
Meskipun diucapkan dengan tenang, dan lugas, tetap saja perkataan Abigail sangat menohok di hati Oma.
"Pergi kalian berdua dari sini!" bentak Oma Sekar dengan murka. Dengan nafas yang menderu, ia mendorong Husein dan Farhana, lalu menutup pintunya.
"Oma, jangan lakukan itu Oma. Kasian Abi dan umi." ucap si kembar bersamaan, sambil menjauhkan tubuh Oma dari pintu.
Farhana mulai terisak, dan Husein menenangkannya dengan memegang kedua lengannya.
Akhirnya pintu berhasil di buka oleh Abigail lagi. Sedangkan Abrisam memegang erat omanya.
"Jadi begini perlakuan kalian pada Oma, setelah 24 tahun Oma besarkan!" bentak Oma dengan murka.
"Maaf Oma. Bukan maksud kami berani pada Oma. Tapi, semua itu sudah lama berlalu, mari kita hidup rukun dan damai." ajak Abigail lagi.
"Tidak bisa begitu. Sampai mati pun aku tetap tidak mengijinkan Husein bersatu dengan wanita itu." tunjuk Oma pada Farhana.
"Dan, kalian berdua segera masuk kamar." tunjuk Oma pada kedua cucunya.
"Pelayan, pelayan!" teriak Oma memanggil para pelayan.
Merasa di sebut, para pelayan yang tengah mengintai di balik kongliong merasakan jantungnya berdegup kencang. Hingga akhirnya mereka yang tengah di posisi berjejer, ambruk seketika.
"Adduh....." Erang mereka bersamaan. Lalu segera bangkit, dan berjalan bersamaan menghadap majikan.
"Satpam, seret mereka berdua keluar dari rumah ku. Dan, yang lain, bawa cucuku masuk ke dalam kamar, jangan lupa kunci pintunya."
Para pelayan membulatkan matanya mendengar perintah dari majikannya.
"Cepat...." seru Oma. Mereka pun segera berhamburan melaksanakan tugasnya.
"Ma_maaf kami den Husein. Kami hanya melaksanakan perintah ndoro." bisik satpam.
"Tidak apa-apa pak." ucap Husein sambil tersenyum. Laki-laki itu lalu memapah tubuh istrinya menjauh dari rumah.
Sedangkan si kembar menatap kepergian kedua orang tuanya dengan sayu. Keduanya tak menyangka Omanya tega melakukan hal itu padanya.
"Ayo mas, masuk ke kamar dulu, biar ngga tambah di marahin." bisik pelayan sambil mendorong sedikit tubuh Abigail dan Abrisam.
__ADS_1
"Seret mereka kalau tidak mau." titah oma pada para pelayan.
Dengan berat hati, pelayan itu melakukan tugasnya. Setelah sampai kamar, pelayan tak lupa mengunci pintunya, lalu menyerahkan kuncinya pada Oma.
Dengan senyum puas, Oma menerima kunci itu.
"Ingat, jangan pernah membukakan pintu untuk kedua makhluk tadi. Dan jangan pula membukakan pintu untuk kedua cucu ku, selain mendapat perintah dari ku. Paham kalian?"
"Paham ndoro." ucap para pelayan sambil menundukkan wajahnya. Mereka sangat takut dengan majikannya yang satu itu.
Oma Sekar segera berlalu meninggalkan para pelayan yang menunduk, menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Oma duduk di tepi ranjang sambil memainkan dua kunci kamar cucunya.
"Oma harus melakukan ini pada kalian, agar jangan sampai melakukan hal yang sama seperti papa kalian. Kalian harus menikah dengan wanita wanita yang terpandang." ucap Oma Sekar dengan senyum sinis.
Ia pun menjatuhkan tubuhnya untuk tidur. Agar segala hal buruk yang baru saja terjadi, hilang dari pikirannya.
Sementara itu, di luar, para pelayan seakan mendapat angin segar, ketika Oma Sekar sudah masuk ke kamarnya.
"Huff...." mereka kompak membuang nafas.
"Husstt.... tapi jangan keras-keras bicaranya. Kalau ketahuan sama ndoro putri, bisa di marahi kita. Langsung kick out."
"Gaya mu, kayak lagi main bola saja."
"Eh, ini beneran. Kamu mau diberhentikan secara tidak hormat sama ndoro putri?"
"Yo enggak, meskipun dia galak, demi uang aku tahan tahanin. Soalnya aku sudah tua, cari kerjaan makin susah."
"Eh, tapi kasian mereka ya. Dari dulu sampai sekarang, ndoro ngga pernah berubah perlakuannya pada den Husein dan istrinya. Padahal istrinya meskipun miskin, tapi tidak miskin adab. Dia sangat baik dan lemah lembut. Pantas saja, meskipun mas Abigail dibesarkan oleh ndoro Kakung dan ndoro putri dengan keras, tidak membuatnya keras, karena sifatnya menurun dari ibunya."
"Eh, sudah-sudah ayo bubar. Kita kembali kerja lagi." celetuk salah satu dari mereka, ditengah-tengah asyiknya mereka mengghibahkan majikannya.
Mereka pun segera bubar meninggalkan ruang tamu, menuju ke tempat kerja masing-masing.
Sementara di kamar, Abigail kembali duduk menghadap jendela kamar. Ia menyaksikan kedua orang tuanya yang tengah menunggu taksi online. Ia menitikkan air mata, melihat penderitaan yang di alami keduanya.
__ADS_1
"Ya Allah, berikan kami kekuatan untuk menghadapi semua cobaan ini." gumamnya.
Abrisam tampak mondar-mandir tak jelas, karena benci dengan sikap oma Sekar. Akhirnya ia merogoh handphone yang selalu berada dalam saku celananya.
Abigail merogoh handphone dalam saku celananya dengan pandangan tak beralih dari kedua orang tuanya.
Ketika melihat layar handphone, ia mengernyitkan dahi, karena tertera nama kembarannya.
"Hallo, ada apa? Kamar bersebelahan saja, pakai acara telepon." cerocos Abigail ketika ia sudah menekan tombol hijau.
"Woi, sadar. Kita ini lagi berada di dalam sangkar emas. Ngga bisa keluar, makanya aku telepon kamu."
Abigail manggut-manggut, baru tersadar, dengan ucapan kembarannya.
"Hem, lalu kamu mau bicara apa?"
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Abrisam.
Abigail terdiam sekian waktu, memikirkan apa yang akan dilakukan sekarang. Namun tak kunjung mendapatkan jawabannya.
"Entahlah, aku sendiri juga bingung."
"Aku juga sedang memikirkan apa yang harus kita lakukan sekarang, tapi belum juga ketemu jawabannya. Nanti kalau sudah ketemu jawabannya, aku kasih tahu kamu. Okay?"
"Iya, aku setuju." Abigail lalu mematikan teleponnya.
Karena tak bisa keluar rumah dalam waktu yang tak pasti, Abigail mengirim pesan singkat ke Lidya.
'Assalamu'alaikum Lidya. Maafkan kakak ya, untuk sementara waktu tidak bisa memberi mu les. Kamu belajar lebih rajin ya, berusaha lah mengingat apa yang sudah kakak jelaskan pada mu. Oh iya, semoga masalah mu dengan lelaki itu cepat selesai. Kakak akan mengirim seorang pengacara untuk memudahkan mu menghadapi persidangan nanti.' pesan singkat itu akhirnya terkirim.
Ia tahu, karena masih di jam sekolah, Lidya tidak mungkin membalasnya.
Sedangkan di kamar sebelah, Abrisam juga memberi kabar pada Rosa lewat pesan singkat.
'Hai Rosa. Maafkan jika nanti aku tidak bisa datang dalam persidangan mu melawan lelaki itu, karena sekarang aku sedang repot dengan pekerjaan baru. Tapi aku akan mengirim seorang pengacara untuk membantu mu memenangkan persidangan itu. Semoga berhasil ya. Salam sayang untuk kamu sekeluarga dari ku.'
Setelahnya, Abrisam membuka galeri handphonenya. Ia melihat foto-foto kebersamaannya dengan Rosa sekeluarga dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Foto-foto di Riyadh dulu, menjadi kenangan manis baginya yang tak kan pernah bisa dilupakan. Ia bagai memiliki keluarga yang sempurna. Memiliki kedua orang tua yang lengkap, dan memiliki anak istri.