.
Di tengah kepanikan yang tercipta, Lidya dan Rosa berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan masing-masing, dengan sisa-sisa tenaga yang mereka miliki.
'The power off kepepet.' begitulah istilah kata yang tepat. Akhirnya keduanya berhasil melepas ikatan itu.
Keduanya terbelalak, melihat Oma Sekar tergeletak di lantai. Keduanya segera mendekat, lalu memeriksa kondisinya.
"Gawat, sepertinya ibu ini baru saja di patuk ular. Lihat bekasnya." ucap Rosa.
"Tangannya juga terkena pecahan gelas. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." balas Lidya.
"Iya, kamu bangunkan penghuni rumah ini. Agar segera membawa ibu ini ke rumah sakit. Jangan sampai terlambat, atau tidak...." ucapan Rosa seketika terhenti.
Dan justru menitikkan air mata, karena takut menyebut kata 'mati'. Seperti yang telah dialami oleh bapaknya.
Lidya langsung berlari keluar. Sementara Rosa memindai keadaan sekitar. Matanya tajam mengarah ke setiap sudut ruangan. Untuk memastikan ular itu sudah menghilang.
Ia melepas jaketnya, lalu dengan sigap mengikat kaki oma Sekar, menggunakan jaketnya dengan kencang. Untuk menghindari penyebaran racun.
Walaupun hanya samar, Oma Sekar bisa melihat apa yang telah dilakukan oleh Lidya dan Rosa, dalam menyelamatkan nyawanya.
Sementara itu, Lidya segera menggedor pintu setiap kamar, sambil berteriak minta tolong.
Para asisten rumah tangga melongok kepalanya di ambang pintu. Lalu membulatkan matanya, karena tidak pernah melihat Lidya sebelumnya.
"Ibu-ibu, tolong, di dalam gudang ada seorang nenek yang kakinya di gigit ular. Cepat siapkan mobil untuk membawanya ke rumah sakit." ucap Lidya sambil terengah-engah.
"Cepat! Dia adalah neneknya kak Abi." teriak Lidya lagi. Karena para asisten rumah tangga itu masih menatapnya tanpa kedip. Membuat mereka terkesiap. Lalu segera berlari ke berbagai arah.
Ada yang membangunkan sopir, ada yang meminta security untuk membuka gerbang, ada yang mengambil kotak obat, dan ada yang ke gudang.
Setelah selesai memberi perintah, Lidya kembali ke gudang. Ia, Rosa serta beberapa asisten rumah tangga mengangkat tubuh Oma Sekar menuju mobil.
Lidya dan Rosa masuk terlebih dahulu ke mobil, lalu para asisten rumah tangga itu meletakkan tubuh Oma Sekar, di atas paha kedua wanita itu pelan-pelan.
"Hati-hati ya non."
__ADS_1
"Iya Bu." balas Lidya dan Rosa kompak.
Mobil pun segera melesat dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, keduanya tak henti berdo'a untuk kesembuhan Oma Sekar. Terkadang mereka juga menghapus keringat dingin, di wajah wanita yang terbaring lemah di pangkuannya.
Setelah sampai di rumah sakit, sopir memanggil perawat. Dan tak lama kemudian, berduyun-duyun perawat menghampiri mobil yang mereka tumpangi, sambil membawa brankar.
Setelah memindahkan tubuh Oma Sekar di brankar, mereka segera mendorongnya menuju IGD.
Lidya dan Rosa langsung terduduk lesu, di kursi tunggu depan kamar IGD, sambil menunggu Oma Sekar diperiksa.
Seorang sopir yang mengantarkan tadi mendekati keduanya, yang tampak pucat sekali.
"Ini teh hangat untuk kalian berdua. Pasti kalian haus sekali." ucapnya, sambil menyodorkan 2 gelas teh hangat.
Lidya dan Rosa saling beradu pandang, lalu menerimanya. Tak lama kemudian, teh hangat itupun habis mereka teguk.
Sopir itu keheranan melihat tingkah keduanya.
"Sebenarnya siapa kalian? Kenapa bisa menolong ndoro?" ucap sang sopir lagi.
Lidya dan Rosa kembali beradu pandang, lalu sejenak memperhatikan sopir itu. Dari penampilan serta raut wajahnya, sepertinya bukan lelaki yang menculik mereka beberapa hari yang lalu.
Namun, untuk mengatakan yang sebenarnya, keduanya juga masih belum sepenuhnya percaya.
"Eh, tidak apa-apa. Oh iya, pak bisa minta tolong, kabari keluarga nenek tadi. Kasian kan belum pada tahu." ucap Lidya.
Sopir itu mengangguk, lalu merogoh handphonenya.
Ia mencoba menghubungi nomor Abrisam, namun berulang kali tidak diangkat. Akhirnya, ia beralih menelpon Abigail, ternyata juga sama tidak diangkat.
Ia tidak tahu, jika handphone si kembar telah di sita Oma Sekar. Dan tentu saja kini berada di kamar wanita sepuh itu.
Sejenak sopir itu garuk-garuk kepala, bingung harus menghubungi siapa lagi.
"Tidak ada yang mengangkat telepon saya non. Mungkin mas kembar baru tidur pulas."
__ADS_1
"Mungkin bapak salah kali pencet nomor teleponnya. Coba handphonenya saya pinjam sebentar." kata Lidya lagi.
Sopir itu patuh, lalu menyerahkan handphonenya pada Lidya.