
Teeeeettt...!
Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi tiga kali. Lega rasanya. Meski lemas karena lapar dan haus, tapi aku senang, akhirnya setengah hari yang melelahkan sekaligus cukup meresahkan itu pun terlewati. Dengan seulas senyum yang mengembang di wajah, kututup proses belajar mengajar hari itu dengan ucapan salam. Setelahnya, semua anak didikku di kelas itu berhamburan keluar dari kelas. Semangat untuk pulang. Seketika kelas pun menjadi lengang dan aku segera beranjak dari tempat dudukku, lalu keluar dari ruang kelas.
"Assalamu'alaikum, Zahra."
Eh?
Seketika langkahku terhenti. Aku berbalik, dan mendapati Mas Ilham bersandar rapat di dinding, persis di samping pintu ruang kelas itu. Dia tersenyum manis dengan surprise yang mengejutkan, plus sebatang cokelat ukuran jumbo dengan pita warna merah muda dalam genggaman tangannya.
"Kok kamu di sini, Mas?" Kuambil cokelat itu dari tangannya. "Ini untukku? Terima kasih...."
Tetapi seketika Mas Ilham menarik cokelat itu sebelum cokelat itu benar-benar berpindah ke tanganku. "Jawab salamku dulu, dan kamu juga belum salim padaku."
Hehe. Lupa....
Well, segera kujawab salamnya, dan kucium punggung tangannya. "Maaf, Mas. Aku...."
"Tidak usah dibahas...."
"Hu'um."
"Ini, cokelat manis untuk istriku yang manis."
"Uuuuuh... Terima kasih...." Kusambut cokelatnya.
__ADS_1
"Sama-sama, Sayang...."
"Aku semakin sayang padamu."
"Cieeeee... yang sudah bisa gombal."
"Menular dari kamu-lah...."
"Ponselmu kenapa tidak aktif?"
"Oh, anu... sengaja kumatikan."
"Kenapa?"
Hmm... kenapa mesti dibahas sekarang, sih?
"Dari Imam?"
"Hu'um."
"Boleh lihat?"
Ah, halus sih... tapi itu bermaksud seperti ini: Sini ponselmu, aku mau cek. Eh?
"Ini." Kuserahkan ponselku yang sedari tadi tersimpan di dalam saku seragamku ke tangan Mas Ilham. Dia pun segera mengaktifkannya.
__ADS_1
Tak lama, Mas Ilham tersenyum. "Password yang manis," pujinya. Tanpa bertanya, Mas Ilham bisa menebak password ponselku. Tanggal pernikahan kami. Memang password yang mudah, tapi ketepatan tebakannya yang membuatku salut. Bisa saja, kan, kalau aku memakai tanggal lahirku, namaku, atau namanya? Hebat juga feeling-nya, pikirku.
Setelah membaca semua pesan whatsapp di ponselku, termasuk membaca pesan yang baru saja masuk bahkan sebelum aku membacanya: pesan yang terlanjur dikrim oleh Mas Imam sebelum dia tahu bahwa aku mematikan ponselku tadi.
"Obsesinya sangat besar," komentar Mas Ilham kemudian. Dan aku jadi teringat pada secarik kertas surat dari Mas Imam tadi. Dengan agak-agak cemas, kuserahkan juga secarik kertas itu kepada Mas Ilham.
Dia hanya mengangguk-angguk setelah membaca tulisan Mas Imam, lalu menyimpan kertas itu di saku baju kokonya. Dan... aku tidak mengerti apa maksud dan tujuannya, coba?
"Ayo, kita pulang," ajaknya.
Ya ampun, aku semakin tidak mengerti. Dia hanya ingin membacanya saja, begitu? Dan kenapa mesti ia simpan?
"Mas, maaf, ya, karena aku tadi membalas whatsapp itu tanpa izin. Aku tidak bermaksud apa-apa, kok...."
Mas Ilham meraih tanganku. "Kita pulang sekarang," katanya. Lalu dia berbisik, "Di sini sudah sepi. Aku khawatir aku akan menarikmu masuk ke dalam kelas kosong itu dan membatalkan puasaku."
Aseeeeem....
Mas Ilham terkekeh-kekeh. "Aku memaafkanmu, dan menghargai niat baikmu. Tapi... lain kali tidak usah digubris lagi, ya. Semakin kamu meladeninya, dia akan merasa punya muka untuk mengganggumu. Abaikan saja. Kalau perlu tidak usah dibaca. Paham, Sayang?" Dia maju lebih rapat kepadaku, kemudian ia kembali berbisik, "Kamu paham, kan, Sayang?"
"Ya, Mas. Aku paham." Kuanggukkan kepalaku dengan cepat, dan bersyukur bahwa ia tidak marah atas kelancanganku.
Mas Ilham yang baik dan bijaksana. Alhamdulillah, bukan?
"Zahra, ayo pulang. Atau kamu mau kita masuk ke ruang kelas itu sekarang? Kurasa tidak masalah. Hmm?"
__ADS_1
Hah! Gilaaaaa...! Gesreknya kumat.