
"Capek, ya?" tanya Mas Ilham sebelum penyerangan tak berkelas itu terjadi. Kami tengah duduk di kursi tunggu dan aku sedang mengubek-ubek isi tasku, mengeluarkan tisu dan kipas elektrik yang langsung berputar ketika kuaktifkan tombol on-nya.
Aku mengangguk kepada Mas Ilham yang duduk menyamping menghadapku, tapi kemudian aku menggeleng. "Lebih tepatnya haus," akuku sambil mengarahkan kipas elektrik itu ke wajahku dan menyeka keringat dengan tisu.
"Mau batal puasa saja?" tanya Mas Ilham. Kebetulan di bengkel itu memang tersedia lemari pendingin dengan aneka minuman untuk customer yang hendak membeli minuman.
Lagi, kugelengkan kepalaku. "Nggak. Memangnya aku anak kecil?"
"Bukan begitu, Sayang...."
"Teruuuuus?"
"Kamu kan belum terbiasa puasa sunah."
"Tidak apa-apa. Latihan. Aku senang, kok."
"Senang? Maksudnya?"
"Ya senang, Mas. Aku senang, aku belajar menjadi manusia yang lebih baik dan lebih beriman. Jadi... biarkan aku belajar."
Mas Ilham mengangguk. "Aku juga sedang belajar," katanya.
"Belajar apa?"
"Belajar mengendalikan diri dari hawa nafsu."
"Hmm... dasar...."
Aku mengerti maksudnya: nafsu atas hasratnya terhadapku. Aku pun terkekeh, dan obrolan kami kian berlanjut sampai ke menu untuk berbuka puasa.
"Nanti mau buka pakai apa?" tanyaku.
"Pakai makanan, dong...!"
"Ya iyalah, Mas...! Maksudku itu...."
"Apa saja, Sayang. Yang penting sesuatu yang manis sesuai sunah rasul. Setelah itu terserah menu utamanya apa."
Aku mengangguk, dan sebenarnya seraya berpikir mau berbuka dengan makanan apa nanti. Menu utamanya pasti nasi, tapi lauknya apa?
"Yang pasti pakai kamu."
__ADS_1
Eh? Aku mendelik kepada Mas Ilham yang cekikikan. Dasar edan. "Yang serius dong, Mas."
"Lah, ini aku serius. Kan sunahnya berbukalah dengan yang manis-manis. Aku benar, dong? Kan bagiku tidak ada yang lebih manis darimu. Kamu satu-satunya."
Iya, sih. Namanya juga pengantin baru. Apa, sih, yang lebih manis dari pasangan halalnya, ya kan?
"Zahra," bisik Mas Ilham. "Aku ingin berbuka dengan nikmat rasamu, rasa manismu. Boleh?"
Ya ampun... aku mesem-mesem sendiri jadinya. Dan, yap, lama-kelamaan akhirnya kipas elektrikku kehabisan daya, lalu mati. "Uuuh... begini nih lama tidak dicas. Jadinya mati...," eluhku.
Mas Ilham cengar-cengir. "Namanya juga barang elektronik, kalau lama tidak dicas, ya mati. Tidak tahu kalau kamu."
Bah? Praktis aku mendelik lagi, lalu terkikik. "Dasar kamu, ih!" Kutahan tawa supaya tak meledak. "Mana mungkin juga begitu. Lah orang tukang casnya yang nggak nahan. Nyolok terus."
Meledak. Tawa Mas Ilham pecah. Mungkin karena itu si empunya bengkel jadi tahu kalau kami berdua ada di sana.
"Sudah, ya, bahas beginian. Makin panas, tahu, Mas."
Dengan tangannya, Mas Ilham menyeka bulir bening dari sudut matanya. Efek tawanya yang terlalu senang. "Sini, biar kubantu," katanya.
"Bantu apa?"
Ya ampun... mesra, sih. Tapi... bukannya dingin malah...
Bug!
Tonjokan keras menghantam rahang Mas Ilham. Aku kaget dan memekik histeris.
"Berengsek! Dasar bajingan!" hardik Mas Imam yang dalam hitungan detik langsung menyambar Mas Ilham yang terjengkang ke lantai karena tonjokannya. Lalu, ia melayangkan lagi tonjokan beberapa kali. "Berani kamu menggoda wanitaku!" cercanya.
Benar atau tidak, yang kuingat kala itu aku langsung menyambar helm di sampingku dan menghantam kepalanya keras-keras. Mas Imam kesakitan dan memegangi kepalanya, di saat itulah Mas Ilham mengambil kesempatan bangkit dan mendorong lawan yang mengungkungnya.
Namun, namanya juga Mas Ilham, dia bukan lelaki picik yang menyerang di saat musuhnya tidak siap. Dia menunggu lawannya bangkit sambil memasang kuda-kuda. "Majulah kalau Anda punya nyali," tantangnya.
Nekat. Mas Imam tetap maju walau dia tahu kalau dia akan kalah. Dan parahnya, pengunjung bengkel yang lain, begitu juga Adi dan montir-montir yang lain hanya menonton. Jelas saja, yang dilakukan oleh Mas Ilham itu duel elegan, bukannya duel brutal. Kalau Mas Imam maju, Mas Ilham menyerang. Kalau tidak, tentu saja Mas Ilham tidak akan menyerang. Dan pada akhirnya, karyawan-karyawan di bengkel itu menahan Mas Imam yang sudah jera secara fisik, namun tetap ngotot ingin menyerang. Kurasa babak belurnya sudah impas, malah Mas Imam mendapatkan beberapa bonus berupa tendangan dari Mas Ilham.
"Apa motor saya sudah selesai?" tanya Mas Ilham kemudian kepada Adi.
Adi mengangguk, tapi berkata, "Sedikit lagi."
"Tolong, kami mesti pergi dari sini."
__ADS_1
Adi mengangguk lagi, lalu melepaskan tangannya dari Mas Imam yang masih memberontak karena ditahan para pegawainya.
"Sori, Bung. Saya dan istri saya mesti pulang. Saya harap ini pertarungan terakhir. Jangan ganggu istri saya lagi. Silakan kalian bawa dia pergi." Mas Ilham menyeka darah di sudut bibirnya.
Tanpa kusadari, ternyata aku menangis karena ketakutan. Bodoh sih, mestinya aku sudah paham kalau semarah-marahnya Mas Ilham, dia pandai menjaga emosinya.
"Sakit?" tanyaku sambil menangis.
Mas Ilham menggeleng. "Tidak apa," sahutnya. "Lebih sakit kalau aku melihatmu menangis." Dan Mas Ilham yang kini di hadapanku, ia langsung meraihku dan mendekapku ke dalam pelukannya. "Jangan takut. Semuanya baik-baik saja."
Tapi nyatanya aku tetap ketakutan dan tetap menangis. Bahkan di sepanjang jalan, sehingga Mas Ilham mesti melajukan sepeda motornya dengan kencang. Sesampainya kami di rumah dan sama-sama turun dari motor lalu melepaskan helm, Mas Ilham meraih dan menggenggam tanganku. Persis di hadapanku, dia menatapku dalam-dalam.
"Maafkan aku," ucapnya.
Ya Tuhan....
"Bukan salahmu, Mas," kataku sambil menangis sesenggukan. "Aku yang salah. Aku yang minta maaf. Karena aku kamu mesti berurusan dengan masa laluku. Kalau saja aku tidak hadir... aku tidak menikah denganmu, mungkin...."
Mas Ilham memelukku erat-erat. "Jangan bicara seperti itu. Apa pun yang terjadi, kita sudah menikah, dan kita harus menghadapi semuanya sama-sama. Tidak ada yang mesti disesali. Inshaallah, semuanya akan baik-baik saja. Jangan menangis lagi, ya? Tolong, Zahra, jangan menangis."
Aku mengangguk.
"Sebentar lagi asar. Kita mandi, bersih-bersih, salat, terus istirahat. Ayo."
Enteng sekali!
Namun lagi-lagi kenyataan tak semudah ucapan. Sepanjang waktu istirahat itu aku tidak bisa berhenti memikirkan kelakuan Mas Imam. Aku tahu dia tidak akan jera. Perasaanku mengatakan demikian. Belum lagi ia sempat mengirimkan pesan kepadaku selepas aku dan Mas Ilham salat asar.
》 Aku melihatmu menangis, Bil. Kamu merasakan rasa sakitku, kan? Kamu tidak tega? Jelas itu karena kamu masih punya rasa terhadapku, Bila. Kamu masih mencintaiku.
Mas Ilham yang membuka pesan itu tadi sewaktu aku baru saja selesai mengobati luka-lukanya, tapi ia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya sedikit tersenyum tanpa kutahu apa maknanya, lalu ia menaruh kembali ponselku ke atas meja dan keluar dari kamar. Aku yang penasaran pun langsung mengecek ponselku dan mendapati pesan itu. Setelahnya, aku menyusul Mas Ilham yang baru saja bertemu kurir di teras depan. Setelah si kurir makanan itu melaju pergi, aku langsung meminta maaf pada Mas Ilham dan memintanya untuk tidak salah sangka terhadapku. Jangan sampai ia termakan kata-katanya Mas Imam.
"Aku tidak sepicik itu, Sayang. Aku percaya padamu. So, tidak usah dibahas. Mending sini, kita istirahat sambil menunggu waktu berbuka. Menu berbukanya ini sudah kupesan via online. Aku ingin istriku istirahat. Ayo."
Tetapi, rasa tidak enak itu terus mengusikku, membuat hatiku tidak nyaman, sehingga aku memutuskan untuk memejamkan mata hingga benar-benar tertidur di pelukan Mas Ilham. Sampai akhirnya magrib pun tiba. Azan berkumandang. Dan, aku terbangun.
Bukan. Bukan karena suara azan itu aku terbangun. Aku mah apa atuh, imanku ini super tipis sehingga suara azan tidak bisa menarikku ke alam kesadaran dari tidurku yang lelap. Dan... yap, aku terbangun sebab...
Mas Ilham mengulu* bibirku. Begitu aku membuka mata, dia pun nyengir dengan supeeeeer lebar. "Tidak ada yang lebih manis darimu, Zahra."
Argh! Pingin gigit...! Benar-benar deh Mas Ilham, manisnya nggak ketulungan....
__ADS_1