HIDDEN DEVIL

HIDDEN DEVIL
Episode 119


__ADS_3

✨Happy Reading✨


Gery yang berada tak jauh dari mereka langsung tersentak karena nyawa nonanya sedang terancam.Namun ia tak bisa melakukan apapun karena peraturan di dunia gelap memang seperti itu.Ia yakin jika nonanya bisa melewati semuanya jika melihat bagaimana ambisi dari wanita yang berada di hadapannya.


Emilia kembali tersenyum meskipun sebuah pedang berada tepat di depan matanya dan bersiap menghujan dirinya.


“Aku akan memberimu pengampunan jika kau mau memohon padaku dan merelakan tahta itu untukku”ujar si laki-laki dengan percaya diri.


Kedua tangan Emilia yang menjadi tumpuan sedang berusaha meraih pasir yang jumlah tak begitu banyak,ia hanya membutuhkan sedikit saja untuk melumpuhkan musuhnya.


“Hah..kau terlalu percaya diri”ujar Emilia lalu dengan cepat melemparkan pasir yang berhasil ia genggam.


“Aakkhhh…”si laki-laki mengusap kasar bagian matanya akibat terkena lemparan pasir.


Emilia segera bangkit dan menggunakan kesempatan yang ada,sebuah tendangan keras melayang ke arah wajah si laki-laki.


Bbuugghhh!!!! Bbrraakkkk!!!!


“Sekarang giliranku”ujar Emilia sembari berlari dan menerjang si laki-laki yang sudah jatuh tersungkur


Si laki-laki nampak berusaha berdiri untuk menghindari serangan Emilia karena senjatanya sudah terjatuh.Namun ketika ia berhasil berdiri,Emilia kembali menghadiahinya sebuah pukulan keras.


Seseorang yang berada di antara mereka mengambil ponselnya dan merekam aksi nonanya.


Pukulan demi pukulan Emilia layangkan ke arah si laki-laki secara membabi buta.Bahkan ia tak memberi celah barang sedetik pun untuk si laki-laki untuk beristirahat.


Bbuuggghhhh!!!!


Kali ini tendangan keras ia berikan ke arah dada si laki-laku hingga membuatnya sedikit terpental ke arah dinding.Darah segar mengalir dari mulut si laki-laki,ia benar-benar tidak menyangka jika wanita yang berada di hadapannya memiliki tenaga yang begitu kuat.


Latihan keras yang Emilia jalani seminggu ini membuatnya menjadi wanita tegas dan garang.Tidak ada lagi senyum dan keceriaan di wajahnya,yang ada hanya ekspresi dingin dan intonasi bicara yang tegas.


Tidak hanya sampai disana,Emilia mengambil kembali pedangnya dan berlari ke arah pria.Karena kondisi si laki-laki sudah tak berdaya,ia tak bisa melakukan apapun selain diam.


“Aaarrgggghhh…”teriakan Emilia terdengar dengan tangan mengangkat pedang tinggi-tinggi bersiap menghujam si laki-laki.


Si laki-laki memejamkan matanya,ia sudah bersiap untuk bertemu dengan malaikat maut saat ini.Dirinya sudah kalah dan ia sudah tahu konsekuensi yang akan ia terima.


Namun beberapa detik berlalu,ia tak merasakan apapun.Perlahan ia membuka mata mencoba melihat keadaannya saat ini.


Mata pedang Emilia tak melukai dirinya sedikit pun karena Emilia memang tak berniat membunuhnya.


“Aku tidak suka membunuh musuh yang kemah dan tak bersenjata.Untuk itu aku menganggapmu kalah dalam pertarungan kali ini dan aku berhak menjadi pemenang tahta itu.Aku anggap pertarungan ini telah selesai dan kembalilah bekerja seperti sedia kala”ujar Emilia lalu menarik kembali pedangnya.


Si laki-laki masih terdiam,namun siapa sangka ketika Emilia membalikkan tubuhnya,si laki-laki bangkit dan berlari ke arah Emilia.

__ADS_1


Gery yang melihat hal itu langsung berteriak karena ia anggap si laki-laki ingin berbuat curang.


“Nona di belakangmu”teriaknya


Emilia yang mendengar suara langkah si laki-laki langsung bersiap dan memutar tubuhnya dengan pedang menghadap kedepan.


Jhlleeebbbb!!!!


Pedang Emilia menancap sempurna di dada kiri si laki-laki.


“Kau menang manusia yang tak pernah puas.Aku sudah memberimu pengampunan dan membiarkanmu kembali bekerja untukku tapi lihat keserakahanmu menjadi boomerang untuk dirimu sendiri”ujar Emilia dengan mata menatap tajam ke arah laki-laki yang mulai kehilangan kesadarannya.


Emilia menarik pedangnya dan membuat si laki-laki jatuh tersungkur dengan bersimbah darah.


“Bereskan semua kekacauan ini.jangan sampai tercium oleh siapa pun”perintahnya kepada semua anak buah yang berkumpul di markas.


“Apakah ada yang ingin bertarung lagi denganku untuk menjadi pemimpin?..sebelum aku benar-benar meninggalkan tempat ini”tanya Emilia kepada semua orang yang berada di markas itu.


Mereka semua saling pandang dan tak ada satu pun dari mereka berani melangkah maju.


“Baiklah..karena tidak ada yang maju,aku anggap kalian menerima kU sebagai pemimpin baru.Aku tidak ingin kalian menbuat masalah kedepannya,lakukan seperti apa yang kalian lakukan terdahulu.Dan jangan pernah mencari masalah denganku jika kalian masih menyayangi nyawa kalian”ujar Emilia yang di jawab serempak oleh mereka semua


“Uncle..kita pergi sekarang”pintanya sembari melangkah menuju pintu keluar.


Setelah pertarungan tadi,Emilia resmi menjadi pemimpin organisasi milik Damian.meskipun ia tidak terlalu tertarik dengan bisnis di dunia gelap,ia harus tetap melakukannya demi sang suami tercinta.


“Nona..bagaimana jika kita pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka anda”ujar Gery memulai obrolan


“Tidak perlu uncle..suruh Audrey memanggilkan dokter ke mansion”jawabnya dengan mata yang masih fokus menatap ke arah luar jendela.


Gery mengangguk setuju lalu mengikut permintaan Emilia dan mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang menuju mansion.


Sesampainya di mansion,Emilia segera turun dari mobil dan melangkah masuk.Satu persatu pengawal dan maid silih berganti menyapanya namun Emilia tetap melangkah tanpa memperdulikan mereka.


“Ada apa dengan nona?..kenapa dia berubah akhir-akhir ini”seru salah satu dari mereka


“Benar..nona sudah berubah..dan mungkin karena rasa sedih yang ia alami”imbuh maid lainnya.


Emilia bergegas naik menuju lantai atas,namun yang tujuannya bukanlah kamarnya saat ini.Melainkan sebuah kamar yang menjadi tempat ia menyimpan beberapa barang pecah belah.


Langkahnya semakin terlihat panjang dengan mata yang memerah menahan sesuatu yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


Tidak lupa tangannya meraih sebuah tongkat bisbol yang terletak tak jauh dari sana lalu menyeretnya masuk.


Bbrraakkk!!!!

__ADS_1


Emilia membuka pintu kamar itu dengan kasar,dadanya terlihat naik turun dengan nafas yang sedikit tak beraturan.


“Aaarrggghhh…aku benci..aku benci dengan semua ini”teriak Emilia dengan air mata yang mulai mengalir deras.


Emosinya sudah benar-benar tak bisa ditahan lagi,ia memukul setiap barang yang berada dikamar itu dengan sekuat tenaga untuk melampiaskan emosinya.


Ppyyarr!! Ttrraanngg!!


Suara barang-barang pecah terdengar nyaring hingga ke lantai dasar.Gery yang masih berada di dibawah untuk menunggu Audrey dan dokter langsung bergegas naik kala mendengar suara keributan di atas.


“Aaarrgghhh..kenapa kau membuat menderita seperti ini Damian!!!..kau berjanji akan membahagiakanku..tapi lihat sekarang..aku tak bahagia sedikitpun!!”teriaknya lagi


Ia berhenti sejenak kala semua barang sudah habis tak bersisa,bahkan kursi dan meja tak luput dari amukannya.


Serpihan kaca berserakan dilantai bercampur dengan serpihan barang lainnya.


Setelah puas,tubuhnya luruh begitu saja ke lantai yang penuh serpihan kaca dengan mata yang masih menangis.


“Aku membunuh..aku sudah menjadi seorang pembunuh”lirihnya dengan tatapan kosong


Emilia tak pernah membayangkan sebelumnya jika ia akan berakhir menjadi seorang yang mempunyai keberanian untuk mengakhiri hidup orang lain.


Ia mengangkat kedua tangannya,menatap lekat kedua tangan yang ia gunakan untuk mengakhiri hidup si laki-laki tadi.


“Tangan ini sudah kotor..aku harus membasuhnya”ujarnya sembari melirik kesana kemari.


Semua kejadian yang ia alami dan rasa sedih yang ia pendam membuat Emilia depresi.Bisa dilihat jika sekarang ini ia tengah mengambil serpihan kaca dan bersiap melukai kedua tangannya.


Kkrreesss!!!


Ia mulai melukai tangan kirinya dengan serpihan kaca.Gery yang baru saja tiba langsung menghampiri Emilia dan menghentikan gerakan tangannya.


“Nona..apa yang kau lakukan”bentak Gery


“Tanganku kotor uncle..tanganku kotor..aku membunuh seseorang uncle..aku sudah menjadi seorang pembunuh..aku tidak sudah mencuci tanganku tapi tetap saja tanganku masih kotor”lirihnya dengan air mata yang masih berderai


“Tidak nona..kau melakukan hal yang benar..kau membunuhnya untuk melindungi diri”jelas Gery sembari memegang erat kedua tangan Emilia agar tidak terjadi hal serupa.


Darah segar juga masih mengalir dari tangannya yang terkena sayatan tadi,wajahnya juga mulai pucat akibat kekurangan darah.


“Tidak uncle..aku pembunuh..aku seorang pembunuh..aaaarrgghhh”Emilia kembali berteriak dan teriakan terdengar begitu pilu.


Tidak lama kemudian tubuhnya ambruk dan Gery segera menggendongnya menuju kamar miliknya.Tak berselang lama Audrey dan Dion tiba.


Bersambung….

__ADS_1


Yuk semangat bacanya..jangan lupa like yah😉


kasi hadiah juga boleh🤭


__ADS_2