Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Dia Yang Luar Biasa Sabar


__ADS_3

Tapi tidak, itu bukan kalimat ambigu. Aku bisa menangkapnya. Di satu sisi dia tahu kalau yang kukandung bukanlah anaknya, dan dia menganggap kalau ini juga bukan anaknya Mas Ilham. Tapi dari kalimatnya, dia juga menggiring opini orang lain supaya mengira kalau yang kukandung ini adalah anaknya.


"Ingat... jangan emosi," kata Mas Ilham. Dia menangkup wajahku dengan kedua belah tangan dan menatapku sambil tersenyum, kemudian dia mencium bibirku. "Rileks, ya. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan," ia berkata dengan kening menempel di keningku. "Kalau kamu emosi, lalu membiarkan dirimu tersiksa oleh masalah ini, itu artinya kamu zalim pada dirimu sendiri, dan zalim pada calon anak kita. Tidak boleh, paham?"


Aku mengangguk. Kuhela napas dalam-dalam sembari membuat jarak di antara wajah kami. "Kamu... kamu tidak termakan omongannya, kan? Kamu tidak meragukan aku?"


"Ngapain? Lagipula aku sudah kenyang. Mending aku makan kamu daripada makan omongan orang."


Uuuh... lucuuuuu... tapi garing!


"Kamu bercanda terus."


"Hmm... jangan sensi, Sayang. Ingat--"

__ADS_1


"Iya, Mas...! Aku akan menjaga emosiku."


"Bagus. Zahraku adalah sosok istri dan ibu yang bijak."


"Aku tahu. Tapi aku penasaran, dia tahu dari mana kalau aku hamil? Kamu ada bilang ke siapa gitu?"


Mas Ilham menggeleng. "Kan kita sudah sepakat kalau kita akan memberitahu keluarga kita secara langsung. Jadi aku tidak bilang ke siapa pun. Eh, sebentar, aku lupa bilang, ya, tadi waktu di apotek, waktu kamu ke toilet, aku ketemu temanmu. Itu, cewek yang kemarin ke sini."


"Iya, itu. Si Puspita, ya, namanya?"


Hmm... lagi-lagi aku menghela napas. "Kamu bilang apa ke dia?"


"Ya... kan dia tanya aku ngapain di sana. Ya mau tidak mau aku bilang kalau aku menemani istriku USG. Dia nanya lagi berapa minggu. Kujawab saja enam minggu. Tidak ada yang salah, kan?"

__ADS_1


Sesak, Tuhan. Aku sesak....


Dari Puspita, ke Mas Imam. Dari mana sambungannya, coba? Atau Puspita bicara pada orang lain, dan akhirnya menyebar hingga sampai ke telinga Mas Imam? Jangan-jangan... bahkan ini sudah menyebar ke kalangan masyarakat?


Tapi aku tahu Puspita tidak mungkin punya niat buruk terhadapku. Dia pasti sekadar bercerita tanpa memikirkan efek-efek buruknya. Begitu pula pada Mas Ilham. Aku tidak ingin mengomeli Mas Ilham. Aku juga tahu keadaanku yang merasa lelah di dalam. Capek dengan semua ujian dan fitnah. Aku cuma bisa menuangkan segala rasa nano-nano itu dalam tangis tanpa suara. Melesak.


"Kamu tidak salah. Takdir juga tidak salah. Yang menulis takdir juga tidak salah. Aku yang salah. Aku capek. Aku lelah. Aku... aku bosan dengan keadaan... dengan semua ini."


Mas Ilham mendekapku erat. "Istighfar," pintanya. "Aku tahu kamu perempuan yang kuat. Tapi aku tidak akan menasihatimu sekarang. Sebab percuma, apa pun nasihat terbaik yang harusnya kuucapkan saat ini, itu seakan percuma dalam keadaan sekarang. Lebih baik aku tidak usah menasihati seperti itu. Iya, kan? Yang penting aku percaya padamu, dan aku akan selalu di sini bersamamu. Kita hadapi semuanya bersama. Oke?"


Aku mengangguk. Benar. Yang penting Mas Ilham ada di sini bersamaku, dan percaya padaku sepenuhnya. Itu sudah cukup.


"Ehm, daripada kita memikirkan soal ini yang jelas bukan ibadah dan tidak ada faedahnya, mending kita bobo. Bobo tumpuk. Yuk?"

__ADS_1


__ADS_2