
Inilah waktunya.
Aku tersenyum, dan sungguh merasa lega karena hari ini -- setelah beberapa hari dengan status pasien rawat jalan melekat pada diri kami -- hari ini aku dan Mas Ilham sudah dinyatakan sembuh total. Gips di kaki Mas Ilham sudah dilepas, dan pemeriksaan ulang pada rahimku sudah dinyatakan dalam keadaan sehat. Meskipun, ada bekas luka pada bagian pelipis kiriku yang membekas dan mungkin tak akan pernah hilang. Kata dokter sih bisa kalau dioperasi. Sewaktu di depan dokter, Mas Ilham hanya mengangguk dan tersenyum.
Tapi... sewaktu kami sampai di rumah dan aku baru saja melepaskan hijabku, Mas Ilham berkata, "Itu tidak perlu dioperasi. Hanya bekas luka sedikit, dan itu sama sekali tidak berpengaruh. Tidak mengurangi nilai kecantikanmu sama sekali. Kamu tetap luar biasa cantik, dan aku senantiasa memujamu."
Jiaaaaah... Mas Brewokku yang pandai menggombal. Kata-katanya membuatku cekikikan.
"Bukannya karena biaya operasinya mahal dan membuang-buang uang? Hmm?"
Yap. Dengan entengnya Mas Ilham mengiyakan. "Kamu kan bukan artis yang apa-apa mengutamakan kecantikan dan penampilan sempurna di depan kamera. Kamu juga berhijab. Siapa yang akan mengomentari bekas luka kecil itu? Kan yang melihatnya cuma aku, ya kan? Memangnya aku akan berpoligami hanya karena bekas luka itu? Tidak, toh? Justru aku akan berpoligami kalau istriku tidak bisa mengatur keuangan."
Eh?
Jawaban entengnya yang bercanda itu membuatku seketika melotot dan melemparinya dengan bantal sofa. "Bercandanya jangan seperti itu! Awas saja kalau kejadian, aku potong itu-mu!"
"Ih... sadis...."
"Makanya jangan coba-coba."
"Apanya yang mau dipotong, Nduk?"
"Eh? Anu, Umi. Bukan apa-apa."
__ADS_1
Euw...! Mas Ilham terkekeh-kekeh, sementara Umi yang baru saja mengangkat jemuran di halaman belakang menggeleng-gelengkan kepala seraya berlalu, masuk ke dalam kamar.
"Ngamar, yuk?" ajak Mas Ilham tiba-tiba. Dengan cengiran edannya, dia mengangkat kaki kirinya yang sudah tak ber-gips dan menumpangkannya ke atas meja.
Astaga....
"Maaf, ya... bukannya bermaksud menolak. Tapi kata Umi sepulang kita dari rumah sakit, dia mau--"
Tin! Tin!
Suara klakson motorku menyela.
"Umi mau pulang. Itu pasti Laila yang mau jemput."
Benar saja. Sesaat setelah Laila masuk, Umi keluar dari kamar dan siap dengan tas pakaiannya.
"Umi mau langsung pulang. Untuk makan malam sudah Umi masakkan, nanti tinggal kamu panaskan," cerocos Umi kepadaku.
Aku mengangguk, lalu berterimakasih kepadanya. Kupeluk, kucium pipi kanan dan pipi kirinya, lalu kedua tangannya. "Terima kasih untuk semuanya, Umi. Umi ibu yang terbaik."
Sungguh ibu yang terbaik. Hanya demi aku, dia merelakan suaminya menghabiskan waktu di sisi istri mudanya -- setiap hari, setiap malam, selama ia menginap di rumahku.
"Sudah sewajarnya, Sayang. Demi anak." Lalu ia berpaling ke Mas Ilham. "Jaga anak Umi baik-baik, ya, Nak."
__ADS_1
Dan jangan sampai dia celaka lagi. Andainya bisa, pasti itu kalimat lengkap yang ingin disampaikan oleh seorang ibu yang melihat anaknya nyaris meregang nyawa.
Mas Ilham mengangguk, dan berkata, "Inshaallah, Umi. Pasti."
Dengan senyum dan ucapan salam, Umi dan Laila melaju pulang, sementara di sisiku, Mas Ilham merangkulkan tangan dan merema* bahuku dengan mesra. Lagi-lagi aku cekikikan. Pria dewasa ini seringkali tidak sabaran saat waktu dan kesempatan berpihak penuh kepadanya.
"Aku mau ke kamar mandi dulu. Tolong kunci pintunya, Masku Sayang."
Dengan langkah kaki cepat, kutinggalkan Mas Ilham di teras dan aku lekas-lekas ke kamar mandi. Masuk, dan mengunci pintunya.
"Sayang...," panggil Mas Ilham dari luar.
"Sebentar, Mas...."
"Iya, aku cuma mau bilang, nanti buatkan aku jus buah, ya. Bawakan ke teras belakang. Terima kasih, Sayang. I love you...."
Hmm... katanya mau ngamar....
Well, kubuatkan jus semangka untuknya, alias yang mudah-mudah saja: simpel, cepat, segar dan nikmat. Setelahnya, langsung kubawakan jus itu ke teras belakang.
"Hai," katanya.
Ya Tuhan, suamiku menggelar matras di teras belakang, lengkap dengan bantal dan selimutnya. Mau apa coba? Dasar suami edan!
__ADS_1