Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
38. Akhirnya diterima


__ADS_3

Rico harap harap cemas, karena sudah satu minggu sejak ia menyatakan cintanya pada Lidya, gadis itu belum juga memberinya jawaban.


Akhirnya, ia yang sudah di landa rasa tak sabar, berniat menanyakan hal itu nanti malam.


Setelah memastikan penampilan nya oke, Rico segera keluar dari kamarnya.


"Mau kemana?" tanya ibu nya.


"Kayak ngga tahu urusan anak muda saja sih bu?" balas Rico sambil terkekeh dan berlalu pergi meninggalkan ibunya yang tengah asyik menonton tv.


Sambil bersiul dan senyum terus mengembang di wajah Rico selama perjalanan menuju rumah Lidya.


Ia berharap usahanya untuk mendapatkan hati Lidya tak sia-sia. Karena hatinya sudah bergemuruh tak karuan melihat pesona kecantikannya.


Tak lama kemudian, Rico sudah sampai di rumah Lidya. Bergegas ia turun dari motornya dan mengetuk pintu rumah.


"Cari Lidya? Sebentar tante panggilkan."


Rico tersenyum mengangguk ke arah bu Cici, yang sampai hafal dengan kedatangan Rico ke rumahnya.


Tak berselang lama, Lidya sudah datang menemui Rico yang sudah duduk di ruang tamu.


Rico tertegun melihat Lidya yang tampil sangat cantik dengan dress warna pink, di padukan dengan jaket jeans sebagai outernya. Rambut panjangnya tergerai indah.


"Jangan sampai lebih dari jam 9 malam." ucap bu Cici mewanti wanti Lidya dan Rico yang hendak pergi menikmati waktu malam minggu.


"Iya bu." ucap Rico sambil mengangguk.


Keduanya pun berboncengan menyusuri jalan kota yang terlihat indah dengan cahaya lampu yang temaram.


Lidya hanya mengikuti kemauan Rico yang ternyata mengajaknya menonton film di bioskop.


Setelah membeli tiket dan cemilan ringan, Rico menggandeng tangan Lidya dengan mesra. Hingga membuat gadis itu merasa tersentuh dengan perhatian Rico.


Sengaja Rico memilih duduk di kursi paling belakang, agar bisa bebas berbuat apa saja.


Tak berselang lama, film akhirnya di putar. Meskipun berulang kali menonton film Titanic, tetap saja mereka tidak bosan.


Tanpa Lidya sadari, tangan Rico bergerak perlahan menyentuh tangannya, dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Lid." Rico memanggilnya dengan suara yang lembut tapi masih bisa di dengar oleh Lidya.


"Apa?"


"Boleh ngga aku kecup tangan mu?" Lidya tersenyum ke arah Rico sambil mengangguk yang semakin membuatnya senang.


"Kapan kira-kira kamu mau memberi ku jawaban Lid? Aku sudah tak sabar mendengar nya. Kalau sekarang gimana?" ucap Rico sambil menatap Lidya dengan intens.


"Boleh."


"Maksudnya Lid? Jangan ambigu gitu dong. Kamu mau memberi ku jawaban sekarang? Lidya mengangguk sambil tersenyum yang membuat Rico menjadi tak sabar untuk mendengarnya.


"Apa jawabannya Lid?" ucap Rico dengan suara yang bergetar.


"Aku, menerima mu Ric." ucap Lidya dengan suara yang tercekat, karena merasa speechless.


Selama hampir setahun melihat Rico yang berjuang untuk mendapatkan hatinya, akhirnya membuat Lidya luluh juga.


Rico berjingkrak hebat karena keinginan nya akhirnya terkabul.


Tanpa sadar aksinya itu membuat penonton yang lain merasa terganggu, dan langsung menyorakinya. Hingga Lidya terkekeh geli melihat hal itu.


Sepulang dari bioskop, tak lupa Rico mengajak Lidya jajan. Kali ini keduanya memasuki sebuah warung steak yang ramai dengan pemuda pemudi yang nongkrong menghabiskan waktu malam minggu.


Rico berulang kali mengungkapkan perasaan nya yang sedang sangat bahagia karena cintanya bersambut dengan indah. Ia memberikan sebuah jam tangan, dan melingkarkan nya di pergelangan tangan Lidya. Begitu pun Lidya yang melakukan hal yang sama.


"Foto dulu yuk sayang, kita abadikan momen indah ini." ajak Rico dengan penuh semangat sambil mengeluarkan handphone nya.


Mereka pun mengambil beberapa gaya yang di anggapnya paling baik, tentunya dengan sederet senyum yang terus mengembang di wajah keduanya.


Dan untuk yang kesekian kalinya, ada yang memperhatikan kemesraan yang mereka ciptakan.


Abigail yang duduk tak jauh dari bangku Lidya menyaksikan itu semua.


'Kenapa lagi-lagi aku harus di pertemukan dengan anak ingusan seperti mereka?' batin Abigail geram. Bahkan sampai mengepalkan tangannya.


Teman-teman Abigail yang melihatnya seperti itu terheran-heran. Masalahnya, tak hanya sekali itu saja mereka melihat Abigail bersikap aneh. Tapi sudah beberapa hari yang lalu, semenjak dari warung bakso.


Perasaan Abigail bercampur aduk kala samar-samar mendengar kata sayang yang di ucapkan oleh cowok itu pada Lidya. Ia benar-benar tak terima, tapi tak tahu apa sebabnya hatinya bisa seperti itu.

__ADS_1


Seperti dulu saat di warung bakso, Abigail menunggu sampai Lidya dan cowok itu pulang. Tak lama berselang setelah keduanya pulang, Abigail pun segera berpamitan pulang. Lagi-lagi teman-temannya semakin heran dengan sikapnya.


Abigail terus membuntuti keduanya dari jarak aman. Setelah Lidya memang benar-benar selamat sampai rumah, barulah ia membelokkan mobilnya menuju rumahnya.


"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa sampai membuntutinya seperti ini?" rutuk Abigail sambil memukul kemudi mobil.


Hatinya semakin bergejolak tak karuan, sehingga semalaman ia kembali tak bisa tidur.


_____


Semenjak keduanya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih, keduanya semakin intensif bertemu.


Rico selalu mengantar jemput Lidya kemana saja dengan suka cita. Bahkan Rico mengajak Lidya ke rumahnya dan memperkenalkan dengan kedua orangtuanya.


Orang tua Rico memuji kecantikan Lidya yang sangat mempesona itu, sehingga membuat Lidya tersipu malu. Tak hanya itu saja, orang tua Rico juga menganggap Lidya seperti anaknya sendiri.


Seperti di sore itu, Rico mengajak Lidya berkunjung ke rumahnya. Yang tentunya bakal di sambut hangat oleh orang tua Rico.


Dan, di saat yang bersamaan, Abigail baru saja sampai di rumah Lidya. Bu Cici mengernyitkan dahi, karena Lidya sedang pergi dengan Rico.


"Lidya ada tante?" ucap Abigail dengan sopan.


"Lidya, sedang pergi dengan Rico pacarnya." ucap bu Cici terus terang. Tentu saja hal itu semakin membuat dada Abigail semakin bergemuruh.


"Apa dia tidak mengabari nak Abi dulu?" ucap bu Cici merasa tak enak.


Ia paham dengan pekerjaan Abigail yang sangat padat, tapi masih bisa merelakan waktunya untuk memberikan les pada Lidya.


"Tidak bu. Ya sudah tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Abigail yang tak dapat menyembunyikan rasa kecewanya.


Ia pun berjalan gontai meninggalkan bu Cici yang masih mematung di ambang pintu menatap kepergiannya.


Sesampainya di rumah, Abigail segera memasuki kamarnya dengan langkah gontai, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas pembaringan.


"Jadi benar, mereka sudah pacaran, dan nama pacarnya Rico. Kenapa aku ngga senang kalau mereka pacaran? Apa, aku, mulai...."


"Tidak tidak." Abigail mencengkeram kepalanya dengan kuat sembari menggelengkan nya.


"Tidak mungkin kan aku bisa jatuh cinta dengan anak sekolah. Apa kata dunia nanti? Usia kita terpaut jauh. Mana mungkin dia mau menerima ku. Apalagi sekarang dia sudah memiliki pacar yang juga tampan dan tentunya seumuran dengannya."

__ADS_1


Arghhh...


"Kenapa jatuh cinta rasanya lebih sakit dari pada di tusuk jarum?"


__ADS_2