
✨Happy Reading✨
Satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan mansion Damian,yang tersisa hanya sahabat terdekat dan keluarga Emilia.Bahkan beberapa menit lagi mereka memutuskan akan pulang,karena mereka mengerti jika Damian akan melakukan ritual malam ini.
“Selamat Damian..semoga kalian berdua berbahagia selalu”ujar Dannis
“Terima kasih”jawab Damian
“Hey..kau pasti sudah tidak sabar bukan untuk segera pergi ke kamar”ledek Darren yang diiringi ketawa kecil
“Tentu saja ia sudah tidak sabar..malam pertama setelah menikah itu terasa begitu menyenangkan”timpal Dannis yang dibalas dengan tatapan malas oleh Darren
“Darren tidak akan tahu rasanya Dannis”imbuh Dion
“Memangnya kau tahu?”Balas Darren sinis
“Tidak juga”
“Lalu kenapa kau berkata seolah kau tahu”ujar Darren sedikit berteriak
“Sudah hentikan perdebatan kalian..lebih baik kita pulang dan biarkan mereka beristirahat”Albert menengahi perdebatan mereka
“Wah..adik ipar yang pengertian”kali ini Darren melontarkan ledekan kepada Albert
Namun mereka enggan tertawa karena mata tajam Albert tengah menyorot ke arah Darren dengan tajam.
“Ah..baiklah kita pulang sekarang”Darren segera berdiri karena ketiga sahabatnya sudah akan beranjak pergi.
Tidak lupa Damian mengantar keempat sahabatnya sampai ke pintu depan.
Kini yang tersisa hanyalah keluarga dari Emilia,yaitu ayah,ibu,dan juga ketiga saudaranya.
“Ayah dan ibu akan pulang nak..pergilah ke kamarmu dan bersihkan diri”ujar jesica sembari memeluk erat sang putri
Tak lama setelah itu,Damian ikut bergabung bersama keluarga sang istri.
“Nak sepertinya kami sudah harus pulang”ujar Wijaya kepada sang menantu baru
“Kalian yakin ingin pulang?..kenapa tak menginap saja untuk malam ini”jawab Damian
“Tidak nak,.kami ingin memberikan kalian berdua waktu untuk beristirahat..lagi pula jarak ke rumah kami juga tidak terlalu jauh”
“Tenang saja tuan..saya akan mengantar mereka sekaligus saya akan menginap dirumah daddy dan mommy nanti”ujar Louis menimpali.
__ADS_1
“Baiklah jika itu yang kalian inginkan..aku akan memerintahkan beberapa pengawal untuk mengantar kalian pulang”
“Baik tuan”jawab Louis sembari membungkukkan tubuhnya.
“Dad..terima kasih”ujar damian tiba-tiba
“Terima kasih?..terima kasih untuk apa nak?”tanya Wijaya yang kebingungan.
“Terima kasih karena sudah memberikan putrimu untukku”kata nya dengan tatapan tulus
Wijaya tersenyum sejenak,ia merasa sedikit aneh dengan perkataan Damian.
“Kau tidak perlu berterima kasih padaku..kalian memang ditakdirkan bersama dan aku harap selamanya akan begitu hingga tua nanti”ujar Wijaya memberi nasihat.
Untuk pertama kalinya,Damian melangkah maju dan memeluk Wijaya beserta jesica secara bergantian.
Tentu saja semua orang merasa sedikit aneh namun tak berani berkomentar.
“Baiklah..kami pamit”ujar Wijaya setelah melerai pelukan dengan sang menantu.
Damian dan Emilia menyempatkan diri untuk mengantar kedua orang tuanya sampai ke pintu depan.
Semua orang mulai meninggalkan mansion begitu juga dengan Vernandez yang sudah pergi lebih dulu karena kondisinya saat ini sedang tidak enak badan.Yang tersisa hanya beberapa pengawal yang berjaga diluar dan beberapa maid yang masih sibuk merapikan sisa acara.
Namun belum genap beberapa langkah,ia merasakan tubuhnya sudah melayang.
“Aakkhh..kau membuatku terkejut”pekik Emilia dengan wajah kesal
“Itu hukuman untukmu karena tidak mengajakku”ciuman singkat Damian mendarat tepat di pipi Emilia
Sesampainya di dalam kamar,Damian meletakkan tubuh Emilia dengan perlahan ke atas kasur.
Emilia tersenyum sejenak,lalu ia bangkit dan melangkah menuju meja yang terletak tak jauh dari ranjang.
Ia melepas satu persatu aksesoris yang terpasang di bagian telinga dan lehernya.Namun tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya.
“Baby..”panggil Damian yang begitu manja.
“Ijinkan aku membersihkan diri terlebih dahulu dan setelah itu kau bebas melakukan apapun”ujar Emilia yang mengerti maksud dari suaminya.
Damian memutar tubuh Emilia agar menghadap dirinya.
“Aku tidak mau menunggu lebih lama”jawabnya lalu dengan sigap ia membungkam bibir Emilia dengan bibirnya.
__ADS_1
Tangan kekarnya merangkul pinggang Emilia dengan posesif,sedangkan tangan yang satu sudah menurunkan resleting gaun Emilia.
Emilia terlihat kewalahan menghadapi serangan Damian yang terbilang tiba-tiba,namun ia tetap berusaha mengimbangi permainan sang suami.
Emilia tak protes sedikitpun meskipun tubuhnya terasa gerah,ditambah sekarang aura kamarnya terasa makin panas padahal ac sudah menyala sedari tadi.
Permainan Damian semakin panas,salah satu tangannya sudah berhasil melepas gaun Emilia sehingga menyisakan kain yang menutupi dada dan juga bagian bawahnya.
Emilia tak mau kalah,tangan lentiknya sedang berusaha melepas satu persatu kancing kemeja yang sudah tinggal beberapa biji.
“Are you ready baby..”ujar Damian ketika memberi Emilia kesempatan untuk bernafas.
“Hah..Hah..Hah..yes..”jawab Emilia dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal.
Damian mengangkat tubuh Emilia dan membawanya menuju ranjang yang sudah bersiap sedari tadi.
Perlahan ia menurunkan wanitanya ke atas ranjang namun dengan bibir yang masih menyatu.
Tangannya mulai bergerak menyentuh setiap inci dari tubuh sang istri.Lenguhan-lenguhan kecil terdengar kala sentuhan Damian terasa semakin intens.
Kini tangan Emilia juga bergerak aktif menyentuh otot-otot lengan dan dada Damian yang sudah terekspos dengan jelas kala kemeja putih yang ia kenakan dilempar ke atas lantai.
Ac yang berada di ruangan itu benar-benar seperti tak berfungsi karena udara terasa begitu panas.
“Kenapa kau begitu cantik”ujar Damian ketika ia melepas bibirnya dari bibir Emilia.
“Karena aku adalah milikmu”jawab Emilia dengan tangan yang masih bermain di dada bidang sang suami.
“Benarkah..aku ingin kita seperti ini selamanya”kini mata Damian menatap intens ke arah sang istri.
“Tentu saja..kita akan seperti ini selamanya”
“Bagaimana jika sesuatu terjadi dan memisahkan kita?”tanya Damian yang berhasil membuat Emilia mengernyitkan dahi
“Apa maksudmu bertanya seperti itu?”tanya Emilia dengan nada sedikit kesal.
“Itu hanya perumpamaan baby..kau tidak perlu kesal seperti itu”Damian terkekeh melihat ekspresi dari wanitanya.
“Aku tidak ingin kau bertanya seperti itu lagi dan jawabannya sudah jelas..aku dan kau akan tetap menjadi kita untuk selamanya..tak perduli apapun yang terjadi nanti kita akan selalu bersama..kau paham”celoteh Emilia yang di jawab dengan senyum mengembang sang psikopat.
“Aku mengerti..”jawab Damian singkat lalu ia kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir sang istri.
Mereka kembali melanjutkan adegan yang sempat tertunda,Damian masih menahan dirinya agar tidak menyerang secara langsung karena ia ingin istrinya merasa nyaman terlebih dahulu.
__ADS_1
Bersambung…