
✨Happy Reading✨
Sepulangnya dari rumah sakit,Damian memilih berdiri di balkon kamarnya sambil meminum segelas anggur.Beberapa hari kebelakang ada sesuatu yang menggangu pikirannya.
“Apakah salah dalam bertindak?”dialognya
“Aku hanya menghukum seseorang yang bersalah dan itu semua benar”jauh di dalam lubuk hatinya,ia merasa bersalah namun berkali-kali ia menyangkal itu semua.
Selesai dengan semua pemikirannya,Damian memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang King size.Tidak lupa ia menarik laci kecil yang berada di samping ranjang,mengambil botol berisikan obat.
“Sepertinya aku sudah tidak membutuhkan ini”ia menaruh kembali botol obat itu lalu mencoba menutup matanya.
Tak butuh waktu lama,Damian sudah tidur dengan pulas meskipun tidak meminum obat itu.Hingga kenyamanan itu tak berlangsung lama.
“Tidak..ibu lakukan sesuatu..lakukan sesuatu...aaaaaaa...”gumamnya dalam tidur
“Hah..hah..hah..hah”seluruh badannya berkeringat,tangannya gemetar hebat dengan wajah pucat yang terlihat takut.
Ia masih duduk dengan tatapan mata yang masih kosong dan nafas yang tidak beraturan.
Ceklek...
Pintu kamar Damian terbuka begitu saja dan seseorang tengah berlari ke arahnya.
“Tuan..anda baik-baik saja?”Louis masuk kedalam kamar Damian dengan raut wajah penuh kekhawatiran
Damian masih terdiam,nafasnya masih terdengar berat.Ia melirik sebentar ke arah Louis namun bibirnya tak bisa mengucapkan satu kalimat pun.
Louis mengerti jika saat ini tuannya kembali bermimpi buruk yang menghantuinya selama bertahun-tahun.
Dengan gerakan cepat ia membuka laci yang berada disamping rancang,merogoh botol kecil yang berisikan obat untuk Damian.
“Ini obatnya tuan”Louis terlihat sangat telaten ketika ia menyerahkan satu butir obat kepada Damian.
Tangan yang gemetar itu perlahan mengambil obat yang ada ditangan Louis lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Setelah meneguk air dan obat itu benar-benar masuk,Damian bisa membaringkan tubuhnya dengan tenang meskipun takut untuk memejamkan mata.
“Tidurlah tuan..saya akan berjaga disini untuk anda”ucap Louis seakan tahu apa yang tengah dipikirkan oleh tuannya.
Hal ini tidak terjadi satu atau dua kali saja,namun kejadian seperti ini sudah sering terjadi bahkan bisa dibilang setiap hari meskipun Damian sudah meminum obat tidur.
“Jika musuh mengetahui ini,mereka pasti akan dengan mudah mengalahkan anda tuan”gumam Louis dalam hati.
__ADS_1
Setelah beberapa menit,Damian akhirnya terlelap juga sehingga Louis memutuskan untuk ikut berbaring di sofa karena jujur ia sangat mengantuk.
Dirumah sakit,Michelle masih setia berada disisi Emilia.Ia mengelus tangan Emilia dengan lembut sembari tersenyum.
“Aku sangat bangga padamu nona..aku tahu kau pasti sangat berjuang hari ini”senyum penuh luka itu terus mengembang sedari tadi.
“Kau tahu..entah mengapa aku merasa dekat denganmu padahal sebelumnya kita tak pernah saling mengenal..”
“Cepatlah bangun..apa kau lupa..kau bilang ingin mendengar ceritaku..saat ini aku ingin menceritakan semuanya padamu tapi kau malah tertidur dengan nyenyak”imbuhnya.
Ceklek....
Pintu ruangan Emilia terbuka dan Michelle dibuat terkejut dengan hal itu.
“Maaf jika aku mengejutkan mu”Dion berhenti sejenak menunggu respon dari Michelle
“Aahh..tak apa dokter..”ia tersenyum hangat ke arah Dion.
“Apakah sudah ada tanda-tanda dia akan sadar?”dion melangkahkan kakinya ke arah sisi ranjang Emilia.
“Belum dok..”raut wajah Michelle terlihat sedih.
“Maaf jika aku lancang..jika boleh tahu..kau memiliki hubungan apa dengannya?” Dion melirik sekilas ke arah Michelle
“Sepertinya kalian cukup dekat” ucap Dion basa basi
“Hhmm..belakangan ini kami memang cukup dekat”jawab Michelle
“Jika ada tanda-tanda dia sadar..segera panggil aku”Dion merapikan kembali peralatannya.
Michelle mengantar Dion sampai kedepan pintu.
Setelah memastikan Dion sudah benar-benar pergi,Michelle kembali masuk dan duduk di atas sofa yang terdapat di ruangan itu.
Ia merapikan bantal 2 bantal kecil untuk dijadikan alas tidur.
“Selamat malam nona..semoga mimpi indah”Michelle membaringkan tubuhnya lalu mencoba terlelap agar besok pagi ia bisa kembali bangun dengan segar.
Keesokan paginya,matahari terbit dari ufuk timur.Suara burung mulai terdengar saling bersahutan seakan mencoba untuk membangunkan tidur nyenyak seorang laki-laki tampan.
“Hhooaammm”ia mengambil posisi duduk dan diam sejenak untuk mengumpulkan nyawanya.
“Ternyata aku tak bisa lepas dari mimpi buruk itu”celotehnya di pagi hari.
__ADS_1
“Mimpi ini seakan tak ingin berpisah dari setelah 15 th lamanya”
Tok..tok..tok..
“Maaf tuan menggangu tidur anda”ucap Louis yang baru saja tiba
“Ada apa?”Damian turun dari ranjangnya
“Anda harus sarapan saat ini juga tuan mengingat kemarin anda tak memakan apapun”ucap Louis
“Hah..kau sangat perhatian padaku”Damian tersenyum mengejek
Louis hanya menundukkan kepala memberi hormat kepada laki-laki yang sudah bersama nya selama 15 tahun lamanya.
“Apakah sudah ada kabar dari wanita itu?”damian menatap bayangan melalui pantulan cermin
“Belum ada tanda-tanda nona sadar tuan”jawab Louis
“Baiklah setelah ini aku ingin pergi menemuinya”Damian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan di rumah sakit,Michelle bangun lebih pagi dari biasanya.Selain merasa sakit di sekujur tubuhnya karena tidur hanya beralaskan sofa,ia ingin membantu Emilia untuk membersihkan diri.
“Selamat pagi nona..apakah tidurmu nyenyak?”michelle mendekat ke arah ranjang Emilia.
“Hari ini saya akan membantu nona untuk membersihkan diri..kau tahu dokter disini sangat tampan dan aku tak ingin ia merasa terganggu jika penampilan nona seperti ini”bisik Michelle sembari tertawa kecil
Ia mengambil air hangat dan juga sebuah handuk kecil.Namun ketika ia ingin membersihkan bagian wajah Emilia,matanya tak sengaja melihat gerakan kecil dari tangan Emilia.
“Nona menggerakkan jarinya?”mata Michelle membulat sempurna dan ia mencoba menatap untuk kedua kalinya.
Emilia menggerakkan kembali jari-jarinya namun kali ini lebih terlihat intens.Dengan raut wajah panik Michelle keluar untuk memanggil dokter
“Dokter..dokter..nona sadar”teriaknya dari depan pintu
Mendengar teriakan itu,Dion bergegas menuju ruangan Emilia.
Ceklek...
“Aku akan memeriksanya terlebih dahulu”ucap Dion
Michelle menganggukkan kepala lalu memberi ruang bagi Dion untuk memeriksa Emilia.
Bersambung...
__ADS_1