
✨Happy Reading✨
Semua mata tertuju kepadanya,bahkan sebagian dari mereka memilih menghentikan tugas demi menatap seseorang yang sedang duduk diruang tamu bersama istrinya.
Ya Disinilah Damian dan Emilia sekarang,disebuah mansion megah nan mewah yang tak lain dan tak bukan adalah milik Albert.Setelah memberikan kejutan untuk ayah dan juga keluarga istrinya,sore ini Damian berniat memberi kejutan untuk sahabatnya.
“Hhmm..apa kau gugup?”tanya Emilia
“Tidak”jawab Damian tegas
Entah mengapa ia tidak merasa gugup seperti sebelum-sebelumnya,dan lebih anehnya ia merasa tidak sabar melihat ekspresi sahabatnya.
Tak..tak..tak..
Suara langkah kaki terdengar dari arah tangga,kini semua maid dan pengawal yang sedari tadi menatap Damian memilih pergi dan menyelesaikan tugas mereka.
Albert dan Emily terlihat turun dari tangga dengan bergandengan tangan.Ekspresi Emily terlihat begitu senang melihat kedatangan sang kakak.
Emily sudah melahirkan 3 bulan yang lalu,dan hari itu adalah hari terakhir Emilia mengunjungi sang adik.
“Hy kak..”seru Emily yang hanya menatap fokus ke arah Emilia
“Hy..”Emilia berdiri dan merentangkan tangannya.
Ketika hendak berlari,tiba-tiba Emily menghentikan langkahnya.
“Da-Damian…”ujar Emily terbata-bata dengan raut wajah yang tidak percaya.
Beberapa detik kemudian tubuhnya tiba-tiba terasa lemas dan ia kehilangan kesadaran,beruntung ada Albert yang berada di sampingnya.
“Hey..Hey..”pekik Albert yang langsung menangkap tubuh sang istri.
Damian dan Emilia juga terlihat terkejut karena Emily tiba-tiba pingsan.
Albert yang terlihat khawatir langsung membawa sang istri naik ke atas dan meninggalkan dua sejoli yang juga terlihat khawatir.
“Hah..sudah kU duga”ujar Damian dengan raut wajah bersalah.
“Tidak apa..mungkin adikku sedikit syok”Emilia mengusap pelan punggung sang suami.
Ada yang Emilia suka dari Damian setelah menghilang 5 bulan lamanya,sifat dingin dan angkuhnya sedikit lebih berkurang saat ini.
Mereka kembali menoleh karena seseorang kembali mendekat ke arah mereka.
“Bagaimana keadaannya?”tanya Emilia kepada laki-laki yang sedang dalam mode kesal.
“Dia sedikit syok”jawab Albert singkat
“Maafkan aku brother”ujar Damian merasa tidak enak hati.
“Hah..ternyata kau masih hidup”balas Albert sembari mendaratkan bokongnya di atas sofa
“Seperti biasa..Dewi Fortuna masih menyayangiku”jawab Damian bangga.
Albert menyunggingkan ujung bibirnya,ada perasaan lega dalam hatinya kala sesuatu yang ia pikirkan selama ini menjadi kenyataan.Semua orang mungkin percaya jika sahabatnya itu telah tiada,namun tidak dengan Albert.Ia sudah melihat sendiri bagaimana nasib beruntung selalu berpihak kepada Damian.Maka dari itu ia tidak langsung percaya jika sahabatnya itu pergi dengan cepat.
“Semoga saja”ejek Albert
“Hah..baiklah karena aku sudah menemuimu dan memberitahu jika aku masih hidup..aku dan istriku akan pulang..terima kasih karena kau dan istrimu sudah membantunya selama aku tidak ada”ujar Damian dengan ujung mata melirik ke arah sang istri.
Albert menganggukkan kepala”tidak perlu merasa sungkan.”
__ADS_1
Damian mengangguk”aku ingin meminta bantuanmu sekali lagi”
“Apa itu?”
Damian tersenyum lalu ia mengutarakan ide nya yang terbilang cukup jahil.
“Baiklah..aku setuju..sepertinya akan sedikit menyenangkan”ujar Albert setelah mendengar ide dari Damian.
Damian dan Emilia berdiri,mereka berpamitan untuk pulang ke mansion karena Damian melihat jika istrinya kelelahan.
*****
20.00 waktu setempat,mobil mewah Albert sudah terparkir di depan markas sejak 10 menit yang lalu.Namun sampai detik ini belum ada tanda-tanda kehadiran sahabat yang lain.
“Apakah mereka sudah datang?”tanya Damian yang sudah berada di sebuah ruangan tak jauh dari tempat mereka biasa berkumpul.
“Belum”jawab Albert singkat
“Sial..kenapa mereka lama sekali”gerutu Damian karena ia sudah tidak sabar untuk memberi kejutan kepada ketiga sahabatnya yang lain.
“Bersabarlah dan tetap diam disana jika kau mau rencanamu berhasil”ujar Albert dengan tangan dan mata fokus menatap layar ponselnya.
Bbrruummm!!!bbbrruummm!!!
Suara mobil terdengar mendekat ke arah markas,Damian yang mendengar suara itu langsung bersiap.
“Maaf membuatmu menunggu lama Albert”ujar Dannis yang baru tiba
“Tak apa..aku baru saja sampai”jawab Albert sembari meletakkan ponselnya di atas meja.
“Hy brothers”sapa Dion yang menyusul dibelakang Dannis
“Mana Darren?”tanya Albert
“Dia tidak bisa datang..dia baru saja menghubungiku”jawab Dion yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Albert dan Dannis
“So..kenapa kau meminta kami kemari?”tanya Dannis dengan mode serius.
“Tidak ada hal yang begitu penting..aku hanya rindu dengan suasana seperti ini..bukankah sudah lama kita tidak berkumpul”ujar Albert menyandarkan tubuhnya dikursi.
Dannis dan Dion saling pandang”benar..sudah lama kita tidak pernah berkumpul lagi seperti sekarang ini..terlebih sejak Damian pergi”ujar Dion dengan raut wajah sedih.
“Hah..kalian benar”imbuh Dannis
“Hey..kenapa kalian berdua seperti ingin menangis?”seru Albert
“Kami hanya rindu dengan Damian”jawab Dion
“Jika begitu kalian panggil saja dia..aku pernah mendengar jika kita rindu dengan seseorang yang sudah tiada maka kita tinggal menyebut namanya 3 kali dan seketika ia akan menampakkan diri meskipun hanya dalam hitungan detik saja”jelas Albert yang entah dari mana dia mendapat kata-kata tidak jelas itu.
Dannis mengernyitkan dahinya”mitos darimana itu?..aku tidak pernah mendengarnya”ujar Dannis tidak percaya
“Aku pernah mendengar istriku bercerita tentang hal seperti itu..dia bilang temannya pernah melakukan hal itu dan berhasil”ujar Albert mencoba meyakinkan
“Baiklah..apa salahnya mencoba”ujar Dion
Dion menarik nafas sejenak”Damian..Damian..Damian”panggilnya dengan suara sedikit keras.
Dannis yang masih ragu-ragu mencoba menoleh kesana kemari,satu sisi ia tidak percaya tapi disatu sisi ia begitu penasaran.
Damian yang sudah siap langsung keluar begitu mendengar namanya dipanggil.Sepanjang obrolan mereka bertiga,Damian berusaha keras untuk menahan tawanya karena kedua sahabatnya benar-benar bisa tertipu.
__ADS_1
“Tidak ada”ujar Dannis
“Tunggu saja dulu”jawab Albert
Damian mulai menampakkan diri ia berdiri tepat di belakang Albert.Ekor mata Dion menangkap sebuah bayangan dan dia sedikit terlonjak.
“Aakkhh..ternyata kau Damian..kau membuatku terkejut saja”ujar Dion yang belum sadar dan masih terus mencari.
Dannis yang mendengar kalimat Dion langsung mematung.
“Damian?”tanya Dannis
Dion yang mendengar pertanyaan Dannis ikut mematung dan meresapi kembali kalimatnya tadi.
Dion menoleh ke arah Albert dan Dannis mengikut arah mata Dion.
Mereka berdua mematung dengan tangan gemetar ketika sosok Damian berdiri dibelakang Albert sembari menampilkan senyum yang bagi mereka sedikit menyeramkan.
“D-D-DA-MI-A-N..”ujar Dion sudah payah.
Dannis menelan ludahnya kasar dan secara bersamaan mereka saling pandang.
“Aaarrrggghhhhhhh!!!”dion dan Dannis berteriak bersamaan,tidak lupa mereka menutup mata sembari meringkuk di atas kursi karena ketakutan.
“Hey ada apa?”tanya Albert yang pura-pura tidak tahu sembari bersusah payah menahan tawanya.
“Da-Damian benar-benar datang”teriak Dannis gemetar
“Dimana?”tanya Albert
“Dibelakangmu”ujar Dannis menunjuk ke arah Albert
Albert pura-pura menoleh dan mencari,ia mencoba memberi isyarat kepada Damian agar berpindah posisi kebelakang mereka berdua.
Damian mengangguk dan merubah posisinya.
“Hey tidak ada siapa pun di belakangku”ujar Albert
Dion mencoba membuka matanya untuk memastikan ucapan Albert.Dan benar saja,ia tidak melihat siapapun di belakang sana.
“Dannis..Dannis..dia sudah hilang”Dion menepuk punggung Dannis beberapa kali.
Dannis juga membuka matanya dan memberanikan diri melihat kebelakang Albert.
“Kemana dia?”tanya Dannis
“Aku disini”jawab Damian.
Mereka berdua kembali menoleh ke sumber suara.
“Oh kau disini rupanya”seru mereka bersamaan.
“Dia disini Albert apa kau tidak melihatnya”tanya Dannis yang diikuti anggukan kepala oleh Dion.
Didetik selanjutnya,wajah mereka kembali menegang ketika menyadari sesuatu.Mereka berdua menelan ludah kasar dan mencoba menoleh kebelakang.
“Wwaaaaaaaaa!!!!!”teriakan mereka kembali terdengar bahkan lebih keras.
Suara teriakan bercampur gelak tawa terdengar di ruangan itu.Albert dan Damian tak bisa menahan tawanya melihat kedua sahabatnya gemetar karena ketakutan.
Bersambung…
__ADS_1