Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
115. Undangan makan malam


__ADS_3

"Ma_mama, serius?" Husein yang berada di dekat mamanya, bertanya untuk memastikan.


"Apa mama selama ini pernah berkata sesuatu yang tidak pasti?"


Husein dan si kembar langsung menghambur memeluk Oma Sekar. Sedangkan Farhana masih berdiri mematung.


Ia tak ingin salah sangka, yang bisa membuat hatinya semakin terluka. Karena merebut hati mertuanya tidaklah mudah. Ibarat kata, 'bagai mencari jarum di atas tumpukan jemari.'


Sekar melihat Farhana yang masih berdiri terpaku.


'Aku kira dia akan menghambur ke pelukan ku, ternyata tidak.' batinnya.


"Jangan senang dulu kalian. Dia disini tidak gratis. Harus membantu menyiapkan segala keperluan ku."


Anak dan cucunya mendongak menatapnya, lalu menoleh ke arah Farhana. Wanita itu pun menoleh, lalu mengangguk dan berusaha menyunggingkan senyum.


"Cepat siapkan sarapan." titah Oma Sekar lagi.


"Baik." Farhana mengangguk lalu keluar kamar.


Ia berjalan menuju dapur untuk menyiapkan permintaan mertuanya. Bahkan ia sendiri yang memasak.


Setelah selesai memasak, ia kembali ke kamar untuk memanggil ibu mertuanya.


"Permisi bu, makanannya sudah siap." ucap Farhana dengan suara yang bergetar.


Dengan isyarat Sekar meminta tolong Farhana untuk memapahnya menuju dapur. Awalnya ia ragu untuk memegang tubuh Oma Sekar.


Hatinya semakin berdegup kencang. Ia berusaha menghela nafas, untuk menetralisir kan perasaan gugupnya. Kini keduanya berjalan menuju dapur. Di ikuti oleh si kembar dan Husein.


Terlihat makanan yang telah tersusun rapi di meja makan. Farhana menarik sebuah kursi untuk mertuanya, lalu untuk dirinya sendiri.


Kini semua tengah menghadap meja yang penuh dengan beraneka ragam jenis masakan. Husein mengambilkan sedikit nasi di piring mamanya, lalu menaruh sayur di pinggirannya. Sesuai permintaan mamanya.


Setelahnya, ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Si kembar pun segera menuang nasi dan sayur di piring masing-masing. Tinggal Farhana seorang yang belum mengambil makanan.


"Umi tidak makan?" bisik Abigail yang duduk di samping uminya.

__ADS_1


"Eh iya." balas Farhana singkat, sambil tersenyum. Ia pun menuang sedikit makanan di piringnya.


'Hem, ternyata masakannya enak juga.' batin Oma Sekar. Setelah ia menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


Sejujurnya, Farhana penasaran dengan reaksi mertuanya, ketika mencicipi hasil masakannya. Makanya sejak tadi ia hanya mengaduk-aduk makanannya. Di saat yang lain sudah menyuap beberapa sendok ke mulut masing-masing.


"Umi, kenapa makanannya hanya di aduk-aduk saja?" bisik Abigail lagi.


"Eh, iya nak. Umi ini juga mau makan kok." Farhana menyunggingkan senyum tipis lalu menyuap sesendok nasi beserta lauk ke mulutnya.


Tampak semua menikmati makanan yang hidangkan Farhana, termasuk Oma Sekar. Walaupun ia tidak memuji makanannya secara langsung.


Setelah selesai sarapan, si kembar bercakap-cakap di dekat kolam ikan. Tidak mungkin keduanya terus berdiam diri di rumah. Apalagi Oma Sekar kini juga semakin membaik kondisinya. Keduanya tidak ingin menjadi pengangguran.


"Apa besok pagi saja kita mulai mencari kerja." usul Abrisam.


"Lebih cepat lebih baik. Tidak mungkin kita terus bergantung pada orang tua kita." timpal Abigail.


Tanpa mereka ketahui, jika sejak tadi Oma Sekar mendengar semua percakapan mereka. Ada perasaan bersalah menggelayuti hatinya.


Oma Sekar kembali ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang sambil terdiam. Tak lam kemudian, ia mengambil 2 handphone dari dalam meja nakas.


Yang pertama ia membuka handphone milik Abrisam. Mulai dari pesan singkat, galeri, semua tak luput dari pemeriksaannya.


Senyum tipis terlihat di wajahnya ketika melihat Zaidan. Karena terlihat mirip dengan Abrisam sewaktu kecil.


'Aku kangen dengan mu bocah.' batin Sekar lagi.


Ia ingin melihat dan menggendong, serta bercanda dengan bayi Rosa, tapi enggan untuk mengakuinya.


Namun semakin ia menahan, rasa itu semakin kuat. Akhirnya, Oma Sekar mengirimkan beberapa foto Zaidan yang ada di handphone Abrisam ke handphone miliknya.


Setelah itu, ia membuka handphone milik Abigail. Ia tak menemukan chat mesra atau apapun yang berkaitan dengan Lidya.


'Sepertinya cucu ku satu ini tidak berani mengungkapkan isi hatinya. Namun aku tahu, jika cintanya pada gadis itu cukup dalam.'


'Apa yang harus ku lakukan untuk mendekatkan mereka? Apakah dengan mengirim pesan pada keduanya, mereka akan percaya jika itu yang mengirim kedua cucuku?'

__ADS_1


Meskipun ragu, Oma Sekar mencoba mengirimi Rosa dan Lidya pesan. Setelah berhasil terkirim, ia menghapus pesan tersebut. Agar kedua cucunya tidak curiga.


Sementara itu di seberang sana Rosa mengernyitkan dahi ketika membaca isi pesan dari Abrisam.


'Hai Rosa, berdandan lah yang cantik. Nanti malam, sopir Oma ku akan menjemput mu. Kita makan malam di rumah Oma ku.'


"Apakah ini ini serius yang menulis mas Sam? Kok aku tidak yakin ya? Makan malam disana, sama dengan aku kembali ke tempat penyekapan ku dulu. Lalu, apa yang harus aku lakukan?" gumam Rosa.


"Bicara sama siapa sih Ros?" suara ibunya mengejutkan Rosa yang tengah berpikir.


Ia menoleh ke arah ibunya, lalu sejenak menimbang baik buruknya untuk mengatakan yang sejujurnya pada ibunya.


"Bu, coba baca ini." Rosa menyodorkan handphone pada ibunya, memperlihatkan isi pesan dari Abrisam. Bu Susi menerimanya lalu membacanya. Ia pun juga mengernyitkan dahi.


"Ibu kan ngga tahu selama ini gaya pesan dari nak Sam Ros. Jadi ibu tidak bisa melihat perbedaannya. Tapi, ibu ragu juga sih. Nanti kamu kalau di culik lagi gimana? Oh, bisa jadi setelah kamu menolongnya, ia ingin mengucapkan rasa terima kasihnya begitu."


"Masa sih bu." Rosa masih saja mengernyitkan dahi.


__


Sementara itu di tempat lain, yakni kediaman Lidya. Ia yang baru saja pulang sekolah, menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Tugas sekolah yang banyak dan sulit hari ini membuatnya cukup kelelahan.


Sambil rebahan ia mengecek handphonenya. Ia mengernyitkan dahi ketika membaca pesan dari Abigail.


'Hai Lid, nanti malam makan malam bersama dengan kedua orang tua di rumah Oma ya. Nanti sopir Oma yang akan menjemput kamu. Jangan lupa dandan yang cantik.'


Mamanya datang sambil membawakan segelas es jeruk untuknya.


"Nih, segelas es jeruk. Pelepas dahaga untuk anak mama yang cantik ini." ucap mamanya sambil meletakkan gelas itu di meja dekat tempat tidur Lidya.


"Terima kasih ma." ucap Lidya dengan senyum sumringah. Pesan dari Abigail sejenak terlupakan.


Ia langsung duduk dan meraih segelas es berwarna oranye yang terlihat menyegarkan itu. Tak sampai lima menit, gelas itu kosong. Mamanya yang melihatnya, geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli.


"Sepertinya kamu lelah sekali ya." Lidya mengangguk cepat.


Bu Cici mengernyitkan dahi ketika sekilas membaca pesan di handphone Lidya yang masih tampak menyala.

__ADS_1


__ADS_2