
✨Happy Reading✨
Disebuah kamar berukuran sedang,berkumpul 3 orang sekutu dengan 1 tawanan yang terikat di sebuah kursi.
Setelah berhasil menculik Emilia,Brain membawa Emilia menuju villa yang terletak di bibir pantai sesuai dengan perintah Audrey.
Awalnya Brain menolak karena ia berpikir tempat itu akan mudah untuk ditemukan,namun setelah mendengar jawaban dari Audrey akhirnya ia mengangguk setuju.
“Kalian habisi wanita ini dan kirimkan sebuah video ke ponsel Damian agar dia melihat bagaimana kekasihnya mati meregang nyawa..”ucap seorang laki-laki bertopeng
Brain melotot tajam ke arah laki-laki tua itu karena rencananya dengan Audrey bukanlah seperti itu.
“Bukankah kita hanya menjadikannya umpan agar Damian datang kesini?”tanya Audrey yang sedikit kebingungan.
“Awalnya memang seperti itu,tapi setelah aku pikir-pikir akan lebih baik jika dia mati karena dengan begitu Damian akan terpuruk karena kehilangan wanita yang ia cintai..dan ketika itu terjadi aku bisa dengan mudah menyerangnya..”
“Baiklah tuan..aku akan mengikuti rencanamu..dan aku harap kau tidak melupakan janji yang kau ucapkan”
“Tidak perlu khawatir..tanpa perlu kau ingatkan,,”setelah mengatakan hal itu,laki-laki tua itu pergi meninggalkan adurey dan Brain
“Audrey..rencana kita tidak seperti itu..”ujar Brain dengan wajah emosi
“Hey tenanglah..aku tidak akan membunuhnya karena itu terlalu mudah..dan lagi aku sudah berjanji padamu…sekarang dengarkan aku baik-baik..”
“Aku tidak akan membunuh wanita ini karena dia adalah seseorang yang kau cintai..tapi kau harus menjadikan dia milikmu hari ini juga dan aku harap kau tidak keberatan jika aku mengambil sebuah rekaman video untuk senjataku melawan Damian..setelah itu kau bisa pergi sejauh yang kau mau bersama wanitamu agar Damian tak menemukanmu…mengerti”
Brain menatap serius ke arah Audrey tanpa berkedip,ia memikirkan setiap kalimat yang keluar dari bibir Audrey.
“Tunggu..apa maksudmu menjadikannya sebagai milikku?..jika yang kau maksud adalah pernikahan,sudah dapat dipastikan dia pasti akan menolak”
“Hah..kau memang benar-benar bodoh..kau hanya perlu tidur bersamanya dan jadikan dia milikmu dengan menanam benih mu di rahimnya..apa sekarang kau mengerti”
Brain berpikir sejenak dan setelah itu ia menganggukkan kepala mengerti.
“Bagus..sekarang bangunkan ia terlebih dahulu”
Audrey mengambil segelas air dan menyiramkannya ke arah wajah Emilia.
__ADS_1
Byurrr……
Emilia langsung tersentak dan bangun dari pingsannya dengan nafas yang terengah-engah.
“Hah..Hah,.Hah..dimana aku..”Emilia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
“Hay nona..kau sudah bangun rupanya..”seru Audrey
Emilia menoleh ke arah sumber suara.
“Kau..”Emilia terkejut melihat kehadiran Audrey
Ditambah lagi dengan keadaannya dirinya yang terikat di atas kursi.
“Hallo..kita bertemu lagi..sepertinya kau terlihat senang karena kehadiranku”ujar Audrey yang tengah mempersiapkan sesuatu.
Emilia melihat sekeliling dan menemukan sosok yang ia anggap sebagai sahabatnya selama ini.
“Brain..tolong aku..lepaskan aku Brain”pinta Emilia dengan wajah penuh harap.
Brain menatap Emilia dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Tidak Brain..jangan lakukan itu..kU mohon lepaskan aku..dia akan membunuhmu jika kau melakukan sesuatu terhadapku..”jelas Emilia dengan air mata yang sudah berderai
“Dia tidak akan bisa menjangkau tempat ini..”seru Audrey
“Dia takut dengan pantai,jadi mustahil baginya untuk menginjakkan kaki ditempat seperti ini”tambahnya.
Audrey berjalan ke arah Emilia dengan sebuah jarum suntik ditangan.Emilia meronta ingin menyelamatkan diri,ia tak tahu obat apa yang ada di dalam jarum itu namun yang pasti itu pasti sesuatu yang buruk.
“Bersiaplah..setelah ini kau akan mengerang nikmat..dan ini adalah pembalasanku untuk perbuatanmu beberapa hari yang lalu..”ujar Audrey yang mendekatkan jarum itu ke lengan Emilia
“Jangan lakukan itu..kU mohon lepaskan aku..”pinta Emilia dengan air mata yang terus mengalir deras
“Simpan suaramu itu untuk nanti bersama Brain..”
Audrey mulai memasukkan jarum itu dan menyuntikkan sebuah obat yang akan membuat Emilia merasa kepanasan.
__ADS_1
“Aaarrgghhh….”Emilia menggigit bibir bawahnya merasakan sakit karena suntikan Audrey yang asal.
“Sudah…”seru Audrey dengan mencabut jarum suntik itu dari lengan Emilia.
Brain melangkah maju lalu melepaskan ikatan Emilia dari kursi namun tidak melepaskan ikatan tangan dan kaki Emilia.
“Maafkan aku..tapi aku terpaksa melakukan ini demi masa depan kita..”Brain menggendong Emilia menuju sebuah kamar yang diikuti oleh Audrey di belakangnya.
Emilia meronta dengan sekuat tenaga dengan air mata yang masih mengalir.
“Aku mohon datanglah..”gumam Emilia dalam hati.
Ia berharap Damian datang untuk menyelamatkannya karena ia sudah melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
Bbrraakkk…
Brain melempar tubuh Emilia ke atas ranjang King size lengkap dengan sprei putih bersih.
Beberapa menit kemudian Emilia mulai merasakan panas di sekujur tubuhnya dan sudah dipastikan itu akibat obat perangsang yang disuntikan Audrey.
“Aahh..panas..”racau Emilia
Adurey dan Brain tersenyum puas karena obat itu sudah mulai bekerja.
“Brain..tolong aku..disini sangat panas..”lirihnya dengan tubuh yang terus menggeliat.
“Tenanglah Emilia..setelah ini tubuhmu akan jauh lebih panas karena permainanku..”Brain kini melepas baju yang ia gunakan dan duduk di samping ranjang.
Emilia berusaha menahan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya,ia tahu ini pasti pengaruh dari obat yang disuntikan Audrey.
Ia menggigit bibir bagian bawahnya untuk menjaga kesadarannya karena rasanya benar-benar menyiksa.
Sedangkan di tempat lain,mobil yang dikendarai Louis melaju dengan cepat menuju titik yang menunjukkan keberadaan Emilia.
“Bertahan lah..aku akan datang menjemputmu..”gumam Damian dalam hati.
Ia benar-benar khawatir saat ini jika membayangkan sesuatu yang fatal terjadi.
__ADS_1
Bersambung…..