
✨Happy Reading✨
Selesai dengan urusan memilih gaun,kini Emilia sedang duduk di kursi dengan beberapa orang yang berada dibelakangnya untuk menata rambut serta memoles wajah cantiknya.
Ia hanya diam saja membiarkan orang-orang salon itu merias dirinya.Matanya beberapa kali melirik laki-laki yang duduk tak jauh darinya,dengan hati yang jengkel dan kesal ia menatap ke arah Damian.
Namun tiba-tiba Damian menangkap basah kegiatannya,ia berjalan menghampiri Emilia.
“Seseorang ingin berbicara padamu”Damian menyerahkan ponsel miliknya kepada Emilia
“Si..siapa ini?”emilia sedikit bingung karena tiba-tiba ada seseorang yang menghubunginya.
“Louis”jawab singkat Damian
Emilia mengambil benda kotak itu lalu menempelkannya di telinga.
“Hallo”
“Maaf menggangu nona..saya ingin meminta tolong kepada anda”ujar Louis dari seberang sana
“Apa itu?”
“Tolong awasi tuan selama berada di acara tersebut..jangan biarkan tuan minum terlalu banyak jika anda tak ingin menjadi supir pribadi tuan ketika pulang dari acara”jelas Louis
“Baiklah akan aku usahakan”jawab Emilia
“Terima kasih nona”
Tut..tut...tut...
Louis menutup sambungan teleponnya ketika mendapat jawaban dari Emilia.
“Sudah selesai tuan”ucap pegawai salon
“Baiklah..aku akan membayarnya sekarang”kata Damian sembari berjalan ke arah kasir.
Semua persiapan telah siap,Emilia berjalan menuju mobil dengan begitu anggunnya sehingga membuat Damian sedikit terpesona.
“Cantik”celetuknya ketika Emilia masuk ke dalam mobilnya.
“Terima kasih”jawab Emilia tersenyum manis
“Gaun dan juga rambutmu”imbuh Damian lalu menatap lurus kedepan
Emilia melotot tak percaya bagaimana bisa Damian memuji gaun dan juga rambutnya padahal terlihat jelas jika ia terpesona dengan kecantikan Emilia.
Tidak butuh waktu yang lama 20 menit adalah waktu yang pas untuk mereka sampai di sebuah restaurant megah yang terletak di tengah kota.
Mobil mewah berderet memenuhi parkiran yang cukup luas,para tamu mulai berdatangan dengan pasangan disamping mereka.
“Ayo masuk”Damian mengangkat tangannya membentuk huruf o dan meletakkannya di samping pinggang memberi isyarat kepada Emilia untuk memegang tangannya.
__ADS_1
Awalnya ia tak mengerti namun ketika melihat beberapa orang yang lewat ia mulai paham maksud dari Damian.
Kini mereka berdua terlihat seperti pasangan serasi.Damian seorang CEO yang tampan dan menawan berpasangan dengan Emilia seorang model cantik dan anggun.
Semua orang menatap kagum ke arah mereka merasa iri dengan pasangan yang menurut mereka sangat cocok.
“Selamat malam tuan Damian”sapa salah satu kolega
“Selamat malam tuan Fred”sapa Damian
“Wow..kalau tidak salah nona cantik ini adalah Emilia Karmila model cantik yang sudah terkenal hingga ke mancanegara”tebak Fred
Emilia tersenyum sembari menganggukkan kepala membenarkan ucapan dari laki-laki yang berada di hadapannya.
“Apakah kalian berdua?”fred melirik mereka secara bergantian
“Seperti yang anda lihat”jawab Damian
“Wah..kalian benar-benar serasi..bukan begitu honey” Fred melihat ke arah istrinya
“Benar..kalian sangat serasi..seperti aku dan juga suamiku”jawab istri Fred
Mereka terus mengobrol saling melempar guyonan,sesekali mereka tertawa karena beberapa obrolan yang terkesan lucu.
Acara berlangsung cukup lama,semua orang berkumpul saling mengobrol satu sama lain.Hingga tiba di acara puncak,semua orang mengangkat gelas mereka untuk bersulang.
Setelah acara puncak,beberapa orang memilih pulang dan beberapa orang lagi memilih tinggal untuk melanjutkan sesi minum bersama.Botol demi botol anggur telah habis,namun sepertinya itu tidak cukup.
“Damian..”panggil Emilia dengan berbisik
“Kata Louis kau tidak boleh.,.”
“Siapa kau berani memerintah ku?”Tanya Damian dengan tatapan tajam.
Emilia mengurungkan niatnya dan memilih diam.
“Bagaimana caranya aku memberi tahunya untuk tidak minum..belum selesai bicara saja dia sudah menggertak kU”gumam Emilia dalam hati.
Sudah hampir satu jam lamanya dan satu persatu dari mereka telah tumbang begitu juga dengan Damian.
“Sepertinya kita harus berpisah karena besok aku tidak memiliki waktu untuk berlibur”ucap Damian tak jelas arah pembicaraannya karena ia sudah mabuk.
“Hah..apakah maksud Louis menjadi supir pribadi karena ia mabuk seperti ini”gumam Emilia dalam hati
Dengan terpaksa Emilia harus memapah Damian menuju mobil,tubuh Damian begitu berat jika dibandingkan dengan tubuh mungilnya sehingga ia sedikit merasa kesusahan
“Hah...benar-benar seperti raksasa”gerutunya ketika berhasil membawa Damian masuk kedalam mobil.
Setelah memastikan Damian aman di kursi penumpang,ia ikut masuk dan duduk di kursi kemudi.Seperti kata Louis,ia harus rela menjadi supir pribadi karena tidak berani melarang Damian untuk minum.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang,mata Emilia beberapa kali melirik ke samping untuk memastikan Damian tetap merasa nyaman.
__ADS_1
Dengan penuh perjuangan akhirnya ia sampai di mansion.Suasana sudah sangat sepi,sepertinya semua orang sudah tidur,hanya ada beberapa penjaga yang berdiri didepan pintu.
“Bisakah kalian membantuku membawanya ke lantai atas?”tanya Emilia
“Maaf nona..tapi tuan tidak mengijinkan kami untuk naik ke atas karena itu salah satu peraturan di mansion ini”tolak sang penjaga
Pada akhirnya Emilia harus memapah Damian seorang diri untuk membawanya ke kamarnya.
Beruntung dimansion itu terdapat sebuah lift sehingga itu dapat mempermudah pekerjaannya.
“Hah...kau sangat berat”gerutu Emilia setelah berhasil meletakkan tubuh lemas Damian ke atas ranjang.
Sebelum ia pergi dari ruangan itu,ia menyempatkan diri untuk melepas sepatu yang digunakan oleh Damian dan setelahnya ia membalikkan badan untuk keluar dari kamar itu.
Namun tiba-tiba,ia mendengar Damian berbicara sesuatu.
“Mommy..awas..tidak..mommy..mommy...”teriak Damian dan langsung bangun dari posisi tidurnya seperti seseorang yang sedang bermimpi buruk
Emilia sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat.
“Ada apa dengannya kenapa ia berteriak”pertanyaan itu berputar di pikirannya.
Damian bangun dari tidurnya namun ia seperti ketakutan,itu terlihat begitu jelas karena tubuhnya bergetar hebat dan tatapannya seperti seorang yang trauma.
Emilia mencoba mendekat dengan perlahan,meskipun ia sedikit merasa takut.
“Apakah kau baik-baik saja?”tanya Emilia
Keringat dingin membasahi wajahnya Damian,tubuh kekar itu masih bergetar hebat dan itu membuat Emilia sedikit merasa bingung.
“Ada apa dengannya..kenapa ia seperti ketakutan?”gumamnya dalam hati.
Perlahan ia duduk di tepi ranjang tepat di hadapan Damian dan memberanikan diri untuk menyentuh tubuh yang gemetar itu.
“Hey..ada apa?..apa kau bermimpi buruk?”tanya Emilia lembut.
Damian tak berbicara sepatah kata pun,bahkan ia semakin ketakutan dan tiba-tiba ia menangis.
“Apa ada sesuatu yang mengganggumu?.,,katakan”tanya Emilia lagi
“Sepertinya ia bermimpi buruk”gumam Emilia
Emilia mencoba memberanikan diri untuk meraih tubuh yang bergetar itu dan membawanya ke dalam pelukannya.Ia sudah siap jika sewaktu waktu Damian akan mendorongnya bahkan memukulnya namun itu diluar ekspetasinya.Damian membalas pelukan itu bahkan pelukan Damian terasa seperti seseorang yang ketakutan akan suatu hal.
“Tenanglah..aku ada disini..”Emilia menepuk pelan punggung Damian sedangkan satu tangannya lagi ia gunakan untuk mengelus kepala Damian.
Entah kenapa Damian merasa lebih tenang,hingga tidak terasa ia bisa tertidur di pelukan Emilia tanpa harus meminum obat seperti biasa yang ia lakukan ketika mimpi buruk itu menghampirinya.
Emilia tersenyum ketika merasa pelukan tubuh kekar itu sedikit demi sedikit melemah dan itu artinya Damian sudah tertidur.Sebelumnya ia ingin meletakkan kepala Damian ke atas bantal,namun ia urungkan karena merasa takut jika Damian akan terbangun dan kembali berteriak seperti tadi.Jadi ia memutuskan untuk ikut berbaring di samping Damian dan menjadikan tangannya sebagai alas kepala untuk Damian.Kini mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang saling memberi kehangatan,
Di balik pintu,seorang laki-laki tersenyum senang melihat pemandangan yang ada didepan matanya.
__ADS_1
Ya..Louis mendengar teriakan dari tuannya tadi dan ia langsung bergegas untuk menghampiri karena ia yakin Damian tak meminum obatnya sebelum tidur.Namun niatnya ia urungkan ketika melihat tuannya jauh lebih tenang ketika berada di pelukan seorang gadis dari pada meminum obat itu,sehingga ia memutuskan untuk tidak masuk ke dalam agar tidak membuat Emilia merasa canggung.
Bersambung...