Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
103. Mengembalikan uang


__ADS_3

Sementara itu, di siang hari yang cukup terik. Seperti biasanya Rosa mengantar pesanan pelanggan, yang memang selalu minta untuk diantar ke kantornya.


Dengan penuh semangat, Rosa menyiapkan pesanannya, lalu berpamitan pada ibunya.


"Bu, Rosa pamit mau anter pesanan pembeli dulu ya. Ibu mau dibelikan apa?"


"Hem, kamu itu Ros. Selalu saja menawari ibu jajanan. Sampai badan ibu tumbuh ke samping."


Rosa terkekeh mendengar celotehan ibunya. Ia memang selalu membelikan ibunya makanan yang berbeda-beda, setiap pulang dari mengantar pesanan.


Baginya, ibu adalah malaikat tak bersayap yang ia miliki. Mungkin berkat doa-doa ibunya, usahanya kian melejit. Sehingga, Rosa tak ragu untuk sekedar membelikan cemilan untuk ibunya.


Justru, tiap kali ia membelikan sesuatu untuk ibunya, rezekinya seakan bertambah. Ada saja pesanan yang datang.


Rosa pun semakin banyak mengucap syukur pada Tuhannya.


"Oh iya bu. Setelah mengantar pesanan, sebenarnya Rosa juga mau ke hotel menemui umi Farhana. Rosa ingin mengembalikan uang yang dulu pernah ia berikan pada Rosa. Rasanya, Rosa tak sanggup makan gaji buta. Biarpun kecil, uang hasil penjualan cream ini, cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari kok. Apa ibu setuju?"


"Ya sudah, terserah apa katamu saja Ros. Mereka juga sudah baik, membantu mu hingga mengirim pengacara. Ibu juga sama seperti mu, tak tega untuk memakan uang itu."


"Alhamdulillah, syukurlah ibu mau mengerti. Titip Zaidan ya Bu. Rosa pamit dulu, assalamu'alaikum." pamit Rosa sambil mencium punggung tangan ibunya.


"Wa'alaikumussalam."


Rosa keluar rumah, lalu mengenakan helm. Dan kini mulai melajukan motornya, meninggalkan pelataran rumah.


Menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya Rosa tiba di kantor yang di tuju. Bergegas ia ke pos satpam untuk meminta ijin menemui salah satu pelanggannya.


Satpam mempersilahkan Rosa duduk, lalu ia segera menekan nomor telepon orang yang di maksud wanita itu.


Sambil menunggu pelanggannya, satpam itu mengajak Rosa bercakap-cakap. Hingga tak terasa orang yang ia cari sudah tiba dihadapannya.


"Maaf ya dek, pasti sudah lama menunggu." ucap pelanggan pada Rosa. Lalu ia pun menoleh ke arah wanita cantik yang tinggi semampai.


"Eh, tidak apa-apa kok mbak. Aku juga baru sampai, terus minta tolong sama pak satpam untuk menghubungi kamu. Oh iya, ini pesanan mbak." Rosa menyerahkan 3 paket cream pada wanita itu.


"Terima kasih ya." balas wanita itu. Lalu merogoh uang dalam saku celananya, dan menyerahkan pada Rosa.


Ibu muda menerima, lalu menghitung uangnya. Merasa kelebihan, Rosa mengambil dompet dan hendak menyerahkan kembaliannya.

__ADS_1


"Ini ya mbak, kembaliannya." Rosa menyodorkan uang.


"Tidak usah, ini untuk jajan Zaidan saja." tolak pelanggan itu sambil menyodorkan kembali uang nya pada Rosa.


"Tapi mbak...."


"Ngga ada tapi-tapian. Haduh panas banget. Mbak lanjut kerja lagi ya. Terima kasih sudah diantarkan pesanannya."


"Terima kasih ya mbak. Semoga kebaikannya di balas Tuhan."


"Aamiin ya rabbal aalamiin terimakasih Rosa. Sekali lagi mbak pamit."


Pelanggan itu segera masuk ke kantornya,lalu Rosa juga kembali melajukan motornya menuju bank. Yang tak jauh dari kantor tadi.


Beruntung sekali, bank tidak begitu ramai. Sehingga setelah mengambil nomor antrian, tak berselang lama, nomor antrian yang di pegang Rosa di panggil.


Ia menyerahkan buku tabungannya, untuk mengambil sejumlah uang, yang nominalnya sama seperti saat umi Farhana mentransfer.


Sengaja Rosa, mengembalikan dalam bentuk cash. Karena beberapa hari lalu, saat Rosa hendak mengembalikan dengan transfer, umi Farhana tidak mau menyebutkan nomor rekeningnya.


Dengan sangat teliti, Rosa menghitung sejumlah uang itu lagi, sebelum memasukkan nya ke dalam tas.


Rosa pun kembali melajukan motornya, menuju hotel. Walaupun siang itu begitu terik, ia tidak begitu mempedulikan nya.


Hingga akhirnya, sampailah ia di hotel. Ia mempercepat langkahnya, ketika melihat rombongan yang hendak memasuki lift.


Ting.......


Pintu lift terbuka. Ia pun segera masuk bersama yang lain. Ketika pintu terbuka, ia sangat bersyukur, karena sudah tiba di lantai teratas hotel itu.


Ia memperhatikan nomor yang tertera di luar pintu.


"Ini pasti kamarnya." desis Rosa. Ketika melihat nomor 400 tertempel di pintu yang kini sedang ia hadap.


Setelah menekan tombol, tak lama kemudian, pintu terbuka. Senyum mengembang di wajah Rosa, ketika melihat siapa yang berdiri dihadapannya. Tidak salah batinnya tadi.


"Assalamu'alaikum umi Farhana." sapa Rosa sambil mengulurkan tangannya, hendak mencium punggung tangan Farhana.


Dan untuk sesaat, Farhana terpaku melihat Rosa sudah berdiri di ambang pintu. Ia segera membalas jabat tangan Rosa sambil membalas salamnya.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam. Rosa, ada hal apa, hingga di siang yang terik ini kesini?" ucap Farhana yang tak mampu menutupi rasa penasarannya.


Keduanya saling mengurai pelukan, lalu Farhana membimbing Rosa masuk ke kamar.


"Rosa hanya ingin silaturahim saja kok umi. Karena kangen."


"Kangen? Kangen dengan umi atau ....." sengaja Farhana menggantung kalimatnya, sambil menyunggingkan senyum.


"Tentu saja, kangen dengan umi. Memang mau kangen dengan siapa lagi." balas Rosa sambil tersipu malu. Sehingga membuat Farhana terkekeh.


Farhana mempersilahkan Rosa untuk duduk di sofa, lalu dirinya mengambil minuman dan cemilan untuk disuguhkan.


"Di minum dulu Ros, pasti kamu haus." Farhana meletakkan segelas es sirup di depan Rosa, serta aneka cemilan.


Tak berselang lama, terdengar bel yang berbunyi. Farhana bangkit berdiri untuk membukakan pintu.


Sambil mengucapkan salam, Farhana mencium punggung tangan suaminya. Lalu keduanya masuk, sambil Husein melingkarkan tangannya di pinggang Farhana.


'Wow, romantis sekali mereka. Pantas saja, mas Sam juga selalu mengobrol kata-kata romantis. Ternyata sifatnya menurun dari abi nya.' batin Rosa. Yang sejak tadi menyaksikan kemesraan keduanya.


"Lhoh, ada Rosa. Apakah mau cari Sam?" tanya Husein yang kini duduk di hadapan Rosa.


"Eh, tidak bi. Rosa cuma mau silaturahim kesini. Karena, kangen dengan umi."


"Hem, serius?" ulang Husein sambil menyunggingkan senyum tipis.


"Serius abi." balas Rosa yang kian menundukkan kepalanya, karena sejak tadi pasangan suami-istri yang ada dihadapannya selalu menggodanya.


"Hem, ya sudah di minum dan cicipi dulu cemilannya." titah Husein.


Rosa mengangguk, lalu menyeruput es sirup yang nyatanya nyegerin.


"Abi, umi, sebenarnya selain bersilaturahim, Rosa kesini juga ada alasan lain." ucap Rosa, yang membuat pasangan suami-istri itu saling beradu pandang.


"Apa!" ucap mereka bersamaan.


Rosa mengeluarkan sejumlah uang yang terbungkus rapi dengan plastik hitam, dari dalam tasnya. Lalu meletakkan uang tersebut di meja.


"A_apa itu Ros?" pandangan Farhana masih tertuju pada bungkusan itu.

__ADS_1


"Maaf abi, umi. Bukan maksud Rosa untuk bersikap sombong, atau tidak menghargai pemberian abi dan umi. Namun, jauh di dalam hati ini, Rosa tak tega untuk memakan gaji buta. Jadi, uang gaji yang dulu Rosa terima, Rosa kembalikan."


__ADS_2