
Di pagi yang sama, Abrisam juga tengah mencari pekerjaan. Ia pun melakukan hal yang sama seperti Abigail, berjalan kaki dari satu kantor ke kantor lainnya, demi menghemat uang saku.
Meskipun abinya akan memberi uang berapapun yang ia minta, tapi ia sungkan menerimanya.
Seorang laki-laki sejati adalah, yang mau berusaha dan berjuang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Bukan hanya mengandalkan bantuan orang-orang disekitarnya.
Dan, Abrisam tengah membuktikan hal itu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, akhirnya ia tiba di sebuah kantor yang bergerak di bidang textile industry.
Senyum mengembang di wajahnya. Besar harapannya, untuk bisa diterima di kantor tersebut. Bergegas ia menuju pos satpam.
"Permisi pak, apakah disini ada lowongan kerja? Saya mau mendaftar." ucap Abrisam pada beberapa orang satpam yang tengah berjaga.
Untuk sesaat para satpam itu menelisik penampilan Abrisam yang mukanya tampak memerah, dan mulai berkeringat, karena cukup lama berjalan kaki.
Satpam itu mulai membuka map berkas lamaran Abrisam, lalu sejenak meneliti tentang kelengkapannya.
"Maaf mas, di kantor ini mencari lulusan baru." satpam itu menyodorkan berkas lamaran Abrisam.
"Ya sudah pak, terima kasih atas waktunya." pamit Abrisam sebelum pergi.
Ia pun kembali melanjutkan perjalanan nya melamar kerja, hingga waktu Dhuhur menyapa.
Ia menengok ke kiri dan kanan mencari masjid terdekat. Dan, tak jauh darinya, di seberang jalan, ada sebuah masjid. Bergegas ia pun menyebrangi jalan.
Percikan air wudhu kembali menyegarkan tubuhnya. Setelah berwudhu, ia segera menunaikan sholat sunah. Tak lama berselang, sholat Dhuhur pun di mulai.
Satu persatu jama'ah mulai meninggalkan tempat ibadah, ketika telah selesai mengerjakan kewajiban mereka. Sedangkan Abrisam masih betah bermunajat.
Ia memohon petunjuk Allah, agar diberi kemudahan mendapatkan pekerjaan. Di beri kelapangan hati dalam menghadapi masalah. Dan dimudahkan segala urusannya.
Abrisam kini duduk di teras masjid, setelah selesai melaksanakan kewajibannya. Ia menikmati angin yang bergerak sepoi-sepoi. Membuatnya merasakan kantuk. Ia menjatuhkan kepalanya di atas tas. Dan, tak lama kemudian, ia terlelap.
Bahkan, suara deru kendaraan yang lewat, tidak mampu menggangu tidurnya.
Sementara itu, setelah memarkirkan motornya, seorang wanita berjalan menuju tempat wudhu perempuan.
Tetesan air yang membasahi wajahnya, membuat ia kembali terlihat cantik dan segar. Alangkah terkejutnya ia, ketika menapaki teras masjid, melihat Abrisam yang tengah tertidur pulas.
Ingin sekali bertanya apa yang terjadi, namun segera ia urungkan niatnya, untuk melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu.
Ia pun segera mengenakan mukena, lalu memulai kewajibannya dengan takbir.
__ADS_1
Setelah selesai mengerjakan kewajibannya, ia keluar, dan mendapatkan Abrisam masih dalam posisi yang sama.
Melihat wajahnya yang tampak letih membuatnya iba. Ia pun duduk di sampingnya, untuk sekedar menjaganya. Ia takut jika ditengah lelapnya Abrisam tidur, ada yang berniat jahat padanya.
Sambil menunggu, wanita itu membuka aplikasi handphonenya, untuk mengecek pesanan pembeli. Cukup asyik saat membalas chat pembeli, sehingga ia tak sadar Abrisam menggeliat bangun.
"Rosa." desis Abrisam.
Ia terduduk lalu mengucek matanya untuk memastikan apa yang dilihat di hadapannya adalah kenyataan, bukan hantu Rosa.
"Kenapa mas? Kok terkejut seperti itu?" Rosa mengernyit heran.
"I_iya, aku memang terkejut. Aku pikir kamu hantu. Ternyata memang asli manusia." tangan Abrisam bergerak mencubit kedua pipi Rosa, sehingga membuat wanita itu mengaduh kesakitan.
"Kamu apa-apaan sih mas. Sakit tahu." Rosa mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Maafkan aku sayang. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan mu disini." ucap Abrisam dengan binar bahagia.
"Kenapa mas Sam tidur di sini? Apa ngga kedinginan?"
"Enggak, hawanya kan panas seperti ini, jadi tidur di lantai yang dingin membuatku merasa nyaman."
"Habis ini mas Sam mau kemana?"
Abrisam terdiam sekian waktu sebelum menjawab pertanyaan Rosa. Terus terang ia malu mengakui jika dirinya tengah mencari pekerjaan. Apalagi dengan berjalan kaki.
"Okay, baiklah, aku cerita sama kamu. Tapi janji ya, jangan membully ku."
Abrisam mengacungkan jari kelingkingnya, seperti anak kecil yang takut jika janjinya diingkari.
Rosa pun membalas dengan mengeratkan jari kelingkingnya dengan Abrisam sambil tersenyum.
"Aku janji."
Abrisam pun menceritakan semuanya, termasuk niatnya dalam mencari kerja.
"Aku sangat salut dengan perjuangan yang tengah kamu lakukan sekarang mas." puji Rosa dengan tulus.
"Jangan memuji ku seperti itu. Aku kan belum dapat pekerjaan."
"Yang penting niat dan usaha dulu mas. Kalau hasil, yang menentukan kan Allah."
Abrisam menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, membenarkan ucapan Rosa.
__ADS_1
"Oh iya, pasti mas Abrisam belum makan. Kita cari makan di sekitar sini yuk."
"Eh, ngga usah Rosa. Aku harus segera mencari kerja lagi. Jarak antar kantor kan jauh, dan aku jalan kaki."
"Apa! Jalan kaki?" pekik Rosa terkejut.
"Pantas saja, tadi aku lihat mas Sam tidurnya pulas sekali. Pasti karena kecapekan. Ya sudah kita cari makan dulu. Habis itu, Rosa anterin cari kerja."
"Tidak perlu Rosa. Aku takut merepotkan mu. Lagian kasian Zaidan, kalau terlalu lama ditinggal."
"Bismillah. Niat ku tulus bantuin mas Sam. Pasti Allah juga akan memudahkan urusan ku, termasuk soal Zaidan."
Abrisam tak dapat mengelak lagi. Ia pun menurut apa kata Rosa.
Sesampainya di tempat parkir, Rosa menyerahkan kunci motornya pada Abrisam. Lelaki itu mengernyit heran.
"Untuk apa kunci motor ini sayang?"
"Kamu dong yang boncengin aku."
"Eh, tap_tapi aku ngga bisa. Seumur hidup aku ngga pernah menyentuh motor."
Rosa terkekeh mendengar penjelasan Abrisam, yang baginya tak masuk akal. Ia pun memberitahu Abrisam cara melajukan motor.
Setelah yakin, Rosa membonceng di belakang Abrisam. Dan tanpa di sangka, Abrisam langsung mengegas, sehingga motornya bergerak cepat.
"Arghhh...." teriak Rosa, lalu memeluk pinggang Abrisam seketika.
"Pelankan mas, aku takut." teriak Rosa.
Abrisam yang belum mahir, langsung mengerem mendadak. Sehingga membuat keduanya terhuyung ke depan. Kepala Rosa terantuk punggung Abrisam. Keduanya sama-sama mengerang kesakitan.
Untuk sesaat keduanya menghirup nafas dalam-dalam, menghilangkan rasa takut yang menjalari tubuh keduanya, sehingga bergetar hebat.
"Kamu baru percaya kan, kalau aku tidak bisa melajukan motor."
Rosa menganggukkan kepalanya, lalu segera menyuruh Abrisam turun. Keduanya berganti posisi tempat duduk. Kali ini, Rosa yang memboncengkan.
Abrisam tampak nyaman duduk di belakang sambil memperhatikan kanan kiri jalan.
Tak perlu waktu lama, keduanya sampai di warung lesehan yang menyediakan nasi pecel, urap dan makanan desa lainnya.
"Mas Sam mau makan apa?" tawar Rosa.
__ADS_1
"Samakan dengan pesanan mu saja sayang."
Rosa tersenyum lalu melangkah mendekati penjual, sedangkan Abrisam mencari tempat duduk yang nyaman untuk berduaan dengan istrinya.