HIDDEN DEVIL

HIDDEN DEVIL
Episode 106


__ADS_3

✨Happy Reading✨


Kelima pria tampan dengan jiwa psikopat telah berdiri tepat didepan pintu bangunan itu.Tidak ketinggalan,seorang pria yang akan menjadi umpan sudah mereka bawa.


“Dannis..apa kau sudah memastikan tidak ada cctv di bangunan ini?”Tanya Albert


“Ada beberapa cctv di bangunan ini tapi kau tenang saja karena aku sudah berhasil meretasnya”jawab Dannis santai


“Waooo..kau sangat luar biasa Dannis”puji Darren dengan bibir membentuk huruf O


Dannis tersenyum bangga ke arah Darren”kau tahu sendiri betapa hebatnya aku”katanya menyombongkan diri.


“Aku tarik kembali omonganku”Darren melengos kesal


“Baiklah..ayo masuk”perintah Lukas


Dion menarik pria dengan penuh luka itu untuk memaksanya masuk ke dalam sana.


“Darren apa kau membawa bola kesayanganmu?”tanya Dion


“Ia aku membawa beberapa bola”jawab Darren sembari mengeluarkan beberapa bola kecil warna warni


Dion mengambil bola berwarna pink lalu menekan tombol kecil yang ada dibagian atas bola.Dion meletakkan bom yang menyerupai bola itu ke dalam saku sang pria.


“Aku sudah mengaktifkan bom ini..jangan coba-coba menyentuhnya karena bola ini akan meledak jika terkena kulit manusia..tapi jika kau ingin membuktikannya kau bisa mengeluarkannya dari sakumu”ujar Dion


Sang pria hanya menggeleng ketakutan,sejujurnya ia lebih memilih mati saat seperti ini dibandingkan harus tertangkap dan menjadi umpan musuh.


“Ingat..kau harus membunuhnya karena jika tidak maka aku akan menekan pematiknya”ancam Dion lagi.


Pria malang itu mengangguk,lalu Dion mulai mendorongnya untuk membuka pintu itu.


Mereka berlima saling pandang dan Albert memberi isyarat dengan anggukkan kepala.


Ceklek..


Pintu sudah terbuka lebar,sang penjaga tali tampak bersiaga dan sudah bersiap melepas tali-tali itu.


“Hey..kenapa kau membuka pintunya bodoh”umpat sang penjaga tali kepada sang pria


Sang pria tak menjawab apapun,dengan sigap ia mengambil pistol dari balik saku bajunya dan menembak pria penjaga tali.


Dddooorrrr!!!!


Peluru melesat tepat mengenai jantung sang penjaga tali.Pria itu tumbang,dan tali-tali yang ia pegang terlepas begitu saja.


Jleb..jleb…jleb..jleb…

__ADS_1


Hujan pisau mengguyur tubuh si pria malang,pisau-pisau itu menancap sempurna di semua bagian tubuhnya.


“Aaakkkhhhh…”teriak sang pria merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Dari arah luar kelimanya dapat mendengar suara tembakan sekaligus suara teriakan.


“Aman..ayo masuk”perintah Albert


Mereka mulai masuk satu persatu,Dannis masih setia melihat Tab yang iya bawa sembari melirik ke arah depan sesekali.


“Bagus..sekarang kita akan menghadapi ratusan semut dan aku harap kalian menyelesaikannya dengan cepat”ujar Dannis


“Kau yakin ingin bertarung dengan tab besar itu?”darren mengkerutkan dahinya.


“Aku tak akan bertarung..aku akan diam disini memantau pergerakan mereka dan kalian pakai ini seperti biasa”Dannis merogoh saku jasnya dan mengeluarkan 4 earphone yang selalu ia bawa.


Mereka berempat menerima earphone masing-masing,tidak lupa mereka memasangnya untuk alat komunikasi.


“Tapi..bagaimana jika mereka berlari keluar?..siapa yang akan melindungimu?”tanya Darren


“Itu adalah tugasmu untuk tidak membiarkan mereka berlari keluar”jawab Dannis dengan mata masih menatap layar Tab


“Baiklah..tapi aku tidak berjanji”balasnya


“Sudah..ayo bersiap..aku sudah tidak bersabar untuk membantai mereka”ujar Dion


“Baiklah..ayo”


Pintu besar itu di dobrak oleh Albert dan kedatangan mereka sudah disambut oleh puluhan orang dengan baju serba hitam.


Mereka tak membawa senjata api melainkan pedang yang berukuran panjang.


“Hey..kenapa kalian tidak membawa pistol?”tanya Darren


“Apa kalian tidak mempunyai senjata api?”imbuhnya


Mereka semua mulai mengangkat pedang dan bersiap untuk menyerang.Sedangkan mereka berempat mulai mengangkat senjata api.


“Tunggu..jangan ada yang menembak..sepertinya mereka memasang bom yang menggunakan sensor suara..jika terdengar suara 120 dessible maka bangunan ini akan otomatis meledak”jelas Dannis melalui earphone yang terpasang di telinga mereka.


“Bagaimana kau bisa tahu Dannis?”tanya Lukas


“Aku pernah melihat bom ini mansion Darren dan aku masih ingat semua penjelasan Darren”imbuhnya


“Apakah bom itu berbentuk kotak dengan warna biru di bagian atas dan berwarna merah pada garis tengahnya?”tanya Darren


“Benar..aku rasa ini salah satu bom yang kau ciptakan”

__ADS_1


“Sial..sepertinya aku telah salah memilih pembeli”umpat Darren ketika menyadari jika yang membeli bomnya adalah musuh dari sahabatnya.


“Sudahlah..jangan dibahas lagi..diluar sudah ada anak buah tuan Vernandez dan aku sudah memerintahkan mereka untuk mengambil pedang”ujar Dannis


“Daddy?..apa Emilia juga memberitahu daddy tentang masalah ini?”gumam Lukas dalam hati


Beberapa detik kemudian,masuklah beberapa orang yang diutus oleh Dannis untuk membawa pedang.


Masing-masing dari mereka sudah membawa pedang dan mulai mengangkat pedang sebagai tanda bahwa mereka bersiap.


“Baiklah..habisi mereka dan selamatkan sandera”perintah Albert


Mereka mengangguk secara bersamaan dan dengan sigap mulai berlari mendekati musuh begitu juga sebaliknya.


Prang..prang..prang…


Suara benturan pedang mulai terdengar,tak lama setelah itu pasukan yang dikirim Gery mulai berdatangan dan ikut menyerang.


Srekkk….jleb….


Goresan Deni goresan tercipta,beberapa potongan tubuh juga mulai berjatuhan seiring dengan ayuhan pedang kebawah.


Mereka berlima terlihat begitu santai meskipun begitu banyak musuh mengepung.


Dug…


Satu persatu kepala anak buah dari musuh mulai berjatuhan karena ulah Lukas.


“Lukas..bisakah kau tidak memisahkan kepala mereka..aku kesulitan untuk berjalan”teriak Darren yang sedang menusuk musuhnya bak menusuk sate.


“Aku tidak suka membuat mereka sekarat..lebih baik aku langsung mengirim mereka ke neraka”jawab Lukas sembari terus mengayuhkan pedangnya.


Di sebelah kanan Dion juga terlihat sibuk menghadapi musuh hingga tiba-tiba pedangnya terlempar.


“Yyaaakkkk”musuh terlihat mengayuhkan pedangnya ke arah Dion kala melihatnya sedang tidak berdaya.


Jjlleebbb…


Beruntung dari arah belakang datang Darren yang langsung menusuk musuh.


“Kau berhutang nyawa padaku Dion”ujar Darren


“Sial..kau begitu perhitungan”gerutu Dion


Dion sudah mendapatkan pedangnya kembali,mereka kini kembali bertarung.


“Habisi mereka tanpa sisa dan setelah itu selamatkan sandera”ujar Lukas

__ADS_1


Namun sudah bisa ditebak jika pertarungan kali ini dimenangkan oleh Lukas karena jumlah anak buah musuh sedikit demi sedikit sudah berkurang.


Bersambung…


__ADS_2