
✨Happy Reading✨
Damian masih berdiri di depan pintu menatap mobil Albert yang baru saja meninggalkan mansionnya.Ada rasa penasaran didalam hatinya ketika dengan tiba-tiba Albert berkunjung di malam hari dan ingin bertemu dengan Emilia.Namun ia tak ingin ikut campur terlalu dalam mengingat hal itu merupakan privasi untuk sahabatnya.
Setelah mobil Albert benar-benar menghilang,ia melangkahkan kakinya masuk kedalam mansion.Entah kenapa pikirannya saat ini tertuju kepada ruangan rahasia yang terletak di ujung lorong lantai atas.
“Selamat beristirahat tuan”ucap Louis yang berpapasan dengan Damian.
Damian tak menanggapi ucapan Louis,ia terus berjalan menaiki anak tangga satu persatu.Namun ketika hendak pergi kedalam kamarnya,matanya tak sengaja melihat ke sebuah pintu ruangan yang terletak di pojok lorong.
Ceklek...
Untuk pertama kalinya ia membuka ruangan ini setelah beberapa tahun lamanya ia mengunci ruangan itu rapat-rapat.Sebuah lukisan besar menyambut kedatangannya,terlihat foto sepasang kekasih berpose dengan mesranya.
“Hahaha..Kau bahkan mengorbankan kebahagiaan kita demi impian konyolmu itu..”Damian tertawa sinis ketika mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu saat seorang wanita yang sangat ia cintai pergi begitu saja.
“Bahkan aku memberikan semua yang kau mau demi menahan mu agar tetap berada di sampingku”imbuhnya yang masih menatap tajam ke arah lukisan yang sudah memudar,
“Aaaaaarrrgghhh...aku benci dengan perasaanku sendiri”teriak Damian merutuki dirinya yang begitu bodoh.
Prrraaanngg..,,
Bbbrrruuukkk...
Ppprrraaannggg..,.
Damian membanting vas bunga yang ada diatas meja,melempar kursi yang terletak tak jauh darinya dan menghancurkannya hingga berkeping-keping.
Emilia dibuat tersentak dengan apa yang ia dengar dari ruangan samping.Awalnya ia ingin mengabaikan namun kembali rasa penasaran membuatnya tak ingin menutup mata.
“Bukankah itu suara teriakan Damian?”gumamnya
Dengan menarik nafas sejenak,Emilia mencoba memberanikan dirinya untuk melihat sesuatu yang terjadi diluar sana.
Ceklek...
Ia melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.
Pprraaanngg...
“Aaarrrgghhh...”suara teriakan Damian kembali terdengar
Suara pecahan kaca,benturan barang ke tembok dan teriakan terdengar saling bersahutan.Cahaya lampu dari dalam kamar itu menyeruak keluar melalui celah pintu yang tak tertutup rapat.
Dengan keberanian yang ada,Emilia berjalan menuju ruangan itu,kali ini bukan dengan rasa penasaran namun sebuah kekhawatiran menghampiri hatinya kala mendengar teriakan dari seorang Damian.
Ia menutup rapat-rapat bibirnya ketika melihat ruangan itu telah diporak porandakan dengan pecahan kaca dan juga beberapa barang yang telah hancur.Matanya mengedar mencari sosok laki-laki yang membuatnya merasa khawatir.
__ADS_1
“Da..Damian”panggilnya dengan lembut.
Damian terdiam sejenak lalu menoleh ke arah sumber suara.
“Siapa yang mengijinkanmu masuk kedalam ruangan ini”suara Damian terdengar dingin saat ini.
Rasa takut mulai menghampiri Emilia kala melihat sosok laki-laki itu tengah berdiri dengan tongkat di tangannya,dadanya naik turun seperti sedang meluapkan amarah yang sudah tertahan begitu lama.
“Apa kau tuli...SIAPA YANG MENGIJINKANMU MASUK KEDALAM SINI...HAH”teriak Damian mengulangi pertanyaannya.
Emilia terlonjak kaget karena teriakan dari seorang Damian.
“Ak..aku mendengar kegaduhan jadi aku mencoba...”
“Keluar!”perintahnya dingin
“Hah..”Emilia terlihat gugup dan itu menyebabkan ia tak fokus dengan apa yang diucapkan oleh Damian.
“KELUAR”teriaknya lagi
Emilia menelan ludahnya kasar ketika lagi-lagi ia mendapat bentakan dari Damian.
Dengan berat hati Emilia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu,hingga tak sengaja matanya melihat sebuah darah menetes.Ia mengikuti arah dari tetesan darah itu hingga pandangannya berhenti tepat di sebuah tangan kekar yang sudah dipenuhi darah.
“Hah..Damian tanganmu berdarah..”refleks Emilia berlari menuju tempat Damian berdiri saat ini.
“Pergi!”Sebuah kata kembali terucap dari bibir Damian
“Tidak aku harus mengobati luka ditanganmu”Emilia tak memperdulikan perintah dari Damian.
“Siapa yang memberimu ijin”kali ini matanya beralih melirik wanita yang terlihat begitu khawatir.
“Aku tidak perlu meminta ijin dari siapapun”Emilia tetap membalut luka itu dengan bersusah payah karena darah yang terus keluar.
“Hah..PERGI..AKU TIDAK BUTUH BELAS KASIHANMU”Damian menghempaskan tubuh Emilia dengan kasar ke atas lantai yang penuh dengan pecahan kaca.
“Aaakkhhhh..,.”tubuh Emilia terjerembab ke atas lantai penuh kaca.Kaki dan tangannya pun tak luput dari tusukan serpihan kaca.
“Aaarrgghhh...kenapa harus kau yang melihat semua ini”Damian terlihat frustasi dengan keadaannya saat ini.
“Apa masalahnya?...apakah kewibawaan mu akan berkurang?..apa kau akan merasa lebih baik jika orang lain melihatnya?...”Entah keberanian dari mana kali ini Emilia berteriak kehadapan Damian.
“Aku berpikir bahwa aku adalah manusi paling menyedihkan di dunia ini..namun hari ini aku mematahkan semua itu ketika melihat seseorang yang begitu terlihat kuat menjadi rapuh hanya karena masalalu...bahkan kau menangisi seseorang yang pergi dengan bahagianya meninggalkan dirimu..”imbuhnya
“DDIIIAAMM...kau tak tahu apa yang tengah aku rasakan..”kali ini ia berbalik dan menatap Emilia tajam.
“HAH..kau bilang aku tak tahu apa yang kau rasakan?...biar aku memberi tahumu sesuatu hal..kau tahu aku seorang model dan tidak ada yang bisa menyangkal jika aku akan diperebutkan oleh puluhan lelaki di luar sana..namun aku mengabaikan mereka semua demi seorang laki-laki yang memberiku sepotong roti ketika aku merasa lelah dengan hidupku sendiri..aku begitu muak dengan hidupku tapi seseorang memberi harapan hidup dengan berkata “kau harus menjadi seseorang yang hebat agar bisa menemuiku” kata penuh harapan yang mampu menbuatku bertahan selama ini..bertahun-tahun memendam perasaan dengan seseorang yang aku tak tahu keberadaannya..apa kau pikir aku tidak bodoh Hah?”air matanya menetes deras mengingat kebodohannya selama ini.
__ADS_1
Damian terdiam sejenak mendengar penuturan Emilia,kata-kata itu mengingatkannya kepada sosok gadis yang menangis karena kelaparan.
“Kau...”Damian akhirnya mengingat semua itu,gadis kecil itu membuat seorang Damian perduli dengan orang lain.
Damian membuang tongkat yang berada di tangannya dan melangkah menghampiri Emilia.
“Maaf...”hanya kata itu yang mampu terucap dari bibirnya saat ini.
“Aaakkhhh...”pecahan kaca itu semakin terasa menusuk ketika Damian mencoba merengkuh tubuh penuh luka itu.
“Sakit...hiks..hiks...”akhirnya rasa sakit akibat tusukan kaca itu mulai terasa karena ia sudah mulai tenang.
“Ssttt...kita harus mengobati lukamu”Damian menempelkan jari telunjuknya di bibir Emilia lalu .mengangkat tubuh Emilia dan membawanya keluar dari ruangan itu
“Panggil Michael”perintahnya ketika melihat Louis sudah berada di depan ruangan.
Damian meletakkan tubuh Emilia di atas ranjang,ia menarik kursi dan duduk tepat dihadapan Emilia.
“Selamat malam tuan”sapa Michael yang baru sampai.
“Obati lukanya”perintah Damian
Michael mengangguk patuh,dan beberapa detik kemudian ia merasa terkejut melihat luka di tubuh Emilia.
“Hhmmm nona..mungkin ini akan terasa perih dan sakit..jika anda tidak kuat katakan padaku”Michael mulai mengambil alat untuk mencabut setiap serpihan kaca.
Emilia mengangguk dan mulai memejamkan matanya untuk bersiap menahan perih yang akan ia rasakan,namun tiba-tiba sebuah tangan kekar menggenggam tangannya dan merengkuh tubuhnya dari arah samping yang tidak terdapat luka.
“Maaf..”kata itu terucap lagi dari bibir Damian.
“Hhmmm....”Michael sudah mencabut satu serpihan yang menancap di lengan Emilia.
“Hah..Hah..Hah..sakit..”lirihnya dengan nafas yang tersengal-sengal karena selama proses pencabutan ia berusaha menahan nafas
“Maaf nona..tapi tidak ada jalan lain”Michael merasa kasian karena ia tahu bagaimana rasa sakit yang akan ditimbulkan
“Tenanglah aku ada disini..kau bisa membagi rasa sakitmu denganku..jika kau mau kau bisa menggigitku”Damian merengkuh kepala Emilia dan membawanya kedalam dada bidangnya.
“Baiklah jika itu maumu..aku akan menggigitmu tanpa ragu sedikitpun”gumam Emilia dalam hati.
Benar saja,serpihan kaca selanjutnya telah dicabut oleh Michael dan rasanya masih tetap sama sakit yang luar biasanya.Namun ia tak perlu merasa khawatir karena ia bisa membagi rasa sakit itu.
“Aakkhh...hhmmm”pekik Damian tertahan ketika merasakan sebuah gigi menancap di bagian dada atasnya.
“Bahkan dia menggigitku tanpa ada keraguan sedikitpun”gerutu Damian dalam hati
Hal itu berlangsung setiap kali Michael mencabut serpihan kaca dari tubuh Emilia.Terkadang Michael tersenyum melihat ekspresi tuannya yang menahan sakit akibat gigitan Emilia.
__ADS_1
Bersambung...