
"Mas Abrisam."
Suara Rosa mengejutkan dua orang dewasa yang tengah saling bertatapan itu.
"Kamu kenal dia Ros?"
"Iya bu. In shaa Allah dia orang yang baik." jawab Rosa sambil tersenyum ke arah ibunya.
"Baiklah, ibu percaya pada mu. Ibu hanya tidak ingin kenangan buruk itu terulang lagi pada mu." Rosa pun mengangguk paham.
Zaidan yang sejak tadi merengek, akhirnya di serahkan pada Abrisam, tentunya setelah Rosa memberi kode. Setelah itu, ia segera mempersilahkan Abrisam duduk di ruang tamu. Sementara ibunya berlalu ke belakang.
Tanpa basa-basi lagi, Abrisam segera mengingatkan soal hal yang sempat ia sampaikan kemarin.
Jantung Rosa seketika berdetak kencang. Karena belum bisa memberi jawaban yang pasti. Ia pun menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Abrisam.
"Mas, jika Tuhan masih memberikan aku jodoh, aku ingin menikah seumur hidup sekali. Pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral, kita tidak boleh mempermainkan nya. Karena itu sama saja mempermainkan Tuhan kita." ucap Rosa dengan hati-hati.
Abrisam mencerna baik-baik ucapan Rosa. Ia tak menyangka jika wanita muda yang ada di hadapannya saat ini bisa berkata sebaik itu. Yang bisa menyadarkan nya.
Ia membenarkan ucapan Rosa, bahwa pernikahan itu memang bukan suatu permainan. Ia juga tidak tahu, kenapa bisa mengambil keputusan secepat itu.
Padahal dalam dunia bisnis, membutuhkan waktu dan riset yang menghabiskan waktu cukup lama untuk mengambil sebuah tindakan.
"Aku mohon tolonglah aku." ucap Abrisam dengan suara yang memelas. Karena sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Niatnya hanya ingin memastikan jika wanita yang memiliki foto yang sama dengan nya adalah ibu kandungnya atau tidak. Setelah itu semua selesai. Tapi ia merasa Rosa justru membuatnya semakin sulit.
Rosa pun memberanikan diri menanyakan soal pernikahan itu. Karena ia sebagai pihak perempuan tidak mau di rugikan. Ia tak ingin kembali mendengar fitnahan dari tetangganya.
Abrisam mengusulkan jika pernikahan itu di lakukan secara siri terlebih dahulu, karena tak mau menunda waktu keberangkatan ke Riyadh.
"Nikah siri?" desis Rosa.
__ADS_1
'Kenapa aku tak bisa menikah secara resmi seperti yang lain? Apa aku memang tak pantas mendapatkan nya.' batin Rosa yang kini mulai menunduk. Air matanya mulai menggenang. Ia merasa tak di hargai.
"Aku berjanji sepulangnya dari sana, akan meresmikan pernikahan kita." ucap Abrisam sambil menggenggam tangan Rosa. Entah kenapa hatinya merasa tersayat ketika melihat wanita yang ada di hadapannya menunduk sedih. Sehingga membuatnya terdorong untuk ingin membahagiakan nya.
"Aku bersedia membantu mu, bukan karena ingin memanfaatkan mu, tapi karena ikhlas. Jadi tolong, jangan berpikir yang tidak-tidak tentang ku. Jika tidak di resmikan pun aku terima." ucap Rosa dengan pasrah.
Di lamar oleh lelaki yang tidak di kenal dalam kurun waktu yang sangat singkat tapi mampu membuat perasaan Rosa campur aduk. Rasa yang tak pernah ia rasakan selama ini.
Apalagi melihat Zaidan yang tampak nyaman dan tenang di pangkuan Abrisam. Mereka bertiga terlihat seperti keluarga kecil yang harmonis. Sehingga membuat Rosa mendambakan hal itu berlangsung lama.
"Terima kasih Rosa." ucap Abrisam sambil mengecup tangan Rosa yang masih ia genggam. Rosa yang menyadari, segera menurunkan tangannya. Ia tak ingin semakin hanyut dalam perasaannya.
Setelah satu jam lebih bercandaan dan bermain dengan Zaidan, Abrisam segera ijin pulang. Tak lupa ia juga berpamitan pada ibunya Rosa. Ia pulang dengan hati yang berbunga bunga.
Setelah kepulangan Abrisam, bu Susi segera menghampiri anaknya dan mencecarnya dengan pertanyaan.
Rosa kembali menghela nafas panjang sebelum menceritakan pada ibunya. Karena bagaimanapun juga, ibunya adalah satu satunya orang yang menerima apa adanya dirinya, sekaligus menjadi tempat curhat ternyaman.
"Ibu, tidak akan membiarkan mu di perlakukan seperti itu Rosa. Ibu yakin masih ada lelaki yang mau menerima mu apa adanya. Apalagi kamu masih muda dan terlihat semakin cantik." ucap bu Susi dengan penuh penekanan.
"Ibu, Rosa juga berpikir demikian. Tapi tolonglah, ijinkan Rosa membantu orang lain. Sekali saja. Bukan kah Melakukan kebaikan untuk orang lain, sama halnya dengan melakukan kebaikan untuk diri sendiri?" ucap Rosa dengan sangat memelas.
"Baiklah, jika itu menurut mu itu yang terbaik." ucap ibunya setelah berpikir cukup lama.
Sementara itu, sepulangnya dari rumah Rosa, Abrisam terus bersiul kecil sambil bersenandung karena bahagia yang tak terbendung.
Ia membayangkan kebersamaannya dengan Rosa dan Zaidan yang terlihat seperti keluarga kecil yang harmonis.
"Rasanya aku tak pernah sebahagia ini berada di dekat wanita. Apa aku nikahi dia secara resmi saja, biar bisa selalu dekat dengannya dan bayinya." gumamnya sambil menyunggingkan senyum.
Sesampainya di rumah, Abrisam terus bersiul dan bersenandung ria.
"Woi, bahagia banget, seperti dapat durian runtuh saja." Abigail mengejutkannya dari belakang.
__ADS_1
"Lebih dari sekedar durian Bi. Kalau kata orang, beli satu gratis satu." Abrisam terkekeh.
"Apa ini soal janda kembang itu Sam?" Dan Abrisam seketika mengangguk.
"Kalian serius akan menikah?" tanya Abigail sambil membulatkan matanya.
"Ehem. Siapa yang akan menikah Bi?"
Keduanya terkejut dan menoleh bersamaan. Wajah mereka terlihat pucat pasi. Tak menyangka jika oma nya tengah berjalan di belakang mereka.
"Eh itu oma..." Abigail menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung harus mencari alasan apa.
"Itu oma, teman Abi ada yang mau menikah, dia merasa selalu di dahului teman-temannya." ujar Abrisam mencari alasan. Ia tak ingin omanya tahu tentang rencana pernikahan nya, yang sudah pasti akan di tentang.
Oma pun mengangguk sambil memperhatikan kedua cucunya dengan seksama.
"Oma kenapa selalu mengejutkan kita saja sih?" tanya Abigail yang pura-pura mencairkan suasana.
"Oma kan sudah di belakang kalian sejak tadi." balas oma datar. Tentu saja hal itu membuat keduanya tampak semakin salah tingkah.
"Oh ya, tapi Sam ngga dengar suara langkah kaki oma?"
"Kalian kan sedang asyik bercerita, mana mungkin mendengarnya."
'Amsyong. Bisa di bunuh oma kalau ketahuan.' batik Abrisam yang semakin panik.
Abigail merangkul bahu omanya sambil berjalan ke dalam rumah. Ia mengalihkan topik pembicaraan lain, agar omanya melupakan apa saja yang sudah di dengarnya tadi. Abrisam pun melakukan hal yang sama. Kini ketiganya berjalan beriringan sambil bercakap-cakap. Dan mulai mengurai pelukan ketika sudah tiba di depan kamar omanya.
"Tuan putri sudah sampai kamar, sekarang pengawal mandi dulu ya." kekeh Abigail yang membuat oma dan Abrisam juga ikut terkekeh.
Setelah memastikan omanya masuk kamar, barulah mereka menuju kamar masing-masing.
"Sebaiknya mulai sekarang membicarakan sesuatu yang penting itu di kamar saja. Sudah 2 kali ini kita hampir ketahuan oma. Aku takut semakin membuatnya curiga pada kita." bisik Abrisam pada kembarannya.
__ADS_1