Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Oh Tuhan....


__ADS_3

Saat berjalan keluar dari ruang rawat menuju parkiran, Mbak Indah yang mendorongkan kursi rodaku. Sedangkan kursi roda Mas Ilham didorong oleh Mas Muslim. Kudengar, sembari menuju parkiran, Mas Ilham menelepon seseorang. Aku tahu, yang ia telepon itu pastilah Umi Windari. Dari yang kudengar, Mas Ilham mengatakan bahwa kami hendak berkunjung, dan memastikan bahwa beliau dan si anak kecil itu ada di rumah.


Ya Tuhan, berdebar-debar rasanya jantungku. Kurema* jemariku dengan perasaan tidak tenang. Meski aku berusaha berpikir positif, tapi pemikiran negatif -- yang tanpa bisa kucegah -- menyelinap jua dan mengotori otakku. Aku takut, takut kalau Mas Ilham berencana mengadopsi anak itu. Jujur saja, rasanya aku tidak menginginkan hal itu. Bukan karena anak itu merupakan anak mendiang kekasihnya, tapi lebih ke: yang ingin kubesarkan dengan kedua tanganku adalah anak kandungku sendiri. Apalagi saat ini, mana sanggup aku merawat anak lain sementara hatiku masih berduka dengan begitu hebatnya. Lalu, pemikiran yang lebih buruk malah ikut menyelinap.


"Mas?" kataku menoleh ke samping, kepada Mas Ilham yang duduk di samping kananku. Kami sudah berada di dalam mobil, dalam perjalanan ke tempat tujuan.


Mas Ilham menoleh. "Ada apa, Sayang?" tanyanya.


"Aku mau tanya... sesuatu."


"Emm? Apa?"


"Ee... aku... aku sehat, kan? Maksudku... rahimku? Tidak ada cidera fatal selain keguguran itu, ya kan?"


Hmm... mataku berkaca. Aku malah jadi ketar-ketir, berpikir negatif bahwa Mas Ilham berencana mengadopsi anak mendiang Islamia karena terjadi sesuatu kepadaku, dengan rahimku. Aku takut mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Umi yang diangkat rahimnya pasca cidera karena kecelakaan.


Mas Ilham menggeleng-geleng. "Jangan berpikiran macam-macam, Sayang. Naudzubillah. Rahimmu baik-baik saja, kamu sehat. Oke?"


"Terus...? Ee... maksudku, aku...."

__ADS_1


"Kamu mau tahu kenapa aku mengajakmu ke rumah Mia?"


"Jadi, benar, kita akan ke sana? Kamu mau aku berkenalan dengan anaknya? Kenapa?"


"Tenang. Jangan cemas. Kita hanya silaturrahim, dan kamu berkenalan dengan Umi Windari dan anaknya almarhumah. Jangan berpikiran macam-macam, ya?"


Aku mengangguk, sedikit lega. Dan pikiranku jadi berubah ke arah yang lebih positif: mungkin saja Mas Ilham ingin -- setelah bertemu dengan anak itu -- aku jadi berpikir bahwa ada yang nasibnya lebih tragis daripada nasibku. Jadi aku mesti lebih bersyukur dengan keadaan dan kondisiku yang lebih beruntung daripada yang dialami jutaan orang di luar sana. Mungkin saja. Aku pun tersenyum, memaksakan senyum.


Aku baik-baik saja. Rahimku baik-baik saja. Aku masih punya kesempatan untuk punya anak. Masih punya kesempatan untuk mengandung dan melahirkan. Untuk memberikan keturunan untuk suamiku, dan memberikan cucu untuk orang tua kami. Aku bersyukur bahwa aku masih selamat, meski tanpa janinku. Tidak apa-apa. Dia bayi, dia suci, dan dia akan ditempatkan di surga. Tugasku untuknya hanya satu: mengikhlaskan dia.


"Kita sudah hampir sampai," kata Mas Ilham seraya menggenggam tanganku, lalu Mas Muslim membelokkan mobil ke gang pertama dan berhenti tepat di tempat tujuan. Di depan rumah asri tanpa pagar. Ada beberapa orang ibu-ibu yang langsung berbondong-bondong dan nampak berbisik dengan satu sama lain begitu melihat mobil Mas Ilham datang.


"Tepat seperti dugaanku," kata Mas Ilham.


"Dibicarakan dulu," kata Mas Muslim.


"Ada apa?" tanyaku heran.


Mbak Indah yang duduk di kursi depan hanya memandang ke arahku dengan senyuman simpul.

__ADS_1


"Aku akan menjelaskannya nanti," kata Mas Ilham. "Tapi yang pasti, kamu harus kuat. Jantungmu harus kuat. Hati, psikis, dan mentalmu juga harus kuat. Orang-orang di luar sana bisa saja mengeluarkan kalimat apa pun yang mungkin di luar dugaanmu dan membuatmu terkejut. Dan perlu kamu tahu, aku juga ingin tahu bagaimana reaksimu nanti."


Ya Tuhan, ada apa? Kalau mereka menggunjingku soal kehamilanku atau keguguranku, aku akan tegar. Yakin aku bisa tegar. Apa Mas Ilham ingin mengujiku?


"Ayo," kata Mas Ilham.


Deg!


Meski berdebar, aku pun memberanikan diri keluar dari mobil. Dengan memegang tongkatnya, Mas Ilham membuka pintu di sampingnya, menurunkan kaki kanan, lalu kaki kirinya yang masih terpasang gips. Lalu aku pun keluar dari pintu yang sama.


"Tuh... benar, kan, Mas Ilham yang datang?" kata si ibu berbaju merah. "Mas Ilham lagi sakit, toh."


Mas Ilham hanya tersenyum, lalu mengucapkan salam. Mereka semua pun menjawab salamnya dengan kompak.


"Iya, akhirnya datang juga ayahnya Mia. Sudah lama tidak menjenguk Mia," kata ibu berbaju kuning.


Persis di saat itu jantungku serasa kena tonjok, bukan, bukan sekadar kena tonjok. Tapi kena bombardir dengan ledakan yang luar biasa dahsyat.


Ya Tuhan... apa maksudnya ini?

__ADS_1


__ADS_2