
"Ke_kenapa, kamu... memandang ku seperti itu?" tanya Abrisam sambil meringis menahan perasaan tidak nyaman. Sementara Rosa dan Lidya tetap memasang wajah terburuk mereka.
"Nak Abrisam, kenapa kamu kesini?" tanya Bu Susi.
"Ya karena ingin menghadiri sidang Rosa lah bu. Memang kenapa?" tanya Abrisam balik karena penasaran.
Apalagi melihat Rosa yang masih memasang wajah dingin. Membuat ia bertanya-tanya dalam hati, salah apakah dirinya.
Bu Susi tak ingin pertengkaran itu di ketahui oleh banyak orang. Ia mengajak Abrisam sedikit menjauh dari kerumunan.
"Maaf nak Sam, saya sebagai ibunya Rosa juga sangat merasa tidak suka, jika ada yang menyakiti hati anak ibu. Sehingga membuat dia sampai menangis berhari-hari."
"Maksud ibu apa?" Abrisam mengernyit bingung.
Ia pun menghubungkan hal itu dengan keputusannya untuk meresmikan pernikahannya dengan Rosa, yang tak kunjung terlaksana.
"Bukankah nak Sam sendiri yang bilang, jika tidak mau bertemu lagi dengan Rosa. Mengatainya wanita bodooh dan kampungan. Jika sampai Rosa menemui mu, nak Sam mengancam akan membuat Rosa menyesal seumur hidup. Apa nak Sam lupa sudah mengirim pesan yang begitu menyakitkan hati Rosa dan ibu sendiri, hah?" ucap Bu Susi dengan suara yang bergetar.
Ia kembali teringat Rosa yang beberapa hari lalu menghabiskan waktunya untuk menangisi pesan dadi Abrisam.
DEG!
Jantung Abrisam seakan hendak loncat dari tempatnya. Kata-kata yang baru saja dilontarkan ibunya Rosa memang terdengar menyakitkan. Tapi ia tak pernah mengirim pesan seperti itu pada wanita pujaan hatinya.
Lalu siapakah yang mengirim pesan itu? timbul tanya dalam hatinya.
Abrisam pun menarik nafas dalam-dalam.
"I_ibu. Sebelumnya ijinkan saya untuk meluruskan semua ini. Jika dirasa masuk akal, boleh ibu menerimanya. Namun jika penjelasan saya kurang masuk akal, percayalah, saya sangat mencintai putri ibu. Dan tidak akan mungkin tega melakukan hal itu.
Di rumah, sedang terjadi masalah. Handphone saya dan kembaran saya sampai disita oleh Oma. Dan, sejak saat itulah kami tidak mempunyai handphone. Kejadiannya sekitar seminggu yang lalu. Saya bisa kesini karena kabur dari rumah. Kami tidak membawa satupun barang berharga.
Mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan pada ibu. Maaf, kami tidak bisa mengumbar lebih banyak masalah yang sedang terjadi dalam keluarga kami.
Yang jelas, saya sungguh mencintai anak dan cucu ibu. Sepasang suami-istri itu, adalah kedua orang tua saya. Dan mereka begitu menyukai Rosa." tak lupa Abrisam menunjuk kedua orang tuanya.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Abrisam, Bu Susi manggut-manggut. Sepertinya percaya dengannya. Tidak mungkin laki-laki yang ada di hadapannya saat ini bisa berubah 180 derajat. Jika tidak ada unsur yang melatarbelakangi nya.
Senyum tipis mengembang di wajah wanita tengah baya itu. Membuat Abrisam sedikit bisa bernafas lega.
"Baiklah, kali ini ibu percaya dengan kamu nak Sam. Tolong, sekalipun kamu jangan pernah menyakiti hati Rosa. Karena dia adalah jantung hati ibu. Menyakitinya sama saja dengan menyakiti ibu."
"Iya Bu. In shaa Allah, Sam tidak akan menyakiti hati Rosa." ucap Abrisam dengan penuh keyakinan.
"Tunggulah disini sebentar. Ibu akan bicara dengan Rosa." setelah berkata seperti itu, Bu Susi bergegas menyusul Rosa yang sedang berbicara dengan pengacara.
"Rosa, ayo temui nak Sam sebentar. Ada sesuatu yang ingin dia jelaskan padamu." bisik bu Susi. Dengan berat hati, Rosa pun menemui Abrisam.
Sesampainya di tempat Abrisam berdiri, Rosa kembali memasang dingin. Tak mau mendahului pembicaraan. Sampai akhirnya, Abrisam tersenyum lalu mulai menceritakan hal yang sebenarnya pada Rosa.
Rosa di buat terbengong oleh ucapan Abrisam yang panjang lebar itu. Ia tak menyangka, jika Omanya Abrisam memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan orang tuanya Abrisam.
Ibu muda itu terlihat salah tingkah, setelah mendengar penjelasan Abrisam. Untuk meminta maaf pun ia sangat sungkan. Tapi jika tidak minta maaf, maka dia menganggap dirinya adalah seorang wanita yang egois.
Akhirnya, terpaksa Rosa mengesampingkan sisi egoisnya.
Abrisam tersenyum lega, mendengar Rosa mengakui kesalahannya. laki-laki itu juga bahagia melihat pipi merona Rosa karena tengah menahan malu saat mengatakan hal itu.
"Rosa, apapun yang terjadi, aku sangat mencintaimu. Aku akan berjuang agar kita bisa selalu bersama."
Ucapan Abrisam itu berhasil membuat Rosa semakin tersipu malu.
______
Di waktu yang bersamaan, Lidya yang merasa dipandangi oleh Abigail, segera menjauh dari kerumunan. Ia duduk di kursi kayu sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa Lidya tidak seceria kemarin? Apa kalian berdua sedang ada masalah? Ayo cepat selesaikan sana." bisik umi Farhana pada Abigail.
Dengan langkah ragu, Abigail mendekati Lidya. Sementara umi Farhana, abi Husein dan yang lain tengah bercakap-cakap. Membahas hal yang tengah terjadi.
Melihat Abigail mendekatinya, Lidya semakin memalingkan wajahnya.
__ADS_1
'Waduh, tuh anak kenapa keliatan ngambek? Memang apa salahku? Pasti nih nilainya lagi jelek.' terka Abigail dalam hati.
"Lidya..."
"Ngapain kakak kesini? Katanya ngga mau ketemu sama gadis SMA yang belagu kayak aku." semprot Lidya, sebelum Abigail sempat melanjutkan perkataannya. Sehingga membuat laki-laki itu mengernyit heran.
"Kenapa kamu bicara seperti itu Lidya?"
Lidya kembali diam seribu bahasa. Malas berbicara dengan dokter yang ada dihadapannya.
"Lidya." ulang Abigail lagi.
"Aku hanya mengikuti apa kata kakak."
"Tapi kakak tidak pernah bicara seperti itu padamu."
"Huh, laki-laki selalu begitu." dengan sebal Lidya mengeluarkan handphone dan melemparkannya ke arah Abigail.
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya menghadapi sikap Lidya yang masih kekanak-kanakan. Ia pun mengambil handphone Lidya, lalu membaca kalimat yang tertera.
Ia membulatkan matanya dan dadanya bergemuruh hebat, ketika membaca sederet kalimat yang menyakitkan hati, dan terkejut melihat siapa pengirimnya.
Sejenak ia berpikir tentang pesan itu, sampai menemukan jawabannya. Ia pun berjongkok di hadapan Lidya.
"Jadi Lidya marah gara-gara pesan ini?" tanya Abigail, namun Lidya tetap diam.
"Sudah seminggu handphone kakak disita sama Oma. Kakak bisa sampai sini juga kabur dari rumah Oma, saat malam hari. Jadi, kemungkinan yang mengirim pesan ini adalah Oma, bukan kakak. Apa Lidya tak pernah mengerti, jika selama ini kakak selalu menyayangi Lidya?" walaupun terkesan santai, namun hal itu berhasil membuat Lidya memandang laki-laki yang ada dihadapannya.
"Kakak punya sedikit masalah. Tapi masalah itu takkan pernah mempengaruhi rasa sayang kakak padamu."
"Sayang?" ulang Lidya sambil mengernyitkan dahi, yang membuat Abigail salah tingkah.
"Iya, sayang sebagai kakak adik maksudnya." imbuh Abigail sambil tersenyum.
Lidya manggut-manggut lalu mulai menarik senyum manis di wajahnya. Membuat Abigail cukup bahagia melihat hal itu.
__ADS_1