Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
100. Mencari solusi


__ADS_3

Rosa menghampiri Abrisam yang duduk di pinggir warung. Laki-laki itu tengah menghirup nafas dalam-dalam, lalu menyunggingkan senyum tipis.


"Ih, kenapa tuh senyum-senyum sendiri?" tanya Rosa sambil mengernyitkan dahi.


"Aku hanya membayangkan kejadian tadi. Ternyata naik motor itu juga tidak mudah ya. Butuh belajar dulu." kekeh Abrisam, Rosa pun menarik sebuah senyum.


"Semua kan memang butuh latihan mas. Kamu mau belajar naik motor lagi?"


"Em, kapan-kapan saja. Kalau sudah dapat gaji dari tempat kerja, aku beliin motor buat kemana-mana."


"Eh, percaya diri sekali, dapet kerjaan aja belum. sudah mikirin beli motor." kekeh Rosa.


"Ternyata kamu bisa bercanda juga ya."


Abrisam pun juga ikut terkekeh, lalu mencubit hidung Rosa karena gemas.


"Ish, sakit tahu." Rosa menghempaskan tangan Abrisam.


Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. 2 porsi pecel lele, dan es jeruk limau. Keduanya segera menyantap makanan itu.


"Mas Sam mau nambah lagi?" tawar Rosa, karena melihat piring Abrisam sudah bersih tak bersisa. Sementara makanan dipiring nya, masih separuh.


"Enggak usah saja sayang." Abrisam menggelengkan kepalanya sungkan.


"Tidak apa-apa, kalau masih lapar, biar aku pesankan lagi. Kali ini aku yang traktir."


Rosa segera berdiri, lalu menghampiri penjual, memesan 1 porsi menu yang sama.


Abrisam bahkan tak sempat untuk menolaknya, karena Rosa berjalan dengan cepat. Tak lama kemudian, ia sudah duduk di depan laki-laki itu lagi.


"Rosa, nanti kalau uang mu habis gimana?"


"Cuma membeli seporsi nasi takkan mengurangi rezeki ku mas. Justru pasti nanti akan bertambah banyak."


Seporsi menu yang sama, sudah di antar oleh pelayan. Rosa mempersilahkan Abrisam untuk makan. Walaupun merasa tak enak, atas bujukan wanitanya, ia mau memakannya lagi.


Tak lama berselang, beberapa notifikasi yang beruntun, terdengar dari handphone Rosa. Setelah menyelesaikan makannya, ia membuka satu persatu pesan. Senyum mengembang di wajahnya.


"Kamu kenapa sayang? Kok senyum-senyum sendiri?"


"Allah itu tidak pernah tidur. Senantiasa mendengar dan mengabulkan doa hamba-Nya. Baru semenit aku ngomong, rezeki ku akan di ganti. Eh, ternyata di ganti beneran."


"Maksudnya?" Abrisam mengernyitkan dahi.


Rosa memperlihatkan deretan pesan WhatsApp pada Abrisam, yang berisi pesanan pembeli.


"Alhamdulillah, sebanyak itu?"

__ADS_1


Rosa mengangguk sambil tersenyum.


"Selamat ya sayang, usaha mu sepertinya kian sukses. Sedangkan aku..."


Abrisam menundukkan kepalanya, karena merasa malu. Di saat wanita pujaannya tengah meroket karirnya. Ia justru sedang tahap mencari kerja.


"Mas, jangan bicara yang membuat hati kita down. Harusnya melihat usaha ku, bisa kamu jadikan cambuk semangat."


Rosa menatap Abrisam, dan perlahan lelaki itu menatap Rosa. Sehingga keduanya saling beradu pandang.


"Terima kasih untuk dukungan yang kamu berikan pada ku sayang."


"Kenapa sejak tadi, kamu terus memanggil ku dengan sebutan sayang?" Rosa tersenyum tipis.


"Karena aku sangat sayang dengan mu." balas Abrisam yakin.


"Eh, cepat habiskan makanannya. Katanya mau mencari kerja lagi." ucap Rosa memecah keheningan diantara keduanya.


Abrisam segera menghabiskan makanannya. Setelah membayar makanannya, Rosa mengantar Abrisam menuju kantor-kantor yang ada di dekatnya. Namun sepertinya, usaha keduanya masih belum membuahkan hasil.


"Kita coba lagi saja besok. Sekarang aku anterin mas Sam pulang."


Tanpa banyak membantah, Abrisam menuruti perkataan Rosa. Wanita itu melajukan motornya menuju hotel di mana kedua orang tua si kembar berada.


"Sampaikan salam ku pada abi dan umi ya mas. Maaf tidak bisa mampir, ini sudah cukup gelap. Assalamu'alaikum."


Untuk pertama kalinya Rosa mengulurkan tangan pada Abrisam, lalu mencium punggung tangan lelaki itu dengan takzim. Membuat hati Abrisam melonjak gembira.


Ia terus memperhatikan, sampai bayangan wanita yang dicintainya menghilang.


Ia bersiul memasuki lobi hotel, karena perasaan senang.


"Hei." Abrisam menepuk bahu saudara kembarnya, yang tengah menunggu pintu lift terbuka. Sehingga membuat ia cukup terlonjak kaget.


"Kamu? Ngagetin saja sih." gerutu Abigail. Sesaat ia menelisik wajah kembarannya yang terlihat berbinar.


"Sudah dapat kerjaan ya? Bahagia banget." tebak Abigail. Namun Abrisam menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Tadi tak sengaja aku bertemu dengan istri ku." ucap Abrisam bangga.


Sambil masuk lift, ia menceritakan semuanya yang ia alami di hari ini. Abigail pun juga menceritakan tentang apa yang di alaminya, selama seharian ini.


Mereka menyadari jika tidak mudah mencari pekerjaan. Namun, keduanya akan berjuang untuk mencari kerja.


Keduanya tergelak, menyadari kebodohan masing-masing, karena sama-sama tidak bisa mengendarai motor.

__ADS_1


"Sepertinya kita harus berlatih untuk mengendarai motor. Masa kita kalah dengan cewek-cewek."


"Betul itu Sam."


Tanpa terasa, keduanya sudah sampai di pintu kamar hotel. Umi Farhana menyambutnya dengan senyum sumringah.


"Assalamu'alaikum umi." ucap keduanya kompak.


"Wa'alaikumussalam. Kalian keliatan capek sekali. Ayo segera masuk." Umi Farhana menggandeng keduanya masuk kamar.


"Tidak juga umi." ucap keduanya kompak.


Keduanya bergiliran mandi, sementara umi Farhana menyiapkan makan malam.


Setelah selesai mandi dan melaksanakan sholat Maghrib, mereka makan malam bersama. Keduanya sangat antusias bercerita. Orang tua mereka pun memandang takjub ke arah keduanya.


Tak lupa Abigail menceritakan tawaran dari Lidya.


"Tidak apa-apa, kalian tunggu saja kabar darinya." ucap Husein.


______


Sementara itu, di kediaman Lidya. Ia juga tengah menikmati makan malam bersama dengan kedua orang tuanya.


"Lidya, tumben sekali kamu pulang sore? Kamu ngga macam-macam lagi kan? Mama sangat khawatir kamu pergi dengan laki-laki ngga benar macam Rico."


Lidya geleng-geleng kepala mendengar ocehan mamanya. Ia tahu mamanya sangat khawatir dengannya. Karena trauma atas kejadian yang hampir saja menimpa dirinya.


Lidya akhirnya menceritakan semua yang ia lakukan setelah pulang sekolah.


"Aku kasian sama kak Abi, pa, ma. Kira-kira ada lowongan kerja ngga ya untuk kak kembar?"


Kedua orang tuanya saling berpandangan, sambil sejenak berpikir.


"Suruh saja mereka untuk datang ke kantor papa. In shaa Allah ada pekerjaan untuk mereka."


"Serius pa?" ucap Lidya dengan wajah yang berbinar.


Pak Citro menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia tidak bisa melupakan kebaikan si kembar. Jadi, akan mengusahakan apapun untuk mengganti kebaikan mereka.


Selain itu, diam-diam, baik pak Citro maupun bu Cici, menaruh simpati dan rasa suka pada Abigail.


'Jika Lidya bisa berjodoh dengan nak Abi, pasti lelaki itu bisa membimbing dan melindungi anak ku dengan baik. Hah, semoga saja hal itu bisa terjadi.' batin kedua orang tua Lidya.


Mereka pun kembali melanjutkan makannya sambil bercerita kembali.


Dan setelah selesai makan, Lidya bergegas ke kamar meraih handphonenya. Ia tak sabar untuk memberi kabar gembira pada si kembar.

__ADS_1


__ADS_2