Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
86. Sebuah informasi


__ADS_3

Lidya mengernyitkan dahi, karena pesan yang ia kirim tadi pagi belum juga di balas oleh Abigail. Ia pun kembali mengirim pesan untuk dokter tampan itu.


'Assalamu'alaikum kak, terima kasih atas bantuannya. Sidang hari ini Alhamdulillah berjalan lancar. Sukses terus untuk kak abi.'


Pesan berhasil terkirim. Namun, sampai rumah, Lidya tak kunjung mendapat balasan.


'Tumben sekali sih, kak Abi lama banget balas pesan dari ku.' gerutu Lidya dalam hati.


Ia pun berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya.


Setelah sholat dhuhur, ashar dan Maghrib, Lidya terus bolak-balik membuka handphonenya. Namun, tak ada balasan apapun dari Abigail.


"Kerja apaan sih? Dari tadi pagi pesan ku ngga di balas juga? Apa kak Abi marah sama aku, gara-gara telat balas pesannya?" Lidya terus bermonolog.


"Lidya, ayo makan malam dulu sayang." teriak Bu Cici. Lidya bangkit, lalu keluar menuju dapur.


Ia memasukkan makanan ke mulutnya dengan tidak berselera, gara-gara masih kepikiran dengan pesannya yang tak terbalas.


______


Di tempat lain, Rosa tengah bercanda dengan anak dan ibunya. Ia merasa bahagia sekaligus bersyukur. Karena perlahan, rasa trauma bertemu dengan Rico perlahan menghilang.


"Rosa, kamu sudah mengucapkan terima kasih belum, dengan nak Abrisam?" di tengah asyiknya bercanda, ibunya tiba-tiba menyela.


Dengan spontan Rosa menggeleng.


"Hem, kamu ini bagaimana sih? Kenapa sampai kelupaan? Buruan gih kirim pesan dulu. Kita kan harus menghargai atas bantuan yang ia berikan."


"Baik Bu." Rosa mengangguk, lalu meraih handphone yang selalu ada di dekatnya.


'Assalamu'alaikum mas. Terima kasih atas bantuan yang diberikan. Alhamdulillah, berkat bantuannya, sidang pertama ini berjalan lancar.'


Pesan berhasil terkirim. Setelahnya, Rosa kembali bercanda dengan Zaidan.


_____


Sementara itu, di sudut ruangan yang berbeda, si kembar tengah makan malam dengan omanya.


Abrisam hanya mengaduk-aduk makanannya, tanpa berniat untuk memakan. Ia sangat kecewa dengan omanya, karena handphonenya di sita.

__ADS_1


Sedangkan Abigail, dengan susah payah menelan makanan, karena memang juga tidak berselera.


Melihat tingkah laku kedua cucunya, Oma Sekar menyunggingkan senyum sinis.


'Hem, rasakan pembalasan dari Oma. Siapa suruh main-main dengan orang tua.' batin Oma. Ia pun melanjutkan makannya dengan lahap.


Setelah acara malam malam, si kembar dengan di dampingi oleh asisten rumah tangga, berjalan bersama menuju kamar.


"Kita ini laki-laki, tapi kenapa kalah dengan perempuan? hidup bagai dalam sangkar emas." cicit Abrisam, yang mengundang tawa dari para asisten rumah tangga.


"Heh, kok malah ketawa sih bi? Mau ngerasain ada di posisi kami?" sungut Abrisam kesal.


"Eh, maaf maaf mas. Sebenarnya kita juga sedih, ndoro bersikap seperti ini pada cucunya. Tapi kami bisa apa? Dulu sewaktu den Husein masih muda, juga diperlakukan sama seperti ini. Dan akhirnya dia berhasil kabur."


"Kabur!" seru si kembar bersamaan, dengan mata yang membulat sempurna.


Keduanya pun saling beradu pandang, lalu menyunggingkan senyum.


"Eh, mas kembar juga mau kabur ya?" ucap bibi yang mulai khawatir.


"Memangnya kita tidak boleh kabur bi? Kita masih muda bi, perjalanan hidup kita juga masih panjang. Apa bibi tega melihat kami tidak bisa melakukan aktivitas apapun juga? Tiap hari kerjaannya hanya makan tidur, makan tidur. Bosen tahu bi."


"Ya sudah, bibi dukung niat mas kembar untuk kabur. Tapi jika sampai ketahuan sama ndoro Oma, tolong jangan libatkan kita ya mas."


"Pasti bi." ucap si kembar sambil tersenyum.


Si kembar kembali ke kamar masing-masing, dan tak lupa bibi mengunci pintu kamarnya.


_____


Sedangkan Oma, setelah makan malam, ia duduk di tepi ranjang tempat tidur. Tangannya meraih handphone cucunya.


Yang pertama ia membuka handphone milik Abrisam, karena ia sangat penasaran dengan wanita yang menjadi istri sirinya.


Ia mengernyitkan dahi, ketika ada pesan dari Rosa. Lalu segera membaca pesannya.


"Hem, ada masalah apa dengan wanita ini? Sehingga harus menjalani persidangan." gumamnya.


Ia pun beralih pada handphone Abigail. Oma membuka pesan WhatsApp dan membaca isi pesan dari Lidya.

__ADS_1


"Kenapa kedua cucu ku ikut-ikutan bodooh seperti papanya? Baru sekedar pacaran, tapi sudah rela mengeluarkan uang untuk membayar pengacara."


Tak lama kemudian, handphone Oma Sekar berbunyi. Nama anak buahnya tertera di layar handphone, bergegas ia pun mengangkatnya.


"Hallo bos. Saya punya berita penting untuk anda." ucap anak buahnya di ujung sana, sambil terkekeh.


"Aku tidak suka bertele-tele. Cepat katakan, atau gaji mu akan ku potong."


Anak buah Oma Sekar seketika terdiam mendapat ancaman potong gaji. Ia pun segera menyampaikan informasi yang di dapat.


"Rosa adalah seorang gadis SMA korban pelecehaan, hingga akhirnya memiliki seorang anak. Dan, mas Abrisam membantunya dengan mengirimkan seorang pengacara untuknya.


Tak hanya itu saja, mas Abrisam diam-diam menikah siri dengan Rosa, sebelum berangkat ke Riyadh menemui orang tua kandungnya.


Rosa berasal dari keluarga miskin, dan bapaknya sudah meninggal karena mengetahui anaknya hamil di luar nikah. Sedangkan ibunya hanyalah seorang buruh pabrik. Dan, sekarang sudah kena PHK. Keduanya hidup dari hasil jualan online yang di geluti Rosa.


Sedangkan Lidya, adalah seorang gadis SMA. Dan, ia hampir sama nasibnya, menjadi korban pelecehaan, namun berkat pertolongan mas Abigail, ia selamat.


Laki-laki yang meleceehkan, sekarang dalam tahanan. Dan sekarang sedang menjalani sidang. Karena mas Abigail tidak bisa menemani Lidya, ia pun mengirimkan seorang pengacara untuknya.


Diam-diam, selama ini mas Abigail selalu menyempatkan ke rumah Lidya, untuk membantunya belajar. Karena dia seorang gadis yang bodooh.


Ayah Lidya bekerja di salah satu cabang kantor yang di kelola mas Abrisam. Namun keduanya tidak menyadari hal itu. Sedangkan ibunya, membuka toko kelontong di rumah."


Oma Sekar tersenyum puas mendengar penjelasan dari anak buahnya.


"Bagus awasi terus mereka." setelah itu, Oma Sekar langsung menutup teleponnya.


Dengan senyum sinis, Oma Sekar membalas pesan untuk Rosa dan Lidya.


'Hei wanita bodoh nan kampungan. Aku benci berkenalan dengan mu. Asal kamu tahu, aku tak sudi untuk bertemu dengan kamu lagi. Jangan ganggu hidupku, jika tak ingin menyesal di kemudian hari.' pesan berhasil terkirim untuk Rosa.


Setelahnya, Oma mengirim pesan untuk Lidya.


'Hai gadis SMA. Masih kecil saja belagu. Jangan sok deketin aku. Aku ngga suka bertemu dengan mu lagi. Jadi aku harap kamu menjauh dari kehidupan ku. Atau, kamu akan menyesal dikemudian hari. Camkan itu.' pesan berhasil terkirim untuk Lidya.


Oma Sekar tertawa terbahak-bahak setelah berhasil mengirim pesan untuk kedua wanita itu, dengan menggunakan handphone kedua cucunya.


"Aku yakin, setelah membaca pesan ku, mereka akan menangis histeris. Dan akhirnya putus dengan kedua cucu ku." gumamnya dengan senyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2