
✨Happy Reading✨
Pukul 8.00 waktu setempat.
Hamparan pasir putih dengan gulungan ombak jernih menambah keindahan pulau kecil yang menjadi tempat yang dipilih oleh Damian berbulan madu bersama istri tercinta yaitu Emilia.
Damian tersenyum senang melihat mata berbinar Emilia yang menatap takjub keindahan pulau itu.Ia sedikit merasa lega karena tidak salah memilih tempat untuk menghabiskan kebersamaannya dengan sang istri.
“Wah…ayo cepat aku sudah tidak sabar”Emilia kembali menarik tangan Damian kala laki-laki itu tak kunjung melangkah.
Damian hanya bisa menggeleng pelan sembari mengikuti langkah terburu-buru Emilia.
“Tunggu..”Damian menghentikan langkahnya.
Emilia langsung menoleh dengan wajah sedikit kesal.
”ada apa?”tanya nya dengan nada tidak bersahabat.
“Kita akan pergi ke pantai sore nanti baby..kita harus beristirahat terlebih dahulu setelah perjalanan panjang”jelas Damian yang tak mau sang istri kelelahan nantinya
“Tapi aku tidak lelah..”protes Emilia dengan wajah sedih
“Tidak sekarang tapi nanti pasti..jadi sekarang kita kumpulkan tenaga terlebih dahulu”Damian melangkah maju dan mengangkat tubuh Emilia sebelum wanita itu mengajukan protes
“Beib..turunkan aku..aku ingin kepantai”rengek Emilia di dalam gendongan Damian
Damian tetap melangkah menuju bangunan yang berada tak jauh dari bibir pantai.Pulau itu dipesan khusu oleh Damian untuk beberapa hari ke depan sehingga ditempat itu hanya ada mereka berdua dan beberapa pelayan.
Damian meletakkan tubuh Emilia ke atas ranjang,bisa ditebak bagaimana raut wajah Emilia saat ini.Wajahnya ditekuk dengan bibir mengerucut serta memalingkan wajahnya agar tak bertatapan dengan Damian.
Saat ini Emilia tengah merajuk karena tak diijinkan pergi ke pantai oleh Damian.
“Hey..apa kau marah padaku?..Hhmm?”damian menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Emilia.
Damian kembali tersenyum kala Emilia masih terdiam dan menepis tangannya.
“Dengar..”Damian meraih wajah Emilia dan menatap wanita itu lekat.
“Aku tidak bermaksud melarangmu untuk pergi kepantai dan bersenang-senang..hanya saja,tidak sekarang.Kau bisa bersenang-senang nanti sore setelah kita beristirahat.Mungkin kau tidak merasa lelah saat ini,tapi jika kau tetap memaksa untuk pergi sekarang,aku bisa pastikan kau akan sakit karena kelelahan nantinya.Kita disini dalam waktu cukup lama jadi kau tidak perlu terburu-buru dan nikmati hari-harimu disini..mengerti”jelas Damian dengan tangan yang mengusap lembut pipi Emilia.
Emilia tertegun,laki-laki yang ada Dihadapannya benar-benar berbeda dengan laki-laki yang ia temui dulu.Emilia tak melihat sikap kasar Damian terdahulu,yang ia tahu saat ini hanyalah sosok lemah lembut dari seorang Damian.
Emilia hanya menganggukkan kepalanya,dan setelah itu sebuah kecupan singkat mendarat di bagian keningnya.
******
Ditempat yang berbeda,suasana canggung kembali terasa di ruangan inap rumah sakit pagi ini.Louis yang duduk tepat di sisi ranjang menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari jalan keluar atas kesunyian yang tercipta.Sedangkan Audrey yang masih berbaring terlihat bingung dengan gerak gerik Louis.
__ADS_1
“Hhmm…”ujar mereka secara bersamaan.
“Anda dulu..”ujar Audrey
“Kau dulu”ujar Louis
“Tidak apa-apa anda dulu..”sahut Audrey lagi
“Tidak apa..ladies first”jawab Louis
Audrey mengangguk”Hhmm..apakah anda tidak berangkat ke kantor hari ini?”tanya Audrey
“Sebentar lagi..aku sedang menunggu seseorang”jawab Louis seadanya.
“Oohh..Hhmm jika boleh tahu anda menunggu siapa?”tanya Audrey memberanikan diri.
“Daddy dan mommy..aku meminta mereka kesini”jawab Louis lagi
“Untuk apa?”
“Untuk menemanimu”
Audrey sedikit terkejut”tuan..kenapa anda harus merepotkan ayah dan ibu tuan..aku tidak apa-apa jika ditinggal sendiri”protes Audrey yang merasa tidak enak hari.
“Tidak perlu sungkan..daddy dan mommy tidak merasa direpotkan sama sekali”jawab Louis dengan wajah datarnya
“Tapi…”
Paper bag dibuka,aroma lezat masakan menyeruak masuk ke dalam Indra penciuman Audrey.
Louis terlihat sibuk membuka plastik yang membungkus semangkuk bubur panas itu.Salah satu tangannya tengah mencari sendok yang ia letakkan tak jauh dari paper bag.
“Buka mulutmu”pinta Louis dengan satu sendok bubur yang siap masuk ke dalam mulut Audrey
Audrey terlihat ragu dan sedikit gugup”apa dia mau menyuapiku?”gumamnya dalam hati.
Audrey mengikuti perintah Louis,ia membuka mulut bersiap menerima satu suap bubur dari tangan Louis
Ceklek…
Pintu ruangan terbuka,sepasang suami istri masuk kedalam ruangan itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Louis dan Audrey sedikit terkejut,dengan sigap tangan Louis memasukkan kembali sendok itu kedalam mangkuk.
“Dad..mom..kalian membuatku terkejut”pekik Louis
Audrey yang juga terkejut masih diposisi yang sama,kepala yang sedikit terangkat dan mulut terbuka.
__ADS_1
“Ah maaf kami lupa”ujar jesica yang terlihat tidak enak hati karena memergoki putranya yang sedang berbuat romantis.
“Kan sudah ayah bilang..kita harusnya tidak masuk dulu”bisik Wijaya
“Maaf..ibu kira Audrey sedang tidur”jawab jesica
“Ah..jika begitu kalian lanjutkan sarapannya kami akan keluar sebentar”ujar Wijaya
“Tunggu dad..aku harus segera ke kantor..jadi bisakah mommy membantuku untuk menyuapinya?”pinta Louis
Jesica mengangguk setuju lalu segera melangkah maju untuk mengambil mangkuk dari tangan Louis.
“Aku pergi dulu..nanti sore aku akan datang lagi dan kau harus meminum obatmu”perintah Louis kepada Audrey
Audrey mengangguk setuju,setelah itu Louis melangkah pergi dari ruangan itu.Namun tiba-tiba Wijaya datang dan menghentikan langkahnya.
“Louis”panggil Wijaya
“Ada apa dad?”
“Apa kau terburu-buru?”tanya Wijaya
“Tidak dad..hari ini jadwalku sedikit renggang”jawab Louis
“Bisakah kita mengobrol sebentar..barang 5-10 menit saja”pinta Wijaya
Louis mengangguk dan melangkah menuju kursi yang berada tak jauh dari mereka.
“Apa kau menyukainya?”tanya Wijaya
“Maksud daddy?”tanya Louis yang sedikit bingung dengan kalimat ambigu sang ayah.
“Iya..apa kau menyukai gadis itu?”kali ini Wijaya menatap lekat sang putra sulung
Louis terdiam,ia juga tidak mengerti dengan apa yang tengah ia rasakan.
“Aku tidak tahu dad”jawab Louis lesu
“Tidak tahu?..jawaban macam apa itu”protes Wijaya
“Dengar baik-baik..daddy rasa gadis itu menyimpan perasaan padamu dan daddy rasa kau tahu itu.Ketika kau berbaring di ranjang rumah sakit ini dengan keadaan tak berdaya gadis itu tidak pernah absen untuk melihat keadaanmu,bahkan ketika adikmu mengusirnya,ia tetap datang dan bersikukuh untuk melihat keadaanmu”Wijaya menjeda kalimatnya sejenak sebelum mengatakan sesuatu yang begitu penting.
“Daddy sudah berjanji kepada adikmu untuk tidak mengatakan ini kepadamu tapi sepertinya tidak bisa..daddy mau,setelah daddy mengatakan ini kau harus berkata jujur dengannya,jika kau tidak mempunyai perasaan terhadapnya maka katakanlah dengan jujur agar dia tidak menaruh harapan lebih kepadamu dan meninggalkan luka dikemudikan hari..dan jika kau mempunyai perasaan terhadapnya maka ungkapkan lah,jangan biarkan ia menunggu lebih lama..”jelas Wijaya
“Apa ada sesuatu penting yang disembunyikan dariku?”tanya Louis menatap serius ke arah sang ayah
Wijaya mengangguk,di dalam hati ia tak henti mengucap maaf kepada Emilia karena tak bisa menepati janjinya.
__ADS_1
Wijaya merasa kasian dengan Audrey jika faktanya Louis tidak mencintainya dan jika memang seperti itu akan lebih baik jika Louis berkata jujur agar Audrey tidak menunggu sesuatu yang tak pasti.
Bersambung..