
Husein duduk di dekat ibunya, lalu mendekatkan sesendok nasi beserta lauk ke mulut mamanya.
Namun wanita itu tak kunjung membuka mulutnya. Dan justru kini tengah menatapnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Sehingga membuat Husein hendak menundukkan kepalanya.
Dan sebelum itu terjadi, Oma Sekar membuka mulutnya. Lalu melahap sesendok nasi yang dipegang putranya. Mereka yang melihat hal itu menyunggingkan senyum tipis karena lega.
Dalam hati, Husein cukup bahagia, ibunya mau menerima suapannya. Ia berdo'a, semoga suatu saat sebelum ajal hadir, mereka bisa bersatu dan berkumpul dengan keluarga yang utuh.
Dan tak ada yang tahu, jauh di dalam hati Sekar. Ia ingin memeluk laki-laki yang kini tengah menyuapinya. Karena rindu yang membuncah. Tapi, sebisa mungkin ia tahan rasa itu.
Pelan namun pasti, di tengah keheningan yang tercipta, Oma Sekar menghabiskan sepiring nasi itu. Husein meletakkan piring di nakas. Lalu meraih segelas air minum dan obat. Mamanya dengan patuh menelan obat itu.
Mereka yang melihat seakan ingin bersorak, karena oma Sekar tidak segarang biasanya. Namun, berusaha keras untuk ditahan, tak ingin di anggap lebay.
Setelah kejadian menyuap yang penuh haru itu, kedatangan seorang dokter dan perawat mengalihkan pandangan mereka.
"Permisi, kita periksa keadaan ibu dulu ya." Kata dokter itu.
Ia mulai melakukan serangkaian pemeriksaan. Sedangkan perawat yang berdiri disampingnya, bersiap mencatat setiap perkembangan pasien.
Meskipun Abigail seorang dokter, ia tetap menyerahkan semuanya pada rekannya.
"Semuanya menunjukkan perkembangan yang bagus. Mulai dari denyut nadinya yang normal. Kulit yang terlihat kembali memerah, menandakan racun ular sudah berhenti menyebar. Untuk bekas lukanya, kita bisa gunakan salep. Pada bagian yang terkena pecahan kaca, juga menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Meskipun cukup dalam lukanya. Semoga lekas pulih ya ibu."
Sekar hanya menganggukkan sedikit kepalanya. Ia benar-benar orang yang menggunakan mode hemat bicara. Yang membuat semua orang takut padanya.
Tak berselang lama setelah pemeriksaan selesai, keluarga Lidya dan Rosa berpamitan pulang.
"Pak Husein sekeluarga. Jika Lidya ataupun Rosa melakukan salah dan khilaf, saya sebagai orang tua memohonkan untuk mereka. Terima kasih atas segala bantuannya. Kami permisi pulang." ucap pak Citro.
"Mereka berdua tidak ada yang salah pak. Justru kami berterima kasih karena telah menyelamatkan nyawa mama saya. Hati-hati di jalan ya pak. Maaf tidak bisa mengantar sampai ke depan." balas Husein.
"Iya pak tidak apa-apa."
"Ibu Sekar, semoga lekas sembuh ya. Agar bisa berkumpul di rumah dengan keluarga tercinta. Kami pamit dulu bu." pak Citro membungkuk penuh hormat pada wanita yang berwajah sedingin es itu.
__ADS_1
Tak lupa mereka saling bersalaman. Dan ketika Lidya dan Rosa hendak mengulurkan tangan pada Oma Sekar, keduanya mendadak sungkan.
Namun jika tidak menyalaminya, justru akan timbul kesan yang tidak baik. Akhirnya keduanya mengulurkan tangan pada Oma Sekar.
Sesaat wanita sepuh yang kecantikannya terjaga sepanjang masa itu memperhatikan keduanya, lalu membalas jabat tangan mereka.
Setelahnya, giliran kedua orang tua Lidya dan Rosa yang berjabat tangan. Oma Sekar pun membalas jabat tangan itu. Padahal, biasanya dia sangat anti berjabat tangan dengan kaum miskin.
Lagi-lagi mereka yang melihat, merasa lega. Beban di pundak mereka, bagai terangkat perlahan.
Setelah kepergian mereka, suasana kamar kian hening. Pikiran buruk mulai muncul di benak masing-masing.
Hal yang jauh berbeda justru tengah terjadi di dalam mobil pak Citro. Sepanjang perjalanan, mereka terus meluapkan kebahagiaan. Apalagi di tambah Zaidan yang terus berceloteh, sehingga menambah ramai.
"Kita mampir beli sarapan dulu ya. Daripada sarapan di rumah, keburu makin laper. Apalagi juru masaknya juga ada disini."
"Iya pa. Lidya setuju." seru Lidya. Ia merasakan perutnya lapar lagi. Sedangkan bu Cici hanya menggelengkan kepalanya.
Akhirnya mobil berbelok di sebuah warung soto pagi. Mereka duduk di lesehan yang menghadap jalan. Seorang pelayan menghampiri mereka untuk mencatat menu pesanan.
Sambil menunggu pesanan datang, bu Cici yang masih penasaran, bertanya kembali pada Lidya. Tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Namun, anak gadisnya terus mengelak. Sampai akhirnya pesanan mereka pun datang.
"Ayo kita makan dulu, mumpung masih panas."
"Siap pa." Lidya dengan penuh semangat menuang beberapa sendok sambal ke mangkok sotonya.
"Ya ampun sayang. Jangan banyak-banyak dong, nanti sakit perutnya."
Bu Cici menelan saliva, melihat mangkok Lidya yang memerah, karena banyaknya sambal yang dituangkan.
"Sama seperti Rosa bu. Entahlah, anak muda kok suka sekali makan yang pedas-pedas." timpal bu Susi. Yang membuat mereka terkekeh.
Mereka pun mulai menikmati semangkuk soto yang masih mengepulkan asap panasnya. Sehingga membuat mereka berkeringat. Bahkan si kecil Zaidan juga tampak lahap.
__ADS_1
Di sela-sela makan, Bu Cici memperhatikan Rosa yang tengah menyuapi anaknya.
"Rosa, sebaiknya kamu pesan lagi. Masa 1 mangkuk untuk berdua. Mana kenyang?"
"Ini sudah cukup kok bu." tolak Rosa halus.
"Mungkin Rosa baru program diet ma." canda pak Citro.
Mereka saling bercakap-cakap, hingga makanannya habis. Setelah membayar, pak Citro mengantar Rosa dan ibunya terlebih dulu.
"Terima kasih atas segala bantuannya, pak, bu." ucap Rosa dan ibunya setelah mereka sampai rumah.
"Sama-sama, kita ini sudah seperti keluarga bu. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk memberi kabar."
"Betul apa kata istri saya. Selain Rosa, Lidya kan ngga punya teman."
"Siapa bilang cuma Rosa teman Lidya. Ada kak Abi juga kok yang mau jadi teman Lidya."
Lidya mencibir mendengar ucapan papanya yang seakan mengejek dirinya. Namun mereka yang melihat wajahnya justru terkekeh.
"Itu bukan teman Lidya. Tapi PACAR." tegas papanya, yang lagi-lagi membuat mereka terkekeh.
Namun Lidya justru membulatkan matanya, lalu memukul lengan papanya.
"Enak saja, kak Abi itu guru privat sekaligus teman Lidya. Ngga lebih. Kak Abi juga ngga nembak Lidya. Papa ish, sukanya nyebar fitnah."
"Sudah-sudah, jangan pada ribut. Kita ini baru di rumah orang lain. Ngga enak kalau ada yang dengar. Di sangka apaan." bu Cici akhirnya menengahi perdebatan yang terjadi.
"Permisi ya bu, kita pamit pulang dulu. Dadagh Zaidan." bu Cici melambaikan tangan pada si kecil sambil tersenyum. Keluarga Rosa membalas dengan melambaikan tangan ke arah mereka. Setelahnya, mobil kembali melaju.
Belum sempat, keduanya masuk rumah. Beberapa tetangga sekitar yang kebetulan tengah berbelanja sayur sambil mengghibah mendekati mereka.
"Tunggu Ros. Tunggu bu Susi." teriak mereka.
Rosa dan ibunya menoleh ke arah ibu-ibu yang terlihat seperti para pengejar berita.
__ADS_1